KabariNews – Lebih dari dua dekade, Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation tinggal di Amerika Serikat. Mantan Imam Masjid New York berbicara banyak tentang perkembangan Islam di Negeri Paman Sam.

Shamsi yang telah tinggal di Amerika Serikat sejak tahun 1995 ini mengatakan bahwa Amerika meMberikan kesempatan kepada siapa saja untuk sukses. “Di sini Kristen bisa berkembang , Yahudi, Islam, Hindu, Budha, semua bisa berkembang,” terangnya.

Lanjut Shamsi, ada beberapa pihak yang takut melihat perkembangan Islam. Namun, secara umum, toleransi di Amerika ini sangat luar biasa. “ Memang ada kekerasan setelah terpilihnya Donald Trump tapi secara umum betapa banyak teman non muslim kami yang mengatakan, kalau orang Muslim disakiti, kami yang sakit, kalau orang Islam diserang, kami diserang. Itu termasuk orang Yahudi. Ini yang perlu saya sampaikan kepada dunia luar bhawa kurangi kesalahpahaman terhadap Amerika. Sebagaimana kami berupaya mengatakan kepada Amerika, kurangi kesalahpahaman kepada dunia Islam,” tukasnya.

Memang ada kekerasan yang terjadi di Timur Tengah tapi jangan disimpulkan itu karena mereka Muslim. “Kekerasan bisa terjadi di Bosnia, Irlandia, dimana-mana terjadi. Karena itu kita harus berhati-hati.  Jangan labelkan kekerasan dengan agama,” jelasnya.

Sebagai seorang muslim yang tinggal di Amerika  Serikat, Shamsi merasa memiliki tanggungjawab untuk memperkenalkan Islam kepada dunia. “Saya bertugas sebagai membangun jembantan antara dunia Islam dan Amerika , karena saya kira belum terlalu banyak orang yang melakukannya. Jadi ini amanah dari Indonesia untuk saya sampaikan ke Amerika sekaligus juga amanah dari Amerika untuk saya sampaikan ke negara-negara Islam bahwa Amerika punya niat yang baik untuk mebangun komunikasi dan kerjasama. Hanya dengan demikian kita bisa membangun dunia dengan masa depan yang lebih baik,” katanya.

Dijelaskan Shamsi, American Dream adalah bagaimana bisa mengemban amanah dan membangun jembatan komunikasi antara 2 dunia ini, dunia Islam dan Amerika serta barat secara umum. “Karena kesalahpahaman terlalu banyak dan kesalahpahaman itu menjadi kebencian yang tidak punya dasar. Orang tiba-tiba benci amerika, ketika ditanya kenapa, karena Amerika  jahat tapi mereka tidak tau yang terjadi  di Amerika. Betapa banyak orang Indonesia yang mengatakan bahwa Amerika  itu benci Islam, padahal Islam sangat berkembang lua biasa di sini,” ucapnya.

Fakta menarik dikatakan Shamsi. “Saat ini di New York saja ada sekitar 250 masjid, 800 ribu lebih orang Islam dan lebih dari 100 ribu anggota kepolisian beragama Islam. Lalu di mana bukti bahwa Amerika tidak suka Islam. Ini kesalahpahaman,” katanya bersemangat.

Dalam abad 21, idealnya antara umat beragama saling merangku, kerjasama dan menghargai keragaman. (Reportase : Aryo/penulis: Kabari1009/foto:1010)