Dr. Taruna Ikrar
(University of California, School of Medicine, Irvine, CA, USA)

Malaria merupakan penyakit infeksi yang ditularkan dengan
perantaraan nyamuk anopheles. Penyakit ini, telah berkembang secara
sporadik keseluruh penjuruh dunia, dan berdasarkan sejarah malaria telah
menjangkiti manusia selama lebih 5000 tahun. Seperti dilaporkan, bahwa
di Tiongkok pada 2700 SM, ditemukan penderita demam berkala yang
gejalanya seperti demam malaria.

Setiap tahun, penyakit malaria menjangkiti lebih dari 225 juta jiwa
penduduk dunia, dan 781.000 orang diantaranya meninggal dunia. Karena
penyakit ini ditularkan dari manusia yang sakit ke orang yang sehat
lewat perantaraan nyamuk. Maka sangat sulit dicegah atau dimusnahkan
dari bumi ini, selama vektor perantaranya, yaitu nyamuk anopheles masih hidup.

(Gambar 1: Nyamuk anopheles, yang merupakan vektor penyakit Malaria)

Dewasa ini, sebuah harapan pencegahan malaria dengan menggunakan
vaksin akan terealisasi dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. Karena
vaksin anti Malaria ini telah dicoba dengan menggunakan uji klinis pada
manusia. Vaksin ini dapat digunakan untuk menghambat siklus spora
parasit malaria yang merupakan protein yang secara konsisten menunjukkan
perlindungan terhadap malaria Plasmodium falciparum (circumsporozoite).

Mekanisme Penularan Malaria

Malaria adalah penyakit menular yang ditularkan oleh nyamuk ke manusia dan hewan lain yang disebabkan oleh protista eukariotik sejenis plasmodium. Infeksi parasit yang berupa plasmodium
dalam sel darah merah, menyebabkan gejala yang biasanya ditandai demam
dan sakit kepala, bahkan pada kasus yang berat hingga koma atau
kematian. Penyakit ini tersebar luas di daerah tropis dan subtropis,
termasuk banyak dari Sub-Sahara Afrika, Asia, dan Amerika.

Lima spesies Plasmodium yang dapat menginfeksi dan ditularkan oleh
manusia. Penyakit berat ini sebagian besar disebabkan oleh Plasmodium
falciparum sementara penyakit yang disebabkan oleh Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, dan malaria Plasmodium umumnya merupakan penyakit ringan yang jarang berakibat fatal.

Penularan malaria dapat dikurangi dengan mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan kelambu dan penyemprotan insektisida.

Siklus hidup parasit malaria dalam tubuh manusia. Pada saat nyamuk
menginfeksi seseorang dengan mengambil atau mengisap darah. Bersaamaan
saat mengisap darah tersebut, nyamuk meninfeksi sporozoit dengan
memasuknya ke aliran darah, dan bermigrasi ke hati. Sporozoit ini
selanjutnya menginfeksi sel-sel hati (hepatosit), di mana mereka bisa berkembang biak menjadi merozoit, selanjutnya mengakibatkan pecahnya sel-sel hati, dan kemudian kembali ke aliran darah. Selanjutnya, merozoit menginfeksi sel darah merah, di mana mereka mengembangkan ke dalam bentuk cincin yang disebut trophozoites dan schizonts yang pada gilirannya menghasilkan merozoit lebih lanjut.
(Gambar 2: Siklus penularan plasmodium yang menyebabkan penyakit pada manusia)

Gejela Klinis dan Pengobatan Malaria

Malaria ditandai dengan demam dan gejala seperti flu, termasuk menggigil, sakit kepala, sakit seluruh otot-otot tubuh (mialgia), dan merasa lemas (malaise), gejala-gejala ini dapat terjadi pada fase interval.
Demikian pula bisa menimbulkan komplikasi penyakit yang berhubungan
dengan anemia dan ikterus. Pada penyakit yang lebih berat, gejalanya;
kejang, gangguan mental, gagal ginjal, gangguan pernapasan akut, koma,
bahkan pada anak-anak yang menderita malaria sering menunjukkan sikap
yang abnormal, sebagai tanda kerusakan otak yang parah. Sehingga malaria
dapat menyebabkan gangguan kognitif, terutama pada anak-anak akibat kerusakan neurologis
atau otak, dan bisa berakhir dengan kematian. Gejala malaria dapat
berkembang mulai 7 hari (biasanya = 14 hari) setelah terpapar oleh plasmodium.

