Tom Boellstorff adalah Associate Professor di Departemen Antropologi
dari University of California Irvine. Beliau merupakan Editor Utama di
American Anthropologist, sebuah jurnal Asosiasi Anthropolog Amerika.
Anthropolog sosial ini juga menulis dua buku seputar LGBT (lesbian,
gay, bisex, transgender) di Indonesia. Yakni, “The Gay Archipelago” dan
“A Coincidence of Desires”. Di salah satu bab buku “Speaking in Queer
Tongues”, beliau membahas sekitar bahasa gay di Indonesia.

Berikut penggalan wawancara Kabari dengan Prof. Boellstorff :

Bagaimana awal mulanya anda tertarik dengan isu LGBT di Indonesia?

Saya mulai tertarik dengan isu LGBT
di Indonesia sejak tahun 1992. Waktu itu, saya berkesempatan tinggal di
Malaysia selama dua bulan dan di Indonesia selama tiga bulan. Ini dalam
rangka sebagai konsultan program pencegahan HIV/AIDS di dua negara itu. Waktu itu, walaupun saya masih 23 tahun tapi sudah bekerja di salah satu LSM pencegahan HIV/AIDS
di Amerika (The Institute for Community Health Outreach). Malaysia dan
Indonesia, dua-duanya sangat menarik. Tetapi saya akhirnya lebih
tertarik dengan Indonesia, mungkin karena negara yang sangat besar dan
beraneka ragam, seperti AS. Dan karena saya sendiri seorang gay, saya
mencari orang LGBT sebagai teman untuk berbagi pengalaman. Sehingga saya menjadi sangat tertarik dengan jalan hidup teman-teman LGBT saya di Indonesia.

Karena
buku anda tadi ditulis dalam Bahasa Inggris, banyak pembaca berbahasa
Indonesia belum tahu isinya. Apa yang anda maksudkan sebagai “Kepulauan
Gay” di negara kepulauan berpenduduk muslim terbesar di dunia?

Memang,
sampai sekarang dua buku saya hanya ada dalam bahasa Inggris. Yang
pertama, “The Gay Archipelago,” sudah diterjemahkan dan saya sedang
mencari penerbit di Indonesia. Semoga pada suata hari diterbitkan di
sana.

Kalau masalah istilah “Nusantara Gay,” tidak sulit
untuk menjelaskan. Di awal buku “The Gay Archipelago” (yang memang
patut diterjemahkan sebagai “Nusantara Gay,”), saya menjelaskan bahwa
bukan maksud saya bahwa semua orang Indonesia adalah gay! Jelas itu
salah. Ingatlah bahwa organisasi gay pertama dan tertua di Indonesia
adalah “GAYa Nusantara”. Sejak awalnya ini diasosiasikan dengan nama
Dede Oetomo. Padahal, banyak orang lain yang bergabung dengan
organisasi itu. Dengan sengaja, mereka memakai huruf besar supaya
“gaya” (yaitu “cara” atau “style” kalau bahasa Inggris) ada arti kedua,
“gay.” Sehingga saya mendapat konsep “Nusantara Gay” dari mereka.

Tetapi
konsep “Nusantara Gay” juga cocok untuk mengerti kehidupan gay dan
lesbi di Indonesia. Di Indonesia ada kelompok gay dan lesbi.
Kadang-kadang informal (misalnya, beberapa teman yang terbiasa
berkumpul di salah satu salon). Kadang-kadang sedikit lebih formal
(salah satu LSM, contohnya). Kelompok-kelompok seperti itu ada di seluruh Indonesia, tetapi sering tersendiri di daerahnya karena diskriminasi.

Secara
keseluruhan, kelompok-kelompok tersebut seperti salah satu “nusantara”
kelompok-kelompok gay dan lesbi. Lihat saja bagaimana jarang ada orang
yang mengatakan “saya orang gay Bali” atau “saya orang Jawa lesbi.”
Selama saya melakukan penelitan saya, yang paling sering terjadi adalah
orang mengatakan “saya orang gay Indonesia” atau “saya orang lesbi
Indonesia.” Konsep-konsep “gay” dan “lesbi” agak baru dan tidak diambil
dari adat atau orang tua. Mereka diambil dari media massa yang nota
bene sudah lama terhubung dengan nasional. Sehingga secara singkat,
maksud “Nusantara Gay” adalah bahwa ada semacam konstelasi atau
jaringan kelompok-kelompok gay dan lesbi di dalam nusantara Indonesia,
yang terdiri dari orang yang warga Indonesia.

