Terlahir tanpa memiliki kaki,
Sidik selalu menjawab  “Alhamdulillah
sejak lahir saya sudah begini” jika ditanya perihal cacat di tubuhnya. Sidik
adalah anak keenam dari sepuluh bersaudara. Keluarganya tergolong miskin dan
untuk menghidupi keluarga, orangtua Sidik hanya mengandalkan warung kecil di
depan rumahnya di Bogor.

Ketika akan melahirkan Sidik,
Ibunya pernah mimpi bahwa ia akan melahirkan anak cacat. Namun anak cacat itu
akan membawa berkah dalam keluarga. “Alhamdulillah, tak lama setelah saya lahir,
kata almarhumah Ibu, Ayah saya langsung mendapat pekerjaan tetap, sehingga bisa
membiayai pendidikan seluruh anak-anaknya hingga SMA.” kata Sidik di rumahnya
yang sederhana di bilangan Cempaka Putih.

Sidik memang lahir dengan kondisi
yang memprihatinkan, ia tak memiliki kedua kaki mulai dari pangkal paha.
Sehingga boleh dibilang tubuhnya hanya separuh. Sebelum menggunakan kursi roda,
ia mengayunkan dua tangan guna menyeret tubuhnya untuk berjalan.

Kabari Profil, September 2008

Meski tubuhnya tak sempurna,
sejak kecil Sidik tak pernah mau merepotkan orang. Ia selalu berusaha melakukan
semua aktivitasnya sendiri. Ia juga tak mau dipapah atau digendong, “Saya tak
mau dikasihani orang, saya ingin sukses bukan karena orang kasihan pada saya,
tetapi karena kerja keras saya.” katanya lugas.

Pada tahun 1992, Sidik menikah
dengan Siti Rahmah yang juga penyandang cacat. Dari perkawinan mereka lahirlah
tiga anak perempuan yang sehat dan normal. Belakangan anak kedua mereka
meninggal dunia karena kecelakaan.

Setelah bertahun-tahun bekerja di
Yayasan Swa Prasidya Purna tapi tak menghasilkan materi berarti, Sidik memilih
keluar dan mencari pekerjaan lain. Dengan bekal ijazah diplomanya, ia diterima
di sebuah perusahaan kontraktor sebagai staf personalia. Tapi belum lama ia
bekerja, krisis moneter 98 menghantam dan perusahaannya terpaksa tutup. Maka
dimulailah periode Sidik menjadi pengangguran. 
Tapi ia tak mau lama-lama menganggur, Sidik mulai mengikuti berbagai
kursus keterampilan yang diadakan oleh Pemda DKI untuk penyandang cacat. Salah
satu kursus yang memikat perhatian Sidik ialah kursus membuat kerupuk dari
singkong.

“Dari belasan orang peserta
kursus, hanya saya satu-satunya orang yang masih bertahan membuat kerupuk
sampai sekarang. Yang lain, tumbang.” ujar Sidik.

Kabari Profil, September 2008

Modalnya ketika itu sumbangan dari
Pemda DKI sebesar satu juta rupiah. Bersama istrinya Sidik kemudian memulai
usaha membuat kerupuk dari singkong. “Dulu belum ada merek, plastiknya
pembungkusnya masih polos.” katanya. Pada awal produksi ia  memproduksi sekitar 100 bungkus kerupuk berukuran
2 ons dari bahan baku
singkong 10 kilogram. “Namanya juga pertama, kerupuk dagangan saya baru habis setelah
sebulan lebih.” katanya mengenang.

Prosesnya pembuatan kerupuk
singkong terbilang lebih rumit dibanding membuat keripik singkong. Jika membuat
keripik singkong cukup dengan memotong-motong batang singkong menjadi irisan
tipis lalu digoreng dan selesai. Membuat kerupuk singkong prosesnya adalah
singkong yang sudah dikupas kemudian diparut, parutan itu lalu dibuat menjadi
adonan dengan mencampur berbagai bumbu rasa dan sedikit tepung. Setelah itu
adonan dibentuk kembali menjadi seperti batang singkong dan  dijemur. Setelah adonan sedikit liat, adonan
kemudian diiris tipis-tipis. Irisan itu tidak langsung digoreng, tetapi kembali
dijemur sekitar dua hari agar kering. Setelah kering, irisan kerupuk singkong
baru digoreng.

Dari hanya mengolah 10 kilogram
singkong, kini Sidik mengolah sedikitnya 50 hingga 100 kilogram singkong setiap
bulannya. Ia juga sudah punya merek lengkap dengan cap di pembungkus produknya.
“Saya beri nama merek Cap Gurame, ini sama sekali tak ada hubungannya sama ikan
gurame, tetapi gurame adalah singkatan dari Gurih, Renyah, Enak,” katanya
tersenyum. “Kalau nanti ada biaya, merek ini saya mau patenkan.” tambahnya. 

