KabariNews – PT Freeport Indonesia telah menghentikan kegiatan produksinya sejak 10 Februari 2017 lalu. Para pekerja tambangnya di Mimika, Papua, yang berjumlah puluhan ribu sudah dirumahkan. Pangkal masalahnya, Freeport membutuhkan kepastian dan stabilitas untuk investasi jangka panjangnya di Tambang Grasberg, Papua. Sedangkan pemerintah menginginkan kendali yang lebih kuat atas kekayaan sumber daya mineral. Pada 10 Februari 2017 lalu, pemerintah telah menyodorkan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) kepada Freeport sebagai pengganti Kontrak Karya (KK). Jika tak mau menerima IUPK, Freeport tak bisa mengekspor konsentrat tembaga, kegiatan operasi, dan produksi di Tambang Grasberg pasti terganggu. President dan CEO Freeport McMoRan Inc, Richard C Adkerson, melakukan konferensi pers di Hotel Fairmont, Jakarta,   untuk menjelaskan duduk permasalahan. Ia menegaskan, Freeport tak dapat menerima IUPK. Pihaknya dan pemerintah masih punya waktu selama 120 hari sejak 18 Februari 2017 untuk mencari win-win solution. Jika tak tercapai titik temu, Freeport dapat mengambil jalan Arbitrase.

Mengenai perseteruan antara Pemerintah Indonesia dengan Freeport ditanggapi oleh Rudiono Dharsono selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan Universitas 17 Agustus Jakarta. Diakuinya Indonesia adalah Negara yang berdaulat dan merdeka.  “Urusan antar negara dengan satu perusahaan, baik itu perusahaan asing yang sebesar apapun, kita kan punya aturan, kita punya undang-undang, ya jalankan saja sesuai undang-undang itu, “ ujar Rudy.

Pergolakan yang terjadi, dinilainya karena ada sekelompok orang yang menginginkan agar Indonesia tidak aman. “Jalankan saja aturan yang terbaik untuk kebersamaan ini, jangan mencari siapa yang menang, siapa yang kalah. Ini urusan bisnis, urusan dagang. Dan saya melihat itu ga ada urgensinya, saling dukung dan tidak mendukung, “ imbuhnya.

Menurutnya, dalam sebuah Negara dan di dalamnya ada perusahaan dari Negara lain, sudah seharusnya Negara lain tersebut wajib menjalankan aturan yang sesuaI dan undang- undang yang berlaku di Indonesia.  (Kabari1008/foto&video:1008)