Bagi Anda yang memiliki gemar berbelanja barang-barang dengan
merek ternama, mungkin ada baiknya bila dicoba mengunjungi pasar yang
satu ini.

Terletak di kawasan Jakarta Utara, nama Pasar Ular Plumpang sudah
sangat terkenal di mata para pecinta barang murah dengan merek terkenal.
Kualitasnya hampir sama dengan barang-barang yang ada di toko-toko dan
pusat perbelanjaan resmi. Untuk berbelanja di sini, jangan ragu untuk
menawar sesuka hati Anda, karena harga yang ditawarkan jauh di bawah
dari harga resminya.

Barang Spanyol

Kondisi Pasar Ular Plumpang memang terbilang cukup sederhana,
layaknya pasar tradisional pada umumnya, deretan kios-kios yang ada di
sini berdiri saling berhimpitan satu dengan lainnya. Bahkan nomor
kiosnya pun sangat sulit diketahui.

Dengan atap kios yang terbuat dari fiber dan tidak
dilengkapi dengan pendingin udara, para pembeli tetap ramai datang ke
pasar ini setiap harinya, terlebih lagi di akhir pekan. Maka disarankan,
jika ingin berbelanja lebih leluasa di sini, sebaiknya Anda datang
pada hari kerja.

Di lokasi ini segala keperluan mulai dari sepatu, celana, kaos,
kemeja, jaket kulit, kaca mata, jam tangan hingga minyak wangi merek
ternama dapat diperoleh di sini.

Harganya yang relatif jauh lebih murah sering kali disebut, bahwa
barang di sini adalah barang Spanyol, alias separuh ‘nyolong’. Anda
tidak perlu khawatir, karena kata itu hanyalah sebagai kiasan dari harga
murah yang ditawarkan, barangnya sendiri bukanlah barang colongan
melainkan barang-barang dari sisa ekspor.

Surganya barang murah


Namanya juga barang sisa ekspor, maka jangan heran bila saat memilih barang Anda akan menemukan sedikit cacat atau reject pada bagian barang tersebut. Maka untuk itu diperlukan ketelitian dalam membeli barang di sini.

Selain dikenal oleh masyarakat Jakarta dan sekitarnya, para turis
asing pun seringkali berkunjung ke lokasi ini untuk berburu barang
murah.

Pakpahan (49), salah seorang pedagang sepatu mengungkapkan, setiap
bulannya dia mampu mengumpulkan penghasilan hingga Rp 60 juta dari satu
kios miliknya.

” Barang di sini barang sisa ekspor, jadi harganya murah-murah. Yah paling ada _reject_nya dikit.” ucap Pakpahan.

Selain untuk digunakan sendiri, biasanya para pembeli yang datang ke
Pasar Ular Plumpang ini pun bertujuan memperdagangkan kembali barang
belanjaannya, sebab selain dijual dengan harga satuan, para pedagang di
sini sering juga menjual dengan harga jumlah besar, tergantung banyaknya
pembelian.

Pasar Ular sendiri sudah berdiri sejak tahun 1960-an. Pada awalnya,
pasar tersebut berada di Pasar Koja Lama, yang kini sudah berubah
fungsinya menjadi terminal peti kemas atau Jakarta International Container Terminal (JICT).

Dulunya, barang-barang yang dijual adalah barang-barang yang didapat
dari para anak buah kapal yang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok,
Jakarta Utara. Sambil mencari hiburan, para awak kapal ini menjual
barang-barang asal luar negeri ke para pedagang setempat secara gelap.

Dengan cara berdagang seperti itulah maka dinamakan Pasar Ular, karena tempat berdagangnya yang meliuk-liuk seperti ular.

Dewasa ini, pasar ular ada di dua lokasi, yakni di Jalan Yos Sudarso,
Permai, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Yang terkenal adalah Pasar Ular
Permai, dan satu lagi Pasar Ular Plumpang, yang jaraknya hanya sekitar
300 meter dari Depo Pertamina Plumpang.

Berbeda dari Pasar Ular Plumpang, di Pasar Ular Permai para
pedagangnya lebih banyak menjajakan barang pecah belah seperti keramik,
kristal dan gelas. Tapi ada juga pedagang tas dan barang elektronik
lainnya.

Menurut Pakpahan yang sudah hampir 12 tahun berdagang di situ, sekarang sudah ada sekitar 200 kios di Pasar Ular Plumpang.(arip)

Untuk share artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?36445

Untuk

melihat artikel Sana-Sini lainnya, Klik

di sini

Mohon beri nilai dan komentar di
bawah artikel ini

____________________________________________

Supported

by :

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.


9 − lima =