KabariNews – Pasca vonis yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara kepada Gubernur nonaktif
Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada 9 mei lalu, banyak menuai perhatian publik di dalam maupun luar negeri.

Sebagai bentuk dukungan terhadap Ahok, Warga Negeri Indonesia (WNI) di San Francisco, Amerika, menggelar aksi solidaritas menyerukan keadilan atas vonis Ahok terkait kasus penodaan agama.

Para pendukung Ahok berkumpul dan meyampaikan aspirasinya menuntut keadilan yang diorasikan oleh Henky Wangsawihardja sebagai perwakilan dari para peserta aksi.

Dalam orasinya Hengky menyampaikan beberapa hal penting yang dirasakan ada ketidakadilan atas vonis
pengadilan yang ditujukan terhadap Ahok.

“Kami berkumpul di sini adalah satu, menyampaikan rasa ketidakadilan yang kami rasakan, terutama terhadap
kepada putusan pengadilan negeri Jakarta yang telah menjatuhkan hukuman penjara selama dua tahun terhadap bapak Bauski Tjahaja Purnama atau yang lebih akrab kita panggil Ahok,” kata Hengky di tengah kerumunan massa.

Selain itu, ia juga merasakan rasa keprihatinannya atas situasi yang kini tengah terjadi di tanah air, “Kedua, menyampaikan rasa keprihatinan kami dengan apa yang sedang dan sering terjadi di Indonesia terutama terhadap
gesekan-gesekan yang sering terjadi dikarenakan perbedaan agama,” ungakp Hengky.

Kasus penodaan agama yang menimpa Ahok, bagi para pengunjuk rasa ini mengingatkan kembali dengan kasus
13 mei pada era Soeharto, 19 tahun yang silam. “Ketiga, dan satu hal yang kami coba lupakan tetapi masih saja terbayang-bayang dipikiran kami adalah dimana tempat pada tanggal yang sama pada hari ini 13 mei, 19 tahun yang lalu terjadi tragedi yang sangat memilukan yang menimpa bangsa Indonesia terutama kaum minoritas keturunan tionghoa,” terang Hengky.

“Dari ketiga hal tersebut di atas, dengan ini kami menuntut agar Ahok segera dibebaskan dari penjara,” imbuhnya.

Dari gelaran aksi tersebut para pendukung Ahok mengharapkan isi tuntutannya mendapat perhatian dari pemerintah, yakni dicabutnya Undang-Undang penodaan agama, selain itu juga mengharapkan agar tragedi 13 mei pada 19 tahun yang lalu jangan sampai terulang kembali.

“Demikian isi tuntutan kami agar dijadikan bahan pertimbangan demi terciptanya keadilan yang sesungguhnya dan demi terciptanya kemajuan berbangsa dan bernegara di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” pungkasnya. (Kabari1008)