Karena waria
lebih diakui, kehidupan mereka agak lain, walaupun terkait dengan
kehidupan gay dan lesbi. Di buku kedua saya, “A Coincidence of
Desires,” ada bab yang terfokus pada masalah kehidupan waria.

Menurut anda, bagaimana situasi kaum LGBT di Indonesia dewasa ini ?

Situasi LGBT
di Indonesia memang sulit sampai sekarang, tapi berbeda kalau waria
dibandingkan gay, lesbi, dan tomboy (orang perempuan yang menjadi
laki-laki). Di Indonesia, keadaan waria sangat diakui. Inilah ada
gunanya untuk kaum waria, karena mereka pada umumnya tidak merahasiakan
keadaannya sebagai waria. Tetapi, waria masih mendapat banyak
stigmatisasi di Indonesia. Ada yang dibuang keluarganya, ada yang sulit
dapat pekerjaan, ada juga yang dibunuh. Ada juga waria yang diterima
oleh keluarganya dan dapat pekerjaan, sehingga ada yang menjadi
terkenal di dunia entertainment di Indonesia.

Kalau gay,
lesbi, tomboy, situasinya lain. Mereka pada umumnya belum membuka diri
kepada keluarga atau masyarakat, dan kebanyakan kawin dengan lain jenis
(yaitu, secara heteroseksual).

Menurut penelitian saya, tantangan/kesulitan kaum LGBT
tergantung pada kehidupan orang masing-masing. Tetapi yang paling
sering muncul adalah: (1) masalah tekanan kawin dari keluarga, (2)
masalah kawin, kalau sudah kawin, (3) masalah merasa kesendirian, (4)
masalah merasa dosa. Kalau masalah kawin, kompleks memang. Karena ada
cukup banyak orang gay, lesbi, dan tomboy yang justru mau kawin dengan
lain jenis karena dianggap keharusan agama, norma keluarga, dll.
Tetapi, mereka juga sulit kawin dan masih mau berpacaran (nota bene,
cinta dan bukan hanya seks saja) dengan sesama jenis.

Kalau masalah hal-hal positif agar kaum LGBT
lebih bisa diterima dalam masyarakat Indonesia, saya merasa pertanyaan
harus dibalikkan. Mereka sendiri sebetulnya “masyarakat Indonesia”
juga, kan? Sehingga apa yang masyarakat heteroseks Indonesia dapat
perbuat secara positif sehingga kaum gay, lesbi, dan tomboy dapat lebih
terbuka? Mereka sudah banyak hal-hal positif, tetapi orang lain belum
mengerti bahwa hal-hal itu dilakukan oleh kaum gay, lesbi, dan tomboy.
Semua orang punya hak untuk hidup sesuasi dengan keadaan mereka. Saya
tahu, di Indonesia banyak debat dengan agama, khususnya Islam (tetapi
agama lain juga), dan homoseksualitas. Saya bukan ahli agama. Sebagai
orang anthropologi, saya hanya tahu bahwa ada orang beragama yang taat
dan pintar yang menerima keadaan LGBT, yang berpendapatan bahwa homoseksualitas bukan dosa. Ada juga yang merasa LGBT itu dosa. Tetapi sebagai warga Indonesia, orang Indonesia yang LGBT berhak mendapat toleransi.

Kasus pembunuhan berantai oleh Ryan mengakibatkan homophobia dan stigmasisasi terhadap kaum LGBT di Indonesia. Apa komentar anda?

Apa
kasus Ryan kasus pertama pembunuh berantai di Indonesia? Tidak. Apa
pernah ada pembunuh berantai sebelum Ryan? Ya. Apakah kebanyakan
pembunuh berantai di Indonesia orang heteroseksual (“normal”)? Ya.
Apakah setiap kali ada pembunuh berantai heteroseksual, “pakar” medis
dan sosial Indonesia masuk media massa untuk mengatakan bahwa
heteroseksual itu adalah jenis nafsu yang berakibat orang menjadi
pembunuh berantai? Tidak.

