kabari flag 2
 
 
 Web  Majalah Kabari 
 
Amerika / Surat : Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama
Rate This Article:
0

Sebagai seorang pendeta, selain Firman Tuhan informasi merupakan bagian dari hidup saya. Dalam mengemban tanggung jawab sebagai seorang pemimpin rohani, saya lihat dengan jelas ada keterkaitan antara kehidupan sehari-hari dengan Firman Tuhan. Apalagi di jaman seperti ini, kalau saya sampai ketinggalan berita, maka Firman yang saya sampaikan akan out of date dan tidak menjawab tantangan dalam kehidupan jemaat.  

Bagi saya itu adalah prinsip. Karena jemaat bukan saja membutuhkan santapan  rohani, melainkan firman Tuhan yang juga mampu menjawab tantangan dalam kehidupan mereka.

Pada 28 Juli lalu, Tuhan ijinkan saya pergi ke Pensacola – Florida untuk menghadiri wisuda S2 anak ke dua saya. Usai acara saya tidak langsung pulang ke Indonesia, tapi tinggal sementara di Los Angeles, di rumah anak pertama saya yang bekerja sebagai Nurse UCLA Hospital di daerah Westwood, Santa Monica.

Sejak itulah saya mulai merasakan kehilangan berita mengenai Indonesia, apalagi saya  berencana tinggal satu bulan di Amerika. Terbiasa membaca koran atau majalah waktu di Indonesia, kini saya terpaksa  mengikuti informasi mengenai Indonesia dari internet. Namun hal itu pun terkendala karena notebook anak saya setiap hari dipakai untuk urusannya sendiri.

Selama berhari-hari saya benar-benar kehausan berita maupun informasi mengenai Indonesia. Apalagi selama di LA saya diajak jalan-jalan oleh anak pertama saya ke berbagai tempat. Saya sempat berkunjung kota Las Vegas, Grand Canyon, Sedona, serta ke tempat-tempat yang belum pernah saya pijak.

Suatu kali saya diajak makan ke sebuah restoran Chinese Food di daerah Arcadia dan di situ saya melihat ada “berita” mengenai Indonesia. Saya merasa menemukan setitik air di padang pasir. Tapi sayangnya saya merasa tidak ada sesuatu yang menarik dari berita-berita yang ada di dalamnya. Isinya tidak bervariasi serta mengarah kepada kelompok tertentu.

Terus terang saya bukanlah tipe elitis, di Indonesia saya biasa bergaul dengan berbagai kalangan. Tidak pandang latar belakang suku, ekonomi, atau agama.

Memang selama di Amerika, saya juga berkumpul dengan teman-teman Indonesia itupun hanya saya dapatkan ketika hari ibadah. Kebetulan suatu waktu saya diminta menyampaikan Firman Tuhan dalam persekutuan di Kantor KJRI di Downtown. Tentu saja saya senang karena berjumpa banyak orang Indonesia sehingga dapat saling bertukar cerita. Apalagi dalam persekutuan tersebut, ada orang-orang yang cukup dikenal di Indonesia, seperti Ibu Diana Nasution yang terkenal sebagai penyanyi rohani Kristen, bersama suaminya yaitu Bapak Minggus Tahittu serta Ibu Konjen RI Ibu Rika Wowor.

Kemudian suatu kali sepulang saya dari Solvang bersama rekan saya, saya diajak makan di rumah makan khas Indonesia bernama Chiky di daerah Duarte Inn. Di situlah saya menemukan majalah KABARI, dan tertarik pada pandangan pertama, dan ketika saya membuka-buka isinya. Wow.. saya bukan hanya tertarik, tapi jatuh cinta pada pandangan pertama, karena ternyata isinya bervariasi dan sesuai dengan kerinduan hati saya.

Selain berita, di dalamnya juga ada informasi menarik seperti kuis, informasi kesehatan, kisah hidup, penelaahan musik, bedah buku, film, parenting, jajanan,  kabar nusantara dan berbagai informasi mengenai obyek wisata,  sampai gosip selebriti.

Bagi saya, KABARI itu ibarat seorang wanita cantik asli Indonesia yang memiliki otak brilian, pandai bergaul dan tidak fanatisme, hal itu karena KABARI ternyata tidak canggung menyajikan berita mengenai berbagai komunitas agama, baik Nasrani, Islam, atau  agama  lain.  Artinya KABARI tidak mengandung SARA, melainkan merangkul semua umat, sehingga ke Bhineka Tunggal Ika-an yang sebagai falsafah Indonesia dijunjung tinggi.  

