Tempe, makanan berbahan dasar kacang kedelai ini tidak hanya disukai orang indonesia, tapi juga memikat negara lain. Karena rasanya yang enak, tempe pun sudah go internasional. Terbukti banyak sekali pengusaha yang mulai melirik makanan orang indonesia ini. Hadirnya Rumah Tempe indonesia yang berada di Bogor semakin menaikan citra tempe di mata dunia, pasalnya tempe di sini diproduksi lebih modern dan higienis, namun tidak mengurangi rasa.

Belum lama ini, puluhan petani dan pengusaha kedelai asal Amerika Serikat melakukan kunjungan ke Rumah Tempe Indonesia. Mereka yang tergabung dalam American Soybean Association (ASA) sengaja datang ke Bogor untuk melakukan survei langsung ke Rumah Tempe Indonesia. Para pengusaha itu mengaku tertarik dengan tempe, karenanya mereka ingin melihat langsung bagaimana cara pengolahan tempe, sekaligus mencicipi tempe asli indonesia.

Setelah mengikuti beberapa proses pembuatan tempe dan mendengarkan pengarahan, para pengusaha pun diberi kesempatan untuk mencicipi tempe goreng. Tidak kecewa, mereka justru senang dan mengapresiasai tempe sebagai makanan enak. Ada yang mengaku, meski belum pernah makan sebelumnya, ia langsung suka. “Saya belum pernah makan sebelumnya. Rasanya enak dan saya dengar tempe bisa dijadikan berbagai macam panganan, itu bagus sekali,” papar Paul Michael salah satu pengusaha.

Apresiasi positif dari para pungusaha Negeri Paman Sam itu semakin memberikan kebanggan tersendiri bagi para pengusaha dan pengerajin tempe dan tahu indonesia. “Kebanggan tersendiri bagi kami para pengerajin tempe dan tahu Indonesia bahwa pengusaha dan petani AS sangat antusias. Tujuan kami mengundang mereka untuk membuktikan bahwa tempe selain menjadi makanan tradisional, juga memiliki gizi yang bermanfaat daripada daging,” papar Aif Syaifuddin selaku Ketua Umum Gakoptindo.

Rumah Tempe Indonesia

Rumah Tempe Indonesia diresmikan pada 6 Juni 2012, di Bogor yang dibentuk oleh Koperasi Pengrajin Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) Kab. Bogor, Mercy Corps dan Forum Tempe Indonesia.

Selain memproduksi tempe yang higienis dan ramah lingkungan, RTI juga akan menjadi pusat belajar bagi pengrajin tempe yang lain. Sehingga memungkinkan percepatan adopsi dan replikasi teknologi dan menjadikan industri tempe di Indonesia berdaya saing internasional.

Cara pengolahan tempe di RTI lebih modern. Pembungkus yang cara tradisionalnya menggunakan daun pisang, di sini tempe dibungkus dengan plastik higienis, yang berguna untuk proses peragian atau fermentasi lebih cepat. Proses frementasinya pun berbeda dengan pengolahan biasanya, karena disini fermentasi tempe dilakukan dengan menggunakan ruang kedap dengan suhu tiga puluh derajat. Pengolahan modern ini membuat cita rasa tempe lebih enak dan higienis.

Peralatan produksinya juga lebih modern. Hampir seluruh peralatan yang digunakan menggunakan bahan stainless steel dengan standar food grade. Misalnya seperti tempat mencuci dan merebus kedelai, termasuk papan yang digunakan untuk proses fregmentasi tempe, peralatannya jauh lebih modern. Pabrik ini diklaim ramah lingkungan, karena menggunakan gas elpiji untuk mengurangi dampak polusi, berbeda dengan penggunaan kayu bakar yang masih digunakan untuk pengolahan tempe tradisional.

Jika biasanya pabrik tempe menyisakan limbah yang berdampak dan dapat mencemari lingkungan, di rumah tempe Indonesia  hal itu justru tidak terjadi, karena tidak satupun limbah yang terbuang. Limbah dimanfaatkan lagi dengan menggunakan teknologi reaktor biogas yang dapat mengubah limbah menjadi sumber energi rumah tangga. (foto : ScopeIndonesia)

Untuk share artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?51941

Untuk melihat artikel Makanan lainnya, Klik disini

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

______________________________________________________

Supported by :

 

 

 

 

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.


− 1 = empat