Di sinilah kita lihat dengan
sangat jelas masalah diskriminasi. Kalau orang heteroseksual menjadi
pembunuh berantai, bukan seksualitasnya yang dikambinghitamkan. Dia
dinilai secara perorangan, sebagai orang yang justru jahat dan harus
ditangkap dan dihukum. Tetapi, kalau orang homoseksual menjadi pembunuh
berantai, lebih daripada itu yang terjadi. Memang dia orang jahat yang
harus ditangkap dan dihukum. Tetapi seksualitasnya dikambinghitamkan
sehingga semua orang homoseksual dikambinghitamkan. Seakan-akan kita
harus curiga kepada semua orang homoseksual, seakan-akan semua orang
homoseksual jahat, menyimpang, dll.

Inilah namanya
diskriminasi, dan membuat saya tersinggung dan kecewa pada para “pakar”
medis dan sosial di Indonesia yang pernah menyebarkan diskriminasi ini.
Kebanyakan orang gay dan lesbi di Indonesia itu orang baik dan
berprestasi. Mereka berusaha untuk menjadi orang yang dihargai oleh
masyarakat. Karena Indonesia negara mayoritas Muslim, jelas bahwa
kebanyakan orang Indonesia yang gay and lesbi itu Muslim, dan mereka
berusaha untuk cari jalan keluar sehingga merasa diterima oleh Tuhan
dan masyarakat.

Masalah diskriminasi seperti ini dapat terjadi di mana-mana, bukan hanya di Indonesia saja. Di AS, sering kalau ada orang LGBT yang dihukum, dilaporkan di media massa seakan-akan semua orang LGBT cenderung jahat. Inilah membuat saya tersinggung, karena saya banyak teman-teman yang LGBT dan juga karena saya sendiri gay. Saya seorang gay yang mendapat S3 (Ph.D.)
dari Stanford University dan sekarang professor di University of
California. Saya juga orang homoseksual, di mana ada bukti saya
cenderung berbuat jahat?

Klik Disini untuk Baca Artikel ini di Majalah Kabari September 2008 ( E-Magazine )

Untuk Share Artikel ini, Silakan Klik www.KabariNews.com/?31922

Mohon Beri Nilai dan Komentar di bawah Artikel ini

______________________________________________________

Supported by :

Photobucket

About The Author

7 Responses

  1. rifa

    kadang saya juga berfikiran kenapa ada jiwa lain yang dialami oleh kaum gay, lesbi ataupun tomboi. tapi masalahnya untuk mengembalikan mereka seperti kewajaran bagaimana caranya??

    Balas
  2. Bisexual Girl

    Kenapa orang harus menjadi homophobia? Apa sih yang sangat menyeramkan soal mereka? Kalo emang abis didoain ama dijampi2 mereka bisa sembuh ya udah dari dulu kali mereka begitu
    YOU CANNOT CHOOSE THE ONE YOU LOVE!
    jangan salahkan mereka, yang beda cuma orientasi doang kok, mereka masih manusia, masih biasa2 aja. Mereka tuh gak milih buat jadi gitu, siapa sih yang mau jadi Gay di negara Islam!? siapa sih yang mau dikata-katain, mereka emang udah lahir kayak itu
    BORN THIS WAY!

    Balas
  3. noopi

    gua seorg lesbian…gua mikir knapa gua bs jd ky gni…gua urutin mulai dari awal…gua jg bgg knapa gua gga punya interest dikit pun ma cow…tapi gua bs sayang ma cewek…gua pgen brubah…coz di indonesia gda hak buat kaum macam gua ini.but cinta tu anugerah tuhan,so gua gag nyesel jd lesbian.karna dari sini gua bs belajar ap itu cinta..ap itu indah….

    Balas
  4. sehelai rambut kejujuran

    gw toomboy dr kcil,tadinya gw bingung d frustasi dgn keadaan gw tp gw cuek aja org mo omong apa..yg buat gw merasa hidup lg krn akhirnya keluarga mo terima gw apa adanya, skrg ni gw satu rumah dgn seseorang yg teramat istimewa dihati gw…thanks god, thanks mamah…, buat teman2 yg mo sharing..balas ya…jgn takut dgn orang2 yg comentnya sok suci, jijik dgn kita..toh dgn cara mrk mencibir kita sj berarti hati mrk penuh kebencian…jadi gak bagus2 amat imannya.

    Balas

Leave a Reply

Your email address will not be published.


− enam = 0