Eulogy ini di persembahkan hari Jumat yang lalu, 8 Januari 2010:

Menjelang era reformasi 1998, saya ikut diantara komunitas persaudaran lintasagama yang mendirikan tenda Tim Relawan untuk Kemanusiaan di kantor Pengurus Besar Nahdatul Ulama. Saya berjumpa dengan nahyidin muda yang mengisahkan kekaguman dalam rasa hormat pada sosok Abdulrrahman Wahid. Pengalaman awal saya dengan Gus Dur adalah melihatnya keluar masuk gedung PBNU dari tenda.

Dalam sebuah diskusi politik yang menghadirkan Gus Dur sebagai salah satu pembicara, saya berkesempatan duduk sebagai pendengar. “Saya sebagai bagian warga Nahyidin mohon maaf kepada paguyuban keluarga korban 1965. Kami terlibat, sebagian besar karena kebutaan politik, dalam pembantaian terhadap rakyat tak bersalah.”

Keberaniannya mengakui kesalahan Institusi NU di masa lalu menyingkap komitmen Islam sepanang masa untuk membela perikemanusiaan masyarrakat korban.

Pasca-tragedi Mei-Semanggi, bersama Tim Relawan untuk Kemanusiaan, kami menyelenggarakan aksi menuntut keadilan bagi pelanggar HAM. Gus Dur yang berhalangan hadir, memohon kesediaan Siti Sinta Nuriah, yang berjalan dengan bantuan kursi roda, untuk menghadiri aksi.Kepemimpinan Gus Dur yang peduli dengan perikemanusiaan korban berlanjut bahkan pascajabatan politik dan keagamaan. Di hati saya, bahkan di hati Gereja Katolik Indonesia, Gus Dur telah memberikan hidup secara penuh sebagai penjalin persaudaraan lintasagama demi Indonesia yang lebih berperikemanusiaan. Gus dur, Requiscat in Pace.

Mutiara Andalas, S.J.

Mahasiswa Program Doktoral di Jesuit School of Theology di Berkeley, California.

Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?34359

Untuk melihat Berita Amerika / Amerika / SF lainnya, Klik disini

Klik disini untuk Forum Tanya Jawab

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

______________________________________________________

Supported by :

About The Author

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.


× 5 = sepuluh