Profil Gunung Merapi

Geografis

Gunung Merapi yang berketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut
(mdpl) adalah gunung berapi di bagian tengah pulau Jawa dan merupakan
salah satu gunung api teraktif di Indonesia.

Sebaran lereng Merapi mencakup empat Kabupaten, sisi selatan berada
dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan
sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten
Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur,
serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar
puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) sejak tahun 2004.

Geologis

Gunung Merapi termasuk gunung termuda dalam rangkaian gunung berapi yang
mengarah ke selatan dari Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Gunung ini
terletak di zona subduksi lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah
lempeng Eurasia.

Menurut penelitian, pembentukan gunung Merapi telah terjadi sejak
400.000 tahun yang lalu. Sementara Puncak Merapi yang sekarang, Puncak
Anyar, baru mulai terbentuk sekitar 2000 tahun yang lalu.

Erupsi

Dari catatan modern terungkap Gunung Merapi telah meletus sebanyak 68
kali sejak tahun 1548. Kota Yogyakarta adalah kota besar terdekat,
berjarak sekitar 27 km dari puncaknya, dan masih terdapat desa-desa di
lerengnya sampai ketinggian 1,700 km dan hanya 4 km jauhnya dari puncak
Merapi.
Ciri-ciri khusus letusan sejak 1953 adalah desakan lava ke puncak kawah
disertai dengan keruntuhan kubah lava secara berkala dan pembentukan
awan panas yang dapat meluncur di lereng gunung atau vertikal ke atas.
Letusan tipe Merapi ini secara umum tidak mengeluarkan suara ledakan
tetapi desisan. Kubah puncak yang ada sampai 2010 adalah hasil proses
yang berlangsung sejak letusan gas tahun 1969.

Erupsi 2010

Peningkatan status dari “normal aktif” menjadi “waspada” pada tanggal 20
September 2010 direkomendasi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan
Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. Setelah sekitar satu bulan, pada tanggal 21 Oktober status berubah menjadi “siaga” sejak pukul 18.00 WIB.
Pada tingkat ini kegiatan pengungsian sudah harus dipersiapkan. Karena
aktivitas yang semakin meningkat, ditunjukkan dengan tingginya frekuensi
gempa multifase dan gempa vulkanik, sejak pukul 06.00 WIB tangggal 25 Oktober BPPTK
Yogyakarta merekomendasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi
“awas” dan semua penghuni wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus
dievakuasi dan diungsikan ke wilayah aman.

Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB
tanggal 26 Oktober. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan.
Letusan menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km dan
disertai keluarnya awan panas yang menerjang Kaliadem, Desa Kepuharjo,
Kecamatan Cangkringan, Sleman dan menelan korban 43 orang, ditambah seorang bayi dari Magelang yang tewas karena gangguan pernafasan.

Sejak saat itu mulai terjadi muntahan awan panas secara tidak
teratur. Mulai 28 Oktober, Gunung Merapi memuntahkan lava pijar yang
muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB.
Selanjutnya mulai teramati titik api diam di puncak pada tanggal 1
November, menandai fase baru bahwa magma telah mencapai lubang kawah.

Namun demikian, berbeda dari karakter Merapi biasanya, bukannya
terjadi pembentukan kubah lava baru, malah yang terjadi adalah
peningkatan aktivitas semburan lava dan awan panas sejak 3 November.
Erupsi eksplosif berupa letusan besar diawali pada pagi hari Kamis, 4
November 2010, menghasilkan kolom awan setinggi 4 km dan semburan awan
panas ke berbagai arah di kaki Merapi. Selanjutnya, sejak sekitar pukul
tiga siang hari terjadi letusan yang tidak henti-hentinya hingga malam
hari dan mencapai puncaknya pada dini hari Jumat 5 November 2010.
Rangkaian letusan ini serta suara gemuruh terdengar hingga Kota
Yogyakarta (jarak sekitar 27 km dari puncak), Kota Magelang, dan pusat
Kabupaten Wonosobo (jarak 50 km). Hujan kerikil dan pasir mencapai Kota
Yogyakarta bagian utara, sedangkan hujan abu vulkanik pekat melanda
hingga Purwokerto dan Cilacap. Pada siang harinya, debu vulkanik
diketahui telah mencapai Tasikmalaya, Bandung, dan Bogor.

Bahaya sekunder berupa aliran lahar dingin juga mengancam kawasan
lebih rendah setelah pada tanggal 4 November terjadi hujan deras di
sekitar puncak Merapi. Pada tanggal 5 November Kali Code di kawasan Kota
Yogyakarta dinyatakan berstatus “awas” (red alert).

Vegetasi

Gunung Merapi di bagian puncak tidak pernah ditumbuhi vegetasi karena
aktivitas yang tinggi. Jenis tumbuhan di bagian teratas bertipe alpina
khas pegunungan Jawa, seperti Rhododendron dan edeweis jawa. Agak ke
bawah terdapat hutan bambu dan tetumbuhan pegunungan tropika.

Lereng Merapi, khususnya di bawah 1.000 m, merupakan tempat asal dua
kultivar salak unggul nasional, yaitu salak ‘Pondoh’ dan ‘Nglumut’.
[sunting]

Rute pendakian

Gunung Merapi merupakan obyek pendakian yang populer. karena gunung
ini merupakan gunung yang sangat mempesona. Jalur pendakian yang paling
umum dan dekat adalah melalui sisi utara dari Sèlo, Kabupaten Boyolali,
Jawa Tengah, tepatnya di Desa Tlogolele. Desa ini terletak di antara
Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui Selo memakan waktu
sekitar lima jam hingga ke puncak.

Jalur populer lain adalah melalui Kaliurang, Kecamatan Pakem,
Kabupaten Sleman, Yogyakarta di sisi selatan. Jalur ini lebih terjal dan
memakan waktu sekitar 6-7 jam hingga ke puncak. Jalur alternatif yang
lain adalah melalui sisi barat laut, dimulai dari Sawangan, Kabupaten
Magelang, Jawa Tengah dan melalui sisi tenggara, dari arah Deles,
Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. ( Yayat )

Untuk share artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?35897

Untuk
melihat artikel Utama lainnya, Klik
di sini


Klik
di sini
untuk Forum Tanya Jawab


Mohon
beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

_______________________________________________________________

Supported
by :


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments