KabariNews – Paulus Usong, salah satu masyarakat Indonesia di San Francisco yang mengikuti aksi Candle Light Vigil memberikan sambutan, mengawali sambutannya ia menyebut dirinya bukan Orator namun juga bukan Provokator, selain itu ia juga menyampaikan rangkaian kalimat unik yang mengartikan ejaan dari nama Basuki Tjahaja Purnama (BTP) sebagai bentuk dukungannya terhadap pengadilan yang memvonis Ahok lantaran kasus pernodaan agama, “Saudara-saudara sebangsa dan setanah air dan seperjuangan, saya katakan, saudara-saudara sebangsa (B) setanah air (T) seperjuangan (P) disingkat BTP (Basuki Tjahaja Purnama), “ ujar Paulus dalam pidatonya di tengah kerumunan massa candle light vigil, di Union Square, San Francisco.

Lalu, ia berkata, meskipun diantara mereka bukan sebagian warga negara Indonesia lagi, namun ia mengakui bahwa dirinya dan semua masyarakat Indonesia di negeri Paman Sam adalah seratus persen Indonesia, “Saya yakin bahkan saya hakulyakin bahwa kita semua disini seratus persen Indonesia sejati, seratus persen Indonesia tulen, setuju! kalau ada yang tidak percaya belah dada saya, merah putih isinya, disini saya berdiri memberikan nostalgia tersendiri, sekitar 50 tahun yang lalu, saya sering aktif di demontrasi-demontrasi, “ kata Paulus.

Lebih lanjut Paulus menambahkan, didalam kegiatan seperti ini, biasanya ada kalimat yang menyerukan untuk memberi semangat para peserta, misalnya yel-yel, “Kalau saya serukan Salam DKI, maka saudara – saudara menjawab Hidup Ahok, sederhana tapi bermakna, “ tukasnya.

Alasan untuk berkumpul di lapangan terbuka disebuah kota di Amerika menjelang senja, mereka menujukkan kecintaannya terhadap Ahok, “Pada petang hari ini, kita berkumpul disini untuk menunjukkan bahwa kita cinta sama Ahok, bahwa kita sayang sama Ahok, that we love Ahok very much, mengapa kita love Ahok so much sehingga kita mau meluangkan waktu pada petang ini dibawah langit yang cerah, langit yang biru, dan udara yang sejuk, ditengah-tengah kota San Francisco pada malam minggu ini, kita semua tahu bahwa Ahok adalah pemimpin DKI yang sangat anti korupsi, “ tutur Paulus.

Kembali pada sejarah Jakarta, sekitar tahun 1960 hingga 1970 – an yang silam, DKI memiliki Gubernur yang cukup populer dengan proyek perbaikan kampung untuk warga DKI yang dikenal Muhammad Husni Thamrin ( MHT), dia adalah Bapak Ali Sadikin atau lebih dikenal dengan Bang Ali, pun demikian dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Disamping Bang Ali, Ahok juga memiliki proyek perumahan, proyek tersebut dimaksudkan untuk memberikan perumahan yang layak bagi mereka yang kurang mampu, yaitu dalam bentuk rumah susun.

Dijelaskan Paulus, bahwa rumah susun tersebut disewakan bagi mereka yang kurang mampu, selain itu, rumah susun disewakan dengan harga yang terjangkau, bahkan dapat diwariskan kepada anak cucu mereka.

Sebagai tokoh politik yang banyak dicintai warga, Paulus menganggap bahwa Ahok merupakan bagian dari kita semua, “Karena dia adalah satu bagian dari kita, tidak ada jurang pemisah, tidak ada jurang yang memisahkan antara kita dan Ahok,“ katanya, seraya menyerukan yel-yel “salam DKI” yang kemudian dibalas dengan yel – “hidup Ahok” oleh para peserta aksi. (Kabari1008)