Muse in Jakarta

MUSE adalah band asal Inggris yang mempunyai ciri khas kuat, yakni aliran musiknya yang merupakan experimental rock. Campuran alternatif rock, progressif rock dan kini mempunyai ciri khas baru, yaitu electro metal. Band Muse yang terdiri dari Matthew Bellamy (vokalis, gitaris dan piano), Dominic Howard (drummer dan perkusi) dan Chris Woltenhome (bassis dan backing vocal) awalnya berdiri pada sekitar tahun 1990an.

Kemudian setelah melewati waktu-waktu sulit, band ini berhasil mengeluarkan album pertama berjudul Showbiz (1999). Album tersebut laku keras di pasaran dan terjual 500.000 kopi. Muse merupakan band yang mampu melipatgandakan pendengar. Pada tahun 2001, album Origin of Symmetry terjual satu juta kopi dan album ketiganya Absolution (2003) terjual hingga dua juta kopi. Benarbenar prestasi luar biasa yang mampu dicapai oleh sebuah band.

Di tahun ini Muse mengadakan tour ke Australia dan beberapa negara di Asia, antara lain Sydney, Melbourne, Singapura dan Indonesia. Adrie Subono, pimpinan promotor Java Musikindo yang mengundang Muse mengungkapkan kesulitannya dalam membujuk band ini agar mau tampil di Indonesia. Apalagi dengan bencana banjir yang baru-baru ini terjadi, membuat pihak Muse sempat ragu tampil di Indonesia. Namun Adrie berhasil meyakinkan Muse dan band itu pun setuju untuk tampil di Indonesia. “Membujuknya susah sekali. Butuh delapan bulan. Tapi akhirnya mereka mau juga tampil di Jakarta,” ucap Adrie dalam konferensi pers yang diadakan di Gerbera Room, Hotel Mulia, Jakarta Selatan, akhir Februari lalu.

Pukul tujuh malam, penonton mulai memadati arena konser. Terlihat beberapa artis Indonesia menghadiri konser ini, yaitu Ahmad Dhani, Ian Kasela, Audy, Tora Sudiro, Indra Birowo, Marcellino Lefrandt, Mulan Kwok dan VJ Cathy. Konser yang seharusnya pukul 20:00, akhirnya dimulai pada sekitar pukul 20:30. “Halo Jakarta,” itulah kata pertama yang diucapkan Matt, sapaan akrab Matthew Bellamy sang vokalis, ketika akan memulai konser.

Muse

Konser diawali dengan lagu Knight of Cydonia. Penonton festival bergoyang-goyang mengikuti irama. Penonton tribun yang awalnya duduk manis menjadi greget melihat penampilan Muse dan ikut berdiri layaknya penonton festival. Daerah tribun pun bergetar mengikuti penonton festival, yang berjingkrakan tanpa henti. Malam itu Istora Senayan betul-betul berguncang.

Konser Muse terasa begitu memukau. Penonton terkesima ketika melihat Matt, memainkan bagian piano solo pada lagu Hoodoo, Apocalypse Please dan Feeling Good. Terasa sentuhan karya pianis klasik era romantik Sergei Rachmaninoff dalam lagulagu Muse, membuat band ini mempunyai ciri khas yang kuat. Para fans juga begitu kompak. Mereka terus menyanyi di setiap lagu, terutama pada lagu “Starlight” mereka antusias dan ikut bertepuk tangan dalam mengiringi lagu.

Setelah memainkan lagu Starlight, mereka masuk ke balik panggung. Penonton dengan kompak langsung berteriak “We want more” berulangkali. Hingga akhirnya beberapa menit kemudian band ini keluar dan kembali memainkan lagu-lagunya. Muse benar-benar spektakuler. Hanya beristirahat beberapa menit, mereka mampu membawakan 17 lagu nonstop.

Seorang fans mengaku mengidolakan Muse sejak pertama mengeluarkan album di tahun 1999. Namun agak susah untuk mencari album tersebut karena Muse masih belum dikenal di Indonesia. Tetapi sekarang hal itu berbeda. Saat ini album keempat Muse Black Hole & Revelations cukup laris di pasaran. Hal ini terlihat karena di beberapa toko kaset album keempat tersebut habis terjual. (chika)

______________________________________________________

Supported by :

                                                        April Financial

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.


dua + 4 =