(Gambar 3: Gejala klinis penyakit Malaria)

Diagnosa penyakit malaria ditegakkan berdasarkan, pemeriksaan
mikroskop. Demikian pula dengan menggunakan teknik pemeriksaan mikroskop
dokter dapat menentukan spesies atau jenis parasit malaria yang
menghingapi penderita. Pemeriksaan lainnya, deteksi antigen yang berasal
dari parasit malaria. Seperti imunologi (immunochromatographic) tes yang paling sering menggunakan format dipstick atau kaset dan memberikan hasil dalam 2-15 menit.

Malaria dapat diobati secara efektif pada awal perjalanan penyakit,
tetapi penundaan pengobatan dapat berakibat serius atau bahkan fatal.
Pilihan pengobatan tergantung pada spesies malaria, dan kemungkinan
resistensi obat (berdasarkan di mana infeksi diperoleh), usia pasien,
status kehamilan, dan tingkat keparahan infeksi.

Dewasa ini tersedia berbagai obat antimalaria, yang pengobatannya
berdasarkan tingkat keparahan dan jenis parasit yang menginfeksi.
Malaria berat diobati dengan penyuntikan kina secara intravena atau intramuscular, sejak pertengahan 2000-an juga telah tersedia Artesunat, yang merupakan obat anti malaria turunan artemisinin.

Pada kasus malaria ringan, umumnya diobati dengan obat oral. Hal ini
juga sangat penting untuk memastikan asupan cairan terus-menerus
sehingga tubuh tidak mengalami dehidrasi (kekurangan cairan). Kina sulfat, Malarone, bersama dengan doksisiklin, diresepkan untuk masa satu minggu.

Pencegahan Malaria dan Vaksinasi

Dewasa ini, para dokter merekomendasikan pencegahan lebih baik dari
pengobatan malaria. Berbagai cara pencegahan, mulai dari menggunakan
obat-obatan (kemoprofilaksis), menggunakan kelambu, peringatan pada
masyarakan yang akan berkunjung ke daerah rawan atau endemik malaria,
hingga penggunaan vaksin.

Vaksinasi adalah pemberian bahan antigenik (vaksin) untuk merangsang
sistem kekebalan individu untuk mengembangkan kekebalan adaptif terhadap
suatu penyakit. Vaksin dapat mencegah atau memperbaiki efek dari
infeksi patogen. Vaksinasi umumnya dianggap sebagai metode yang paling
efektif untuk mencegah penyakit menular. Agen aktif dari vaksin ini,
bisa dalam bentuk (bakteri atau virus) yang utuh tetapi tidak aktif
(non-infektif) atau dilemahkan (infektivitas dikurangi) sehingga tidak
menyebabkan penyakit, atau komponen yang telah dimurnikan dari bakteri
atau virus tersebut.

Banyak cara yang bisa digunakan dalam rangka untuk mencegah
penyebaran penyakit, atau untuk melindungi masyarakat di daerah rawan
malaria, termasuk dengan menggunakan obat-obatan profilaksis, pemberantasan nyamuk dan pencegahan gigitan nyamuk.

(Gambar 4: Vaksin anti Malaria [RTS-S/AS01])

Hasil penemuan yang dipublikasikan di New Enlan Journal of Medicine
edisi Oktober 2011, memberikan berita yang sangat diharapkan, yaitu:
telah ditemukan dan diuji secara klinis terhadap ribuan masyarakat
dirawan Malaria, dengan Hasil bahwa (Vaccine-RTS-S/AS01)
yang diujikan lebih dari seribu orang tersebut, menunjukkan berkurang
kasus infeksi malaria lebih 50%, khususnya pada anak-anak usia 5 sampai
17 tahun. Sehingga dimasa depan, dokter berkeyakinan bahwa keampuhan
vaksin tersebut, dapat digunakan untuk mengendalikan penyebaran penyakit
malaria.

Untuk share artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?37520

Untuk

melihat artikel Amerika / Kesehatan lainnya,
Klik

disini

Mohon
beri nilai dan komentar di
bawah artikel ini

____________________________________________________

Supported

by :

About The Author

3 Responses

  1. iqbal el mubarak

    Harus segera di launchingkan vaksin malaria tsb,mengingat indonesia (wilayah timur) sangat banyak yg beresiko terkena.

    Balas
  2. Asrul

    Kalau penyakit malaria bahakan ada yg katakan sejak Ratusan Ribu tahun yll sudah ada, dan tidak ada Vaksin, berarti ini penemuan betul2 sangat berharga, terimaksih Dr., Taruna untuk share pengetahuan kedoktarannya.

    Balas

Leave a Reply

Your email address will not be published.


3 × satu =