Kristus dan Perjuangan HAM
Kristus dan Perjuangan HAM
Bob Jokiman *)
Kristus dan Perjuangan HAM
Bob Jokiman *)
Apakah dalam hidup-Nya ketika di dunia ini Yesus turut mengambil bahagian dalam perjuangan HAM (Hak Azasi Manusia)? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, baiklah kita menelaah apa yang dikatakan hak azasi manusia itu menurut Deklarasi Universal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dalam beberapa pasal berikut:
”Semua mahluk manusia dilahirkan secara bebas dan memiliki martabat dan hak yang sama. Mereka mempunyai kenalaran (reason) dan kesadaran (conscience) dan kewajiban untuk bertindak antara yang satu dan lainnya dalam semangat persaudaraan”(Pasal 1)
.
”Semua individu berhak untuk hidup, untuk menikmati kebebasan dan keamanan bagi pribadinya.” (Pasal 3)
“Tidak seorang pun boleh disiksa (torture) atau mendapat hukuman dan perlakuan yang kejam, tidak berperikemanusiaan dan merendahkan martabat manusia (cruel, inhuman or degrading treatment).” (Pasal 5)
“Semua orang mempunyai kedudukan yang sama di depan hukum, dan tanpa kecuali berhak untuk mendapat perlindungan hukum yang sama. Semua orang berhak untuk mendapat perlindungan terhadap diskriminasi apa pun yang melanggar Deklarasi ini dan juga terhadap semua hasutan yang menganjurkan diskriminasi itu.” (Pasal 7)
“Seorang pun tidak boleh secara sewenang-wenang ditangkap, ditahan atau disingkirkan.” (Pasal 9)
“Semua orang berhak, dalam kedudukan yang sama, untuk menuntut agar urusannya bisa diperiksa secara adil dan secara terbuka oleh pengadilan yang bebas dan imparsial (tidak memihak) untuk menentukan hak dan kewajibannya, atau memeriksa semua dakwaan pelanggaran kriminal yang ditujukan kepadanya.” (Pasal 10)
Jika kita memperhatikan beberapa pasal di atas maka dengan tanpa ragu kita dapat menjawab :”Ya, Yesus dalam hidup-Nya di bumi ini turut mengambil bahagian dalam perjuangan HAM!” Salah satu peristiwa di mana Yesus membela hak azasi seorang anak manusia yang tak berdaya dan secara sewenang-wenang ditangkap serta hendak dijatuhi hukuman dan perlakuan yang kejam, tidak berperikemanusiaan dan merendahkan martabat manusia adalah yang dicatat oleh penginjil Yohanes, sebagai berikut.
“Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepadaNya. Ia duduk dan mengajar mereka. Musa dalam hukum Taurat, memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapatMu tentang hal itu’?" Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkanNya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepadaNya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (Yohanes 8:2-11)Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepadaNya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
Yesus membela wanita tersebut karena Ia melihat bahwa para ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah melakukan diskrimanasi dalam penangkapan maupun tuduhan mereka. Coba kita simak tuduhan mereka:”Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.” Perhatikan, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.” Jikalau sungguh benar perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.” maka perlu dipertanyakan dimanakah sang lelakinya? Karena mustahil orang berbuat berbuat zinah hanya seorang diri saja! Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menganggap dirinya menjunjung hukum Taurat itu secara terang-terangnya telah melakukan diskriminasi gender, melecehkan kaum wanita! Dan itu dibela oleh Yesus. Karena dihadapan Allah maupun hukum kedudukan manusia adalah sama:” Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:28) Bahkan Alkitab mengatakan bahwa semuanya lelaki maupun wanita, tua dan muda, Yahudi maupun bukan Yahudi; Amerika, Indonesia, Tionghoa, India dan sebagainya adalah berdosa dihadapan Allah! Semuanya membutuhkan kemurahan dan kasih karunia Allah untuk diselamatkan:”Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3:23-24
Berikut, Yesus membela wanita tersebut karena Ia yakin bahwa semua individu berhak untuk hidup, untuk menikmati kebebasan dan keamanan bagi pribadinya. Itulah sebabnya Yesus menantang para ahli Taurat dan orang-orang Farisi :"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Tantangan Yesus tersebut adalah untuk menggugah hati nurani para penuduh, pemimpin agama dan orang-orang yang menyaksikan peristiwa tersebut. Itulah perjuangan hak azasi manusia, keberanian bersuara untuk menggugah hati nurani bangsa dan penguasa. Itulah juga yang harus kita lakukan sebagai pengikut-pengikut Kristus agar kejahatan tidak makin merajalela di bumi ini seperti yang diungkapkan oleh Martin Luther King Jr., pejuang hak-hak sipil kaum kulit hitam di Amerika:"The ultimate tragedy is not the oppression and cruelty by the bad people but the silence over that by
the good people." Jika anda menganggap diri adalah orang yang baik, orang yang beragama, orang yang berhati nurani, maka anda tidak boleh berdiam diri atau acuh melihat kejahatan atau kekejaman terhadap kemanusiaan yang terjadi disekitar anda. Karena jikalau anda berdiam diri maka itu adalah suatu tragedi!
