KabariNews – Putusan pengadilan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang menjatuhkan hukuman dua tahun penjara terhadap Gubernur DKI nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terkait kasus penodaan agama menuai kekecewaan bagi para relawan Ahok yang dikenal dengan Badja.

Felix Sandra, salah satu relawan Badja mengungkapkan rasa keprihatinannya atas masalah hukum yang menimpa
jagoannya saat pilkada DKI Jakarta kemarin “Kita semua relawan Badja yang tetap masih bergerak untuk mendukung pak Ahok yang sedang mengalami permasalahan hukum, sekarang pak Ahok ditahan di Makob Brimob, di mana kita semua tau hakim telah memvonis dua tahun penjara,” ungkap Felix saat ditemui Kabari di kawasan RPTRA Kalijodo, Jakarta.

Di suatu sore yang lumayan terik di kawasan kalijodo, para relawan Ahok berkumpul dan menyerukan aspirasinya serta menyampaikan langkah Ahok ke depannya.

“Pada sore ini kita semua kumpul dari beberapa temen-teman, kita mau menyuarakan suara kita semua, keinginan kita semua bagaimana untuk pak Ahok kedepannya,” imbuh Felix.

Setelah vonis Ahok, para relawan tersebut juga menggelar berbagai aksi damai sebagai bentuk dukungan terhadap Ahok, “Dimana kita selama ini sudah berapa hari ini mengadakan aksi damai, baik itu penyalaan lilin, bunga, dan terakhir kita fokus ke pengadilan tinggi Jakarta, dimana kita menuntut surat penahanan luar pak ahok segera ditandatangani dan dikabulkan oleh ketua pengadilan tinggi,” ungkap Felix.

Menanggapi kasus permasalahan hukum yang menimpa Ahok, para relawan tak ada hentinya untuk terus berjuang agar Ahok bisa dibebaskan, menurut Felix vonis tersebut memakai intrik politik, “Bukan saya pribadi aja yang mengatakan bahwa penahanan atau vonis pak Ahok itu bener-bener penuh dengan intrik politik, dimana jaksa penuntut umum menuntut satu tahun dengan masa percobaan dua tahun malah hakim memvonis dua tahun penjara, langsung masuk penjara, itu hal yang ga bisa kita terima,” tukas Felix.

Lebih lanjut Felix mengatakan, “Setahu saya, baru kali ini dimana tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) vonis hakim lebih tinggi daripada tuntutan JPU, teman-teman semua pada shock, apalagi yang wanita seperti bu dokter Haryani alami di pengadilan banyak yang pingsan, mata pada bintit karena pada menangis semua,” katanya. Dengan demikian, mereka merasa harus terus bergerak,  menurutnya, hal ini sedang mengalami kezhaliman dan ada upaya agar Ahok masuk penjara, kita tahu kita lagi dizhalimi.

Sudah keempat kalinya para relawan Ahok melakukan gerakan aski damai dengan satu tujuan yakni, meminta penangguhan penahanan menjadi tahanan kota atau tahanan rumah. “Jadi kalo surat penangguhan penahanan luar belum disetujui, belum dikeluarkan kita harus tetap melakukan istilahnya aksi damai atau demo,” pungkasnya.

Pun demikian dengan relawan lainnya seperti Rullyadi menanggapi hal senada di atas, ia mengungkapkan bahwa
Pilkada DKI Jakarta yang lalu merupakan amanah dari konstitusi.

“Pemilihan kepala daerah ini dilakukan serempak, jadi tahun 2017 kita tau bahwasannya ada 1001 pilkada serentak, dengan banyaknya pilkada di seluruh Indonesia,” ungkap Rullyadi.

Lebih lanjut ia berharap bisa mendapatkan pemimpin yang berkualitas, “Kita berharap rakyat mendapatkan
seorang pemimpin yang berkualitas dicintai rakyat, menghargai kebhinekaan dan keberagaman,” katanya.

Menurutnya, pemimpin tersebut lahir dari sebuah proses yang tidak secara tiba-tiba, baginya sosok Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat merupakan seorang pasangan pemimpin yang memang lahir dari tempaan yang sudah luar biasa.

Diketahui rekam jejak keduanya sudah terbukti, “Pak Djarot sudah pernah menjadi seorang walikota dua periode, menjadi anggota DPR RI, beliau juga wakil gubernur mendampingi pak Ahok selama dua tahun, dan pak Ahok sendiri kita tahu karirnya luar biasa dari beliau DPR RI, beliau wakil gubernur mendampingi pak Jokowi lalu selama dua tahun setengah menjadi gubernur, nah inilah kulitas-kualitas yang memang diharapkan oleh rakyat dapat memimpin wilayah di Indonesia,” tutur Rullyadi.

Dengan demikian, relawan yang tergabung dari Badja (Basuki-Djarot) mengharapkan proses pilkada ini menghasilkan pemimpin yang bekerja untuk melayani rakyat Indonesia.

Selain itu, untuk pilkada lima tahun mendatang diharapkan tidak ada lagi politisasi agama untuk dibawa keranah pemilihan pemimpin daerah, dengan hal ini pilkada DKI Jakarta kemarin bisa menjadi suatu pembelajaran bagi bangsa untuk tujuan ke depan mendukung pemerintahan Presiden Jokowi menuju masyarakat yang adil dan sejahtera.

Dengan demikian, para relawan Badja menghargai hukum di tanah air, “Setelah divonis seseorang akan ada upaya hukum lain, saat ini kita tahu bahwasannya status pak Ahok saat ini masih vonis di Pengadilan Negeri PN Jakarta, akan ada upaya lain yaitu pertama adanya banding, jika banding pun tidak mendapatkan kepuasan kita bisa masuk ke kasasi, ketika kasasi inilah kita berupaya semaksimal mungkin kuasa hukum memiliki alat bukti ataupun fakta-fakta yang meringankan sehingga pak Ahok bisa dibebaskan dari segala tuduhan yang ada,” tutup Rullyadi. (Kabari1008)