Kuambil buluh sebatang
Kupotong sama panjang
Kuraut dan kutimbang dengan benang
Kujadikan layang-layang

Bermain berlari
Bermain layang-layang
Berlari kubawa ke tanah lapang
Hatiku riang dan senang

 

 

Membaca lirik lagu di atas sudah pasti semua sudah mengenalnya, lagu lama yang menceritakan permainan masa kecil, yups apalagi kalau bukan Permainan Layang-layang.

Tidak seperti dulu, layang-layang jaman sekarang banyak jenisnya, bukan hanya layang-layang tradisional yang terbuat dari kertas dengan rangka bambu dan berbentuk diamond saja, ada juga layang-layang hias, layang-layang 2 atau 3 dimensi, sampai layang-layang jenis sports .

Endang W. Puspoyo, Pendiri Museum Layang-layang Indonesia, menuturkan “Perkembangan olah raga layang-layang berkembang sejak sepuluh tahun terakhir dan produksi layang-layang dalam negeri sudah mulai dilirik
negara-negara lain.”

Melihat perkembangan layang-layang di Indonesia, juga menginspirasi seseorang untuk serius menggeluti usaha pembuatan layang-layang. Seperti yang dilakukan Nowo Agus Kartika (44) atau yang akrab disapa Nowo. Sejak tahun 1995 Nowo sudah berkutat menggeluti seni kreatif pembuatn layang-layang. Nowo mengakui bahwa pembuatan layang-layang hias dan sports yang digelutinya saat ini berawal dari mencotek layang-layang dari luar negeri.

Pada tahun 2000, Nowo mulai membuka galerinya di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta Utara. Permainan layang-layang di pantai mendatangkan berkah baginya, pengunjung yang datang ke pantai Ancol sangat tertarik dengan berbagai macam bentuk dan ukuran layang-layang yang dimainkan Nowo, sehingga di lokasi ini pengunjung dapat menyewa atau membeli, sekaligus belajar memainkan layang-layang secara gratis dari Nowo.

Tidak heran bila di hari Sabtu-Minggu dan libur nasional, langit Pantai Karnaval Ancol dipenuhi berbagai macam layang-layang, dari ukuran kecil sampai dengan ukuran raksasa. Besarnya antusias peminat layang-layang, terkadang membuat Nowo dan keluarganya kewalahan untuk menyediakan layang-layang yang diinginkan.

Nowo yang dibantu istri, Ulfa (44) dan ketiga anaknya, Nabila Cristalia (18),Noval (16) dan Nanda (12), memproduksi layang-layang di rumah yang sekaligus menjadi workshop di Jalan Raya Bambu Apus Rt 03 Rw 03 Kav 12C, Pangkowilhan, Taman Mini, Jakarta Timur. Dalam sehari Nowo mengaku dapat menyelesaikan pembuatan 5 layang-layang hias, dan dalam sebulan dapat menghasilkan 4 layang-layang jenis sports.

 

 

Proses Pembuatan Layang-Layang

Pada tahapan pembuatannya, design dibuat di atas kertas dengan menyesuaikan ukuran setiap sisi-sisinya,lalu digunting sesuai pola yang diinginkan. Kemudian pemilihan bahan untuk digunakan, bahan kain pembuatan layang-layang untuk jenis hias atau sports itu biasanya dari jenis ripstop, atau yang biasa digunakan untuk terjun payung. Pemotongan bahan kain ini tidak menggunakan gunting, melainkan menggunakan solder, sehingga bagian pinggir kain tidak rusak.

Setelah mendapatkan ukuran, bahan kemudian diberi lem pada bagian yang akan dijahit, hal ini bertujuan agar pada saat penjahitan tidak miring dan tidak terlipat.

Setelah semua bahan dijahit, kemudian tinggal pemasangan batang atau rangka layang-layang, rangka layang-layang yang digunakan terbuat dari grafit dan diberi shock T untuk pegangan rangka. Jenis layang-layang sekarang ada yang menggunakan satu tali kama (single lite), dua tali kama (two lite) dan empat tali kama (four lite).

Kendala yang dialami Nowo dalam membuat layang-layang biasanya bahan bakunya yang sulit, “Seluruh bahan baku layang-layang jenis sports masih di import dari luar negeri, jadi sulit memproduksinya,” ucapnya.

Selain menjual layang-layang hasil kreasi sendiri, Nowo juga seringkali mendapat pesanan model layang-layang dari pelanggannya. sehingga para pelanggannya dapat berinteraksi langsung mengenai jenis atau model layang-layang yang diinginkannya. Dari usaha pembuatan layang-layang ini, Nowo dapat mengantongi omset sekitar Rp 5 juta perbulannya.

Nowo sudah tidak dapat menghitung berapa banyak layang-layang yang telah dihasilkannya, bahkan rumah yang sekaligus menjadi bengkel kerjanya ini dipenuhi layang-layang berbagai ukuran dan model.

Mulai dari proses design, cuting, jahit sampai dengan finishing untuk siap terbang, dikerjakan Nowo dengan bantuan keluarganya.

Harga layang-layang buatan Nowo berkisar mulai Rp 25.000 sampai dengan jutaan, namun bisa juga disesuaikan dengan dana serta design yang Anda inginkan.

Nowo menjamin bahwa semua layang-layang miliknya dapat terbang, bahkan Nowo memberikan garansi berupa perbaikan jika ada kerusakan (arip)

 

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

______________________________________________________

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.


6 + = tiga belas