KabariNews – Pegiat hak asasi manusia di Indonesia, Andreas Harsono, mengungkapkan dampak dari Undang-Undang 156a tentang penodaan agama yang menimpa Gubernur DKI Jakarta, Basuki Thahaja Purnama (Ahok).

Sebelum marak dengan kasus Ahok tersebut, dikatakan Andreas, kasus Gafatar dan kasus Tanjung Balai misalnya, gerakan tersebut dianggap penodaan agama, “Misalnya seperti kasus Gafatar, yang ada hampir 8000 orang Gafatar diusir dari Kalimantan dengan alasan penodaan agama, terus ada lagi kasus Tanjung Balai, yaitu seorang perempuan mengeluh karena speaker masjid terlalu ramai dan dia kena penodaan agama. Dan beberapa kasus lain. Yang paling besar adalah Ahok. “ ungkap Andreas saat wawancara dengan Kabari.

Menurutnya, campur tangan pemerintah saat ini bagaikan menghadapi buah simalakama, “Jadi, Jokowi sekarang seperti menghadapi buah simalakama, kalau dia campur tangan pada kejadian seperti ini, dia bisa dianggap membela Ahok, tapi kalau dia biarkan begitu saja, kita lihat hakim-hakimnya seperti itu,  menterjemahkan pasal itu dengan sempit sekali, mereka tidak melihat bahwa di dunia penodaan agama itu jadi barang antik sekarang, “ ujar Andreas

Hanya duapuluh enam persen negara di dunia yang masih punya undang-undang penodaan agama, lebih lanjut Andreas mengatakan, “Itu semua untuk kepentingan politik dan menghabiskan energi yang luar biasa besar, di banyak negara (undang-undang tersebut) dihapus atau tidak dijalankan, itu yang terjadi sampai sekarang, “ katanya.

Selain itu, Andreas juga mengungkapkan, saat ini Presiden Jokowi merasa kehilangan Ahok sebagai partner, “Saya kira Jokowi kehilangan Ahok selaku sekutu dia, kalau orang seperti Ahok yang merupakan gubernur yang didukung partai terbesar di Indonesia dan sekutu Presiden bisa diperlakukan seperti itu, apa lagi orang biasa, Jadi, pasal ini sekarang menjadi lebih buruk lagi, banyak ketakutan, apalagi ada yurisprudensi soal surat Al Maidah ayat 51, dimana warga muslim tidak menyarankan punya pemimpin non-muslim, “ ungkap Andreas.

Kasus penodaan agama yang menimpa Ahok dan kini menjadi bahan pemberitaan di Indonesia menuai dampak protes dari berbagai belahan dunia, “Nah, dampaknya jadi besar sekali sehingga banyak protes dari berbagai ujung dunia maupun di dalam Indonesia, dari PBB, dari Uni Eropa, dari kedutaan Amerika Serikat, dari ASEAN, Mereka cemas, bahkan negara-negara sekitar Indonesia seperti Malaysia termasuk yang cemas dengan keputusan pengadilan terhadap Ahok ini karena implikasinya besar sekali, bahkan, nilai saham Indonesia turun pada saat Ahok divonis, “ pungkas Andreas.