Selanjutnya, Yesus membela wanita tersebut karena Ia percaya bahwa semua orang mempunyai kedudukan yang sama di depan hukum, dan tanpa kecuali berhak untuk mendapat perlindungan hukum yang sama. Yesus berkata:"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Bukan berarti bahwa Yesus menentang atau menolak hukum Musa atau Taurat itu, sebab
Ia sendiri berkata:”Janganlah kamu menyangka, bahwaAku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakanya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5: 17) Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu menyalah-gunakan Hukum Musa dan Taurat bukan saja untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya tetapi juga untuk menghukum mati wanita yang tak berdaya tersebut. Seharusnya mereka menyadari bahwa semua orang berhak, dalam kedudukan yang sama, untuk menuntut agar perkaranya bisa diperiksa secara adil dan secara terbuka oleh pengadilan yang bebas dan tidak memihak untuk menentukan hak dan kewajibannya, atau memeriksa semua dakwaan pelanggaran yang ditujukan kepadanya! Tantangan Yesus tersebut adalah agar mereka juga mengadili diri sendiri dengan hukum yang sama. Banyak penafsir Alkitab mengatakan bahwa yang ditulis Yesus dengan jarinya di tanah itu adalah Sepuluh Hukum Allah, yang diantaranya berbunyi:”Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” (Hukum IX – Keluaran 20:16) Hingga tidak heran setelah membacanya, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Menghadapi pengadilan yang tidak adil dari para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, Yesus telah mengatakan apa yang benar dengan benar. Itu jugalah yang harus kita lakukan sebagai orang-orang percaya di tengah dunia yang penuh dengan ketidak-adilan ini! Karena kalau kita tidak berani mengatakan apa yang benar dengan benar maka kejahatan akan menang, seperti kata Edmund Burke (1729-1797):”The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing" Kita harus mempunyai tekad seperti Rasul Paulus yang berkata:”Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?" (Galatia 4:16)
Akhirnya setelah semua orang itu pergi Yesus bertanya kepada wanita itu:"Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Yesus berkata demikian kepada wanita tersebut karena memahami bahwa semua mahluk manusia dilahirkan secara bebas dan memiliki martabat dan hak yang sama. Mereka mempunyai kenalaran dan kesadaran serta kewajiban untuk bertindak antara yang satu dan lainnya dalam semangat persaudaraan serta semua individu berhak untuk hidup, untuk menikmati kebebasan dan keamanan bagi pribadinya. Namun diatas semuanya itu Yesus mau membela hak azasi wanita tersebut adalah karena Yesus mengasihi wanita tersebut dengan kasih agape, kasih ilahi, kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, kasih yang tidak bersyarat, tidak menuntut, tidak menghakimi dan tidak terbatas. Ditengah dunia di mana ”kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” (Matius 24:12), umat manusia di sekitar kita membutuhkan kasih Kristus, kasih agape, kasih yang mau membela hak azasi mereka yang lemah dan tak berdaya, agar Kerajaan Allah dinyatakan dibumi ini, seperti doa yang diajarkan Tuhan:”Datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga.” Soli Deo Gloria!
*) Penulis adalah Gembala Sidang Agape Evangelical Church Arcadia, California.
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0712/15/opi03.html
Comments