Entah mulai kapan persisnya muncul pemahaman, Jazz identik dengan ekslusifitas. Padahal kalau kita tengok bagaimana musik ini berakar, ujungnya justru berasal dari tradisi musik kaum yang tertindas dan terdikriminasi, yakni masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat. Dipengaruhi oleh berbagai alat musik leluhur mereka di Afrika, seperti tribal drums, dahulu musik menjadi semacam ‘jeritan’ hati kaum Afro Amerika.

Dari sedikit cerita itu terlihat bagaimana jazz bermula. Dan rasanya jadi ‘tak adil’ bukan, jika kita mensterotipkan jazz sebagai musik kelas atas, ekslusif atau musiknya kaum ‘gedongan’. Sebaliknya, tak elok juga jika kemudian penggemar Jazz merasa dirinya lebih eksklusif dari penggemar musik lain, dangdut misalnya.

Tapi ada juga yang memaknainya begini, jazz itu musik yang abstrak, rumit, berat dan agak sulit dicerna, sehingga hanya orang-orang tertentu yang bisa menikmatinya.

Terlepas apapun itu, stigma jazz musik ekslusif memang kadung melekat. Apalagi simbol-simbol kemapanan yang mendukung itu masih terlihat disana-sini. Tapi tinggal terserah kita sendiri bagaimana merayakannya. Toh musik sejatinya memang sebuah perayaan, perayaan akan ekspresi jiwa.

Java Jazz Festival Dari Tahun ke Tahun 

Sesuai namanya, sejak awal hajat musik bertaraf internasional ini memang disuguhkan dalam bentuk festival. Tujuannya satu, agar keberagaman jazz terakamodir. Seperti kita tahu, dalam jazz kemudian muncul berbagai aliran baru.

Dengan setting puluhan panggung, ratusan artis dalam dan luar negeri. Tujuan itu bagai tak berhalang. Melaju mulus. Penonton disuguhi aksi para penampil dari bermacam ‘anakan’ jazz. Ada Swing, folk jazz, hard bop, cool jazz, bebop. Ada juga penapil dari genre musik lain sperti R&B, Soul, dan Hiphop, pokoknya semua komplit! Tiket seharga ratusan ribu pun seakan tak berarti.

Pada tahun pertama penyelenggaraannya, perhelatan ini sudah membawa beban berat. yakni bagaimana menghadirkan konser jazz dengan rasa ‘merakyat’. Pada waktu itu, selain alasan untuk menghidupkan perayaan jazz, penyelenggaraan Java Jazz boleh dibilang sekaligus test case. Dalam bahasa bisnis kira-kira bunyinya, laku gak ya?
Di tahun pertama penyelenggaraan, panitia begitu ketat menyeleksi penampil-penampil yang akan muncul. Selain mesti beraliran musik jazz, minimal musik para penampil itu ‘nyangkut’ banyak jazz.

Hasilnya, penyelenggaran tahun pertama itu bisa dikatakan sukses dari segi perayaan, tapi gagal–kalau dibilang tidak untung—dari segi bisnis.
Tahun kedua hampir mirip kondisinya seperti tahun pertama, tapi jumlah penampil diperbanyak, konsep dipermatang, sponsor semakin banyak. Dan hasilnya mulai kelihatan, animo masyarakat menonton konser jazz semakin tinggi.

Di tahun ketiga mulai terlihat ada beberapa perubahan signifikan.Salah satunya promosi gencar lewat aksi Java jazz On The Move (JJOTM) yang menyasar pelbagi tempat di Jakarta. JJOTM sendiri semacam pre-launch menampilkan artis-artis lokal yang bakal manggung di Java Jazz. Meski sudah ada sejak tahun 2005, JJOT benar-benar digeber pada tahun ketiga.

Dari segi kinerja, tata laksana panitia juga semakin solid dan rapi. Promosi kian gencar. Booth-booth sponsor juga juga mulai berjamur, berdesakan dengan puluhan panggung. Konsep special show yang memang sudah ada sejak awal dan punya daya jual tinggi, tetap dipertahankan. Tercatat sejak tahun 2005, para penampil di special show cukup menarik penonton dengan jumlah signifikan. Di tahun tahun 2005 ada Earth Wind and Fire Experience, Incognito, James Brown. Lalu tahun 2006 james Brown hadir lagi bersama Buby Chen dan Eric Benet. Tahun 2007 ada Sergio Mendez, Jamie Cullum dan Chaka Khan. Tahun 2008 ada Baby Face, Incognito, dan James Ingram. Sementara tahun ini Java Jazz menampilkan musisi seperti Jason Mraz, Matt Bianco, Brian McKnight, dan Dianne Reeves.

Dari lima kali penyelenggaraan, sejak penyelenggaraan ketiga tahun 2007-lah mulai terlihat nyata antusiasme masyarakat jazz Indonesia. Konon, sponsor saja sampai berebut. Jumlah pengunjung merangkak menjadi diatas 40 ribu orang selama tiga hari acara. Sejak itu, secara bisnis, setidaknya Java Jazz sudah bisa menghidupi dirinya sendiri.

Tahun 2008, perencanaan dengan skala luas dan penuh mulai dilakukan pihak penyelenggara, musisi dari bermacam basis musik tampil. Daya gebraknya begitu terasa, bahkan sejak tahun itu mulai tumbuh istilah di kalangan anak muda, “Gak gaul kalau enggak nonton Java Jazz”.

Dipercaya sejak tahun itulah, nonton java jazz bukan lagi menjadi sekedar merayakan musik, tetapi juga ‘gengsi’. Maka wajar saja ada anggapan acara java jazz–terutama tiga tahun terakhir–menjadi milik kaum muda.

