Awalnya tak pernah terpikirkan, barang bekas bisa menjadi
sumber pemasukan yang menguntungkan. “Jangan anggap remeh pemulung
sampah, karena dari situlah perputaran ekonomi kelas bawah berjalan”
papar Vicky (45) pria asal Manado itu.

Memulai bisnis dari nol, menjadikan bapak 3 anak ini tidak melupakan
masa-masa pahitnya. Hidup dikontrakan petak, dan sempat berkerja sebagai
‘dokter lampu’ dipelataran rumah, itu kegiatan yang setiap hari ia
jalani dulu. Pernah diusir karena tidak bisa membayar uang sewa
kontrakan selama 3 bulan, berjalan kaki sampai berkilo-kilo meter
mencari pesanan, sampai kehilangan sepeda yang disewanya pun pernah ia
alami. Tapi dibalik masa-masa sulit itu, Vicky bisa bangkit dan berusaha
memperbaiki kehidupan keluarganya. Dengan modal Rp 75.000, bisnis yang
kini ia jalani bisa menghasilkan ratusan ribu rupiah dalam sehari.

Rongsokan atau barang bekas bisa dijadikan uang dalam sekejap. Siapa
yang menyangka barang-barang yang sudah tidak terpakai itu punya nilai,
mulai dari besi-besi tua, gelas minuman dari plastik, lempengan CD,
barang-barang antik seperti lampu, lukisan, dan berbagai pajangan.

Vicky membeli barang-barang tersebut dari pemulung. Barang yang sudah
tidak terpakai itu biasanya didapatkan dari tempat-tempat sampah di
perumahan, dan jalan-jalan. Jika beruntung pemulung bisa juga
mendapatkan barang berharga seperti emas, perak, tembaga, bahkan telepon
selular, jam tangan bermerek, pulpen, tas, sepatu, kipas angin, kamera,
atau barang antik lainnya dengan kondisi baik. Semua barang itu
biasanya ia jual kembali kepada perorangan, atau ia setorkan ke pengepul
yang lebih besar.

“Barang saya jual lagi ke perorangan, atau ke bos penampung. Kalau apes
saya preteli dan mengambil komponen yang memang bisa dijual,
dikumpulkan, jadi uang. Semua barang rata-rata bisa dijual lagi,
tergantung kondisi,” ujarnya pada Kabari saat ikut serta berkeliling
lapak.

Waktu Adalah Uang

Meski setiap harinya harus berputar ke lapak-lapak pemulung, tapi
Vicky tidak pernah mengeluh. Ia begitu menikmati perjalanan masuk
kampung satu ke kampung satunya, bahkan dalam satu hari ia bisa
mendatangi lebih dari 40 lapak. Punya motto seperti orang Barat
‘waktu adalah uang’ sehingga ia bisa lebih disiplin memanfaatkan waktu.
Dimana ada kesempatan disitu ada jalan untuk mecari rejeki, sekalipun
hujan deras.

“Saya selalu siap mantel. Buat saya hujan adalah berkah, ketika
teman-teman seprofesi memilih untuk berteduh saya memanfaatkan keadaan
untuk berputar ke lapak. Puji Tuhan, selalu ada rejeki disana,”paparnya.

Delapan tahun sudah Vicky menjalani profesi sebagai pengepul loak,
hari-harinya ia habiskan untuk bertemu pemulung dan melakukan transaksi
jual beli loak. Bukan hanya keuntungan yang ia dapatkan dari tempat
kumuh itu, tapi pengalaman hidup yang berharga. “Saya berangkat dari
tidak punya apa-apa dan bisa mengumpulkan rupiah demi rupiah itu karena
saya berusaha dan mereka (pemulung) jadi mitra yang baik dalam
berbisnis”, imbuhnya.

Meski lelah, tapi bisnis ini begitu menjanjikan. Bagaimana tidak,
dalam sehari modalnya bisa kembali 2 kali lipat setelah dijual. Dari
barang yang ia dapatkan tidak semua dijual hari itu, sedikit demi
sedikit ia menimbun barang bekas di rumah. Vicky mengaku barang-barang
timbunannya itu adalah tabungan, disaat ia kehabisan modal barang-barang
bisa dijual dan menghasilkan uang.

“Ada banyak barang dirumah, paling dijual saat sudah terkumpul, jadi
hasilnya lumayan. Saya anggap itu sebagai tabungan, kalau lagi kehabisan
modal bisa jadi barang dadakan untuk dijual dan uangnya saya putar
lagi”,katanya.

Meski belum puas dengan hasil jerih payahnya, tapi kini Vicky mengaku
sedikit lebih lega karena ia bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Rasa
lelah pun jadi hilang, meski berangkat dari jam 09.00 pagi hingga tengah
malam, diakuinya semua demi keluarga.

“Capek sih, tapi kalau demi uang halal apapun jadinya senang. Saya
bisa mencukupi kebutuhan keluarga, bahkan istri saya kalau pulang
kampung sekarang naik pesawat”, katanya sambil tersenyum. (Pipit)

Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?37265

Untuk melihat artikel Kisah lainnya, Klik di sini

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

_____________________________________________________

Supported by :


About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.


− dua = 7