Tidak salah jika pada pandangan pertama saya langsung jatuh cinta, karena isinya memang berbeda dengan “temannya” yang saya temui di restoran Chinese Food di daerah Arcadia beberapa hari sebelumnya.

Sebagai seorang pemimpin yang bisa dipercaya, tentu saja saya akan merekomendasikan teman-teman yang ke Amerika, jika mereka ke restoran Indonesia atau ke outlet-outlet yang memungkinkan “kekasih” saya ini bisa ditemui, saya akan minta untuk mencari kekasih saya yang bernama KABARI ini.

Saya menemukan nuansa berbeda di  KABARI, kebersamaan sebagai seorang Indonesia yang berbangsa dan berbahasa satu yaitu Indonesia, sangat terasa. Bagaimana tidak, di Indonesia yang sering terjadi perbedaan pandangan dan saling curiga antara umat Nasrani dengan umat Islam tidak berlaku bagi “kekasih” saya yang baru ini.

Agama, budaya, suku,  dan warna kulit boleh berbeda, namun yang penting adalah Indonesia, demikian falsasah “kekasih” baru saya ini.

Setelah itu saya coba untuk menguji isi hati KABARI dengan masuk ke websitenya. Ternyata memang benar! Artinya KABARI bagaikan wanita Indonesia yang juga berhati mulia, yaitu jujur dalam memberikan informasi dan up to date.

Tutur bahasanya enak dibaca, dengan judul-judul yang membuat penasaran sehingga mampu memacu pembaca untuk membaca isinya. Kesimpulan saya, KABARI mampu menambah wacana bagi orang yang mau belajar dan suka membaca untuk menggali informasi.

Seperti kata pepatah, “Tak ada gading yang tak retak” tentu saja KABARI pun tidak bebas dari kekurangan. Namun sebagai kekasih tentu kekurangan yang ada tidak menjadi masalah, yang penting isi “hati”nya kan?

Dengan rasa cinta sebagaimana seorang kekasih, saya pun menyampaikan pesan tulus kepada KABARI. Jika memungkinkan agar kertas cover dibuat dari kertas yang beda, dengan sedikit diberi “bedak”, sehingga penampilanmu akan lebih trendi, ibarat gadis manis yang juga pandai bersolek, sebab penampilan itu menentukan pandangan pertama. Siapa tahu, makin banyak yang jatuh cinta padamu seperti yang saya alami ini.

Saya katakan rugi kalau sampai orang Indonesia di Amerika tidak mengikuti kehadiran KABARI setiap kali terbit, karena KABARI lebih hebat dari teman-temannya (saya kurang tahu ada berapa teman KABARI di Amerika ini). Namun bagi saya KABARI sudah luar biasa isinya.

Besok malam saya harus ke LAX Airport karena saya harus meninggalkan Amerika mengingat saya sudah satu bulan berada di sini. Dengan lambaian tangan, saya hanya bisa mengucapkan Selamat tinggal kekasihku. Kita boleh jauh di mata, namun tetap dekat di hati.

Kelak, apabila saya diijinkan Tuhan datang lagi ke Amerika, kita pasti berjumpa lagi. Mudah-mudahan ketika itu penampilanmu sudah trendi dan semakin banyak memikat hati orang.

Di Indonesia nanti aku akan tetap mencarimu dengan bantuan teknologi. Oh ya, pastinya saya akan cerita juga kepada teman-teman setibanya di Indonesia tentang dirimu.

Saya yakin cerita bahwa saya jatuh cinta padamu dan membuat mereka penasaran serta  ingin melirik dirimu.

Akhirnya dengan penuh pengharapan,  saya ucapkan selamat berkarya kekasih, doa saya menyertaimu, tetaplah semangat dalam menghadapi masalah dan tantangan hidup. Tataplah masa depan dengan penuh gairah dan jangan pernah menyerah.  

Apabila kesehatanmu terganggu, cobalah introspeksi diri, saya yakin dirimu akan mampu berkarya dan dapat diketahui oleh seluruh orang yang berasal dari Indonesia.

Amin.

Kiriman dari Pdt. Yakub Sulistyo, S.Th., MA

Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?33716

Untuk melihat Berita Amerika / Amerika / Surat lainnya, Klik disini

Klik disini untuk Forum Tanya Jawab

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

______________________________________________________

Supported by :

Post A Comment
* Indicates required information
Comment Title:
* Comments:
Nickname:
* Validation:
Comments 1 comments for this article
Added: September 21, 2009. 01:07 AM GMT
amazing words
nice comment

proudly be indonesian
bobby,pennsylvania propinsi diberkati
Google