Pemandangan anak muda atau ABG dengan gaya pakaian yang gaul dan funky, tak lupa sembari menggenggam ponsel keluaran terbaru, menjadi pemandangan yang umum. Di tahun 2008 itu, jumlah pengunjung mencapai 69.000 orang!

Dari sejak pagelarannya, jumlah penonton Java Jazz terus meningkat. Tahun 2005 berjumlah  47.500 orang,  lalu tahun  2006 sebanyak 52.200 orang. Tahun 2007 sebanyak 60.500 pengunjung dan tahun 2008 sebanyak  69.000 orang.  Diperkirakan sementara, tahun ini melebihi 80.000 pengunjung.

Photobucket

Java Jazz Festival 2009

Memasuki kawasan Jakarta Convention Centre di Senayan Sabtu lalu, tak terbayang sebelumnya bahwa suasana begitu padat. Dari sejak pintu masuk kawasan Senayan hingga menuju area JHCC, ratusan mobil dan motor sudah mengantri. Antrian juga tampak mengular hingga sepanjang halaman JHCC. Sesak sekali.

Pengunjung Java Jazz Festival 2009

Seperti tahun sebelumnya, bagi pemegang ID Card khusus seperti pengisi acara harus masuk melalui pemindai otomatis di pintu utama. Kode barcode di ID Card di ‘tembak’ dengan pemindai, lalu munculah wajah pemilik ID Card di layar monitor. Beberapa detik, petugas memeriksa, jika sesuai, dipersilakan masuk. Untuk pengunjung biasa, tak ada pemindaian barcode, cukup antri beli tiket lalu periksa barang bawaan, baru bisa masuk.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, begitu masuk pengunjung disambut dengan beberapa booth sponsor yang sebetulnya mengganggu mobilitas pengunjung. Maklum jumlah pengunjung luar biasa banyaknya. Lalu bagi pengunjung yang tak pegang rundown acara, silakan bingung mau ke panggung yang mana terlebih dahulu. Karena suasana mendekati crowded . Beberapa ratus meter kemudian–itupun kalau kita jeli–barulah kita menemukan sebuah Official TV yang menayangkan jam, musisi serta dipanggung mana mereka tampil. Dengan 70 show dalam sehari, kita memang harus pandai-pandai memilih, jenis tontonan mana yang mau disambangi.

Tahun ini, pihak panitia menyediakan satu stage baru yakni world music stage. Sayang meski menampilkan musisi dari Timur Tengah dan Jepang, stage itu relatif sepi penonton. Dari segi suguhan, Java Jazz kali ini terbilang komplit, sangat komplit bahkan.

Tapi dsinilah letak persoalannya. Yang mengatakan komplit adalah representasi dari rasa kepuasan mereka atas suguhan java Jazz kali ini, sementara yang mengatakan sangat komplit sebenarnya sindiran yang justru berarti sebaliknya, yakni kecewa.

javajazz2

Ada sebagian penonton memang yang tak peduli dan tak mau repot bicara soal Jazz atau bukan jazz. Mereka bergoyang dan tetap merasa asyik. Tapi ada juga yang ‘kritis’, yakni mereka yang mengaku penggemar berat musik jazz dan sejak tahun pertama festival selalu datang.

Di mata mereka, konsep festival musik ini sudah melenceng.”Sudah enggak asyik mas, enggak kayak dulu, setiap tahun saya datang, tapi kali kok kelihatan aneh, masak dibarengi sama pameran segala, kalau cuma booth sponsor sih enggak apa-apa.” protes Ryan, salah satu penggemar jazz.

Dewi, kawan Ryan juga mengatakan hal sama. “Jenis musik yang diusung juga pop mainstream banget. Saya bingung kenapa RAN, Vidi, bahkan Slank yang hadir di acara ini”. Pernyataan di atas bukan bermaksud mengucilkan band-band yang disebutkan, melainkan sedikit protes dari penggemar jazz yang merasa Java Jazz kurang mengusung genre jazz itu sendiri.

Vera, salah satu pengunjung setia Java Jazz protes karena justru pemain Jazz ternama tampil di ruangan yang penontonnya terbatas, tidak sebesar di Exhibition Hall atau Plenary Hall. Tahun ini pengunjung semakin meningkat, tetapi yang datang bukanlah penggemar jazz tulen, melainkan pengikut mainstream.

Seperti yang diungkapkan panitia bahwa tahun depan Java Jazz akan menghadirkan Santana, yang jelas-jelas bukan aliran jazz. “Penontonnya pasti akan banyak karena Santana mempunya massa sendiri, tetapi ini bukan jazz.” begitulah sejumput protes dari pengunjung. Maka tidak salah kalau beberapa orang berkesimpulan Java Jazz dari tahun ketahun semakin pudar esensi Jazz-nya. Kira-kira seperti apakah Java Jazz yang akan datang? Kita tunggu saja Java Jazz 2010 yang akan digelar di JIExpo Kemayoran nanti. 

Soal rencana pindah ke Kemayoran, apakah nanti tidak menganggu eksklusifitas perhelatan ini? Soalnya selama ini, area JHCC bisa dibilang ‘hot spot’nya orang-orang berduit dan terletak di jantung kota Jakarta.

Terlepas mau dibikin ekslusif atau tidak. Tak ada salahnya kita kembali lagi ke akar sejarah Jazz. Jazz itu milik semua!

Dan untuk itu, terus terang ucapan salut dan acungan jempol patut diberikan kepada sosok Peter F Gontha yang memimpin timnya lewat PT. Java Festival Production, hingga Java Jazz terus bisa digelar.

Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?32779

Untuk melihat Berita Indonesia / Musik lainnya, Klik disini

Klik disini untuk Forum Tanya Jawab

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

______________________________________________________

Supported by :

Photobucket

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.


− dua = 3