K-Video: ‘Republik Jengkol’, Kedai Olahan Serba Jengkol

 

Jengkol

Pernah makan jengkol?
Bulat gepeng, kulit tipis kecoklatan dan berbau. Inilah gambaran buah jengkol. Jenis buah polong-polongan yang mungkin tidak dimasukkan dalam daftar nama sayur,mungkin keberadaannya yang berbau itu. Sebab hanya kalangan tertentu yang mengkonsumsi jengkol sebagai bahan lauk untuk dimakan. Alasannya sederhana jika ditanyakan, kenapa tidak suka jengkol? Dengan spontan orang akan menjawab karena ‘bau’. Tidak hanya bau napas saja yang akan menggangu, tapi hasil pembuangan akhir pada air seni pun akan bau, jadi menimbulkan polusi udara yang sangat mengganggu penciuman, apalagi bagi mereka yang tidak ikut mengkonsumsinya.

Meski bau, jengkol merupakan salah satu makanan terkenal di Indonesia. Di beberapa daerah, jengkol sangat disukai, bahkan dijadikan menu favorit yang paling ditunggu. Umumnya jengkol disukai karena rasanya yang legit dan enak. Jengkol juga bisa diolah menjadi beberapa masakan khas Indonesia, diantaranya balado jengkol, semur jengkol, dan rendang jengkol, bahkan dilalap (dimakan mentah, red) atau digoreng garing, jengkol tetap nikmat disantap.

Si bau yang tetap dicari

Warung Jengkol

Aroma tak sedap jengkol bukan halangan bagi Fatoni untuk mendirikan kedai ‘Republik Jengkol’. Awalnya ia mengaku tak suka jengkol bahkan menghindarinya, tapi karena istrinya penggemar jengkol ia pun tertantang untuk mengolah jengkol jadi tidak berbau. Dan akhirnya ayah dua putra itu pun berhasil menyulap jengkol menjadi menu favorit yang disukai penggemar jengkol. Fatoni memiliki resep khusus untuk menghilangkan bau jengkol yang menyengat. Ia menggunakan bumbu dapur untuk menetralisir aroma tak sedap jengkol. Bumbu dapur atau rempah seperti jahe, daun salam, serai, lengkuas dicampur menjadi satu dengan jengkol dalam panci. Kurang lebih 1 jam jengkol direbus bersama rempah.

Dengan menu yang tak biasa, kedai milik Fatoni mulai ramai dikunjungi para penggemar jengkol. Tak hanya semur, balado dan rendang jengkol ia hadirkan, tapi ada banyak menu unik yang bisa bikin penasaran pelanggan, diantaranya mie ayam jengkol, tongseng jengkol dan nasi goreng jengkol. Agak aneh memang, karena bagaimana bisa jengkol dipadukan dengan masakan yang aslinya tidak ada campuran jengkolnya ? “Memang tidak biasa, jadi itulah seninya karena di sini jengkol bisa diolah menjadi banyak masakan termasuk dibuat tongseng. Boleh dicoba, tidak ada sedikitpun aroma jengkolnya” ujarnya pada Kabari.

Mie Jengkol & Tongseng Jengkol

Memang benar, semua olahan Fatoni tidak ada aroma jengkol sama sekali. Jengkolnya pun terasa legit dan enak, dipadukan dengan bumbu yang cukup pedas. Seperti mie ayam jengkol misalnya, mungkin hanya tersedia dikedai ini. Mie ayam tanpa kuah yang diberi irisan jengkol bumbu ayam cukup favorit di sini. Rasanya manis, pedas, dan bikin ketagihan. Untuk tongseng jengkol, Fatoni memang mencoba berkreasi dengan menu tradisional, ia menggunakan jengkol dan potongan daging sapi yang diolah dengan bumbu tongseng. Rasanya tidak kalah dengan tongseng pada umumnya, karena irisan jengkol sama sekali tidak mengganggu rasa, tidak terasa aromanya. Satu lagi menu yang cukup disukai pelanggan adalah nasi goreng jengkol. Fatoni mengolahnya sendiri, mulai dari mengiris bawang, cabai, daun bawang dan jengkol, sampai mengolahnya menjadi makanan yang lezat. Rasanya pas dengan porsi yang cukup banyak.

Usaha kuliner ini baru setahun dirintis Fatoni. Harga jengkol yang sempat tidak stabil pun tidak menyurutkan niat Fatoni untuk memperkenalkan jengkol lebih luas. “Jengkol pernah Rp 100.000 per kg, cabai pun mahal, tapi itu tidak membuat saya putus asa lalu bangkrut. Justru karena jengkol jadi mahal saya semakin percaya diri, jengkol jadi naik kelas karena bisa sekelas harga dengan daging sapi” kelakarnya.

Nasi Goreng Jengkol

Kendati harga jengkol sempat melonjak, Fatoni tak lantas menaikkan dagangannya. Harganya masih sama dan tetap diburu penggemar. Untuk satu porsi tongseng, Fatoni mematok harga Rp 20.000, mie ayam jengkol Rp 10.000, dan nasi goreng jengkol Rp 15.000. Sementara untuk olahan jengkol biasa, seperti rendang, semur dan balado jengkol, Rp 15.000 per porsi. Bagi yang tidak suka dengan jengkol, tak perlu khawatir karena kedai ini juga menyediakan soto Betawi dengan harga Rp 20.000.

Fatoni menamai kedainya ‘Republik Jengkol’, dimana ia menginginkan segala macam jenis olahan jengkol bisa ditemukan disini. Ia tidak ingin jengkol dipandang sebelah mata, karena dibalik aroma jengkol yang menyengat ada banyak manfaat yang berguna bagi kesehatan. “Jengkol itu menyehatkan, dan baik dikonsumsi karena bisa menurunkan risiko diabetes, sakit jantung dan gangguan ginjal. Jengkol juga baik untuk pencernaan, hal itu yang membuat saya tertarik mengolah jengkol”, papar pria yang hobinya melukis itu. Fatoni menambahkan, jengkol akan sangat baik jika dikonsumsi dengan wajar, karena terlalu banyak mengkonsumsi jengkol pun dapat menimbulkan dampak buruk, atau bisa terkena sakit jengkolan atau mabuk jengkol.

‘Republik Jengkol’ buka setiap hari mulai pukul 10.00 – 22.00 WIB. kedai ini berada di Jl Komodor Halim, Kebun Pala, Kampung Makasar, Jakarta Timur. Dalam waktu dekat, Fatoni ingin mencoba kreasi baru, yaitu pizza jengkol.

Untuk share artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?59171

Untuk melihat artikel Makanan lainnya, Klik disini

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

______________________________________________________

Supported by :

 

 

 

Comments