Semua pekerjaan produksi dari
mulai membeli singkong hingga memasarkannya ia kerjakan sendiri dibantu
istrinya. Setiap hari ia keluar masuk kampung menawarkan kerupuk daganganya ke
warung-warung atau koperasi-koperasi di kantor pemerintahan. “Saya menggunakan
sistem konsinyasi atau titip jual, harga dari saya empat ribu, terserah mereka
menjualnya berapa, tapi bisanya mereka jual lima ribu rupiah.” kata Sidik.

Dari usaha yang ditekuni sejak
tahun 1999 ini, memang belum terlalu banyak menghasilkan materi. Sidik masih
tinggal di gedung bekas tempatnya bekerja di bilangan Cempaka Putih, Jakarta
Pusat. Rumahnya pun hanya terdiri dari tiga petak yang disekat papan tripleks
termasuk di dalamnya ruang produksi kerupuk “Cap gurame” tersebut.

Beruntung ada seorang pengusaha
lokal yang melihat kegigihan Sidik dan akhirnya menyumbangkan sebuah sepeda motor
untuk operasional usaha. “Namanya juga tidak punya kaki, saya sempat bingung
juga, bagaimana mengendarainya?” Tapi Sidik tak kehilangan akal, ia mendesain
motornya agar tuas perseneling dapat dioperasikan dengan tangan. Dengan bantuan
tukang las, jadilah sebuah motor dengan tongkat besi tambahan yang ditempel di
perseneling dan injakan rem. Tak lupa ia juga menempelkan  gerobak disampingnya untuk mengangkut muatan.
“Motor itu benar-benar membantu mobilitas dan produktivitas usaha saya.” ujar
Sidik.

Saat ini Sidik terus
mengembangkan pemasaran produknya, setiap hari ia masih berkeliling ke
koperasi-koperasi atau warung di seluruh pelosok Ibukota. Bahkan saat Kabari
mewancarainya, dua kali telepon selularnya berbunyi dari orang yang meminta
agar pasokan kerupuk “Cap Gurame” segera dikirim.   

Namun dalam menjalankan usahanya
ini, Sidik juga mengalami berbagai kendala, seperti modal dan permintaan yang
terbatas. “Saya ingin sekali mendapat tambahan modal, atau minimal ada orang
yang mau menjadi mitra usaha untuk mengembangkan bisnis ini. Saya punya mimpi
suatu saat kerupuk saya ini dimakan sama orang Amerika.” ujarnya.

Sidik juga mengaku kesulitan
memasok produknya ke pasar modern seperti supermarket atau hipermaket. “Wah
selain bentuknya mesti perseroan, mereka (para pengelola pasar modern-red) juga
meminta deposit uang mas, jelas kalah sainganlah saya” kata Sidik lugas.

Kalau soal rasa, kerupuk “Cap
Gurame” memang gurih dan renyah. Rasanya yang campuran pedas dan asin cocok
dinikmati sebagai cemilan atau sebagai lauk.

Kini, dari hasil usahanya Sidik
mengantungi keuntungan berkisar 1 sampai 2 juta rupiah perbulan. Meski jumlahnya
kecil, apa yang diperbuat Sidik termasuk luar biasa.  Dengan keadaan yang terbatas, ia menjadi entrepreuner sejati.  Meminjam rumusnya Pak Ciputra, pengusaha dan
dosen mata kuliah enterpreunership,
bahwa Indonesia membutuhkan sedikitnya 20 persen penduduknya menjadi entepreuner, barulah menjadi negara
makmur, maka Sidik telah memulainya bertahun-tahun lalu. Jika benar apa kata
Pak Ciputra, maka jelaslah Indonesia
membutuhkan orang-orang gigih seperti Sidik.

Klik Video Disini

Klik Disini untuk Baca Artikel ini di Majalah Kabari September 2008 ( E-Magazine )

Untuk Share Artikel ini, Silakan Klik www.KabariNews.com/?31939

Mohon Beri Nilai dan Komentar di bawah Artikel ini

______________________________________________________

Supported by :

Photobucket

About The Author

13 Responses

  1. Rio

    terima kasih bapak sidik saya sangat terharu dengan kisah hidup bapak yg bisa menginspirasi bagi para penyandang cacat lainnya bahkan manusia normal seperti saya . . .

    semoga Allah melancarkan Rizki bapak dan keluarga amiiinnnn. . . .

    saya salut sekali. . .

    Balas

Leave a Reply

Your email address will not be published.


8 − enam =