KabariNews – Imam Shamsi Ali, dalam wawancara terakhir dengan Kabarinews, mengemukakan bahwa kesatuan dan pluralisme dalam kehidupan berbangsa Indonesia sangat penting. Beliau mengatakan bahwa walaupun ada pengaruh-pengaruh luar dalam hasil Pilkada Ahok – Basuki dan juga hasil keputusan pengadilan, seyogyanya hal ini tidak mempengaruhi kesatuan bangsa Indonesia. Yang pasti, bangsa Indonesia harus tetap menjadi bangsa yang independen dari pengaruh-pengaruh luar, tidak perlu diarahkan dari orang luar. Walaupun Imam Shamsi Ali sudah lama hidup di luar negeri, beliau masih sangat berharap bahwa Indonesia akan terus maju, berkembang, dan menjadi bangsa yang besar di masa mendatang.

Shamsi Ali menganjurkan semua pihak untuk melihat sisi positifnya dari kejadian di Jakarta dalam beberapa minggu lalu. Di mana saja, baik di Indonesia atau di negara barat selalu ada pressure-pressure untuk memenangkan kelompoknya. Dan hal ini tidak harus dikaitkan dengan kelompok agama, karena bisa juga dikaitkan dengan kelompok special interest siapa saja. Hal ini selalu di luar batas-batas agama. Yang positifnya adalah walaupun kedua belah pihak, kedua kelompok sudah berusaha sebaik mungkin untuk memenangkan kandidatnya, dalam semua proses kampanye ini tidak terjadi hal-hal kekerasan yang merugikan. Hal ini patut disyukuri, karena pertanda bahwa demokrasi Indonesia masih subur dan sehat. Sekarang yang penting adalah masing-masing pihak legowo menerima hasil ini dan bekerjasama kedepannya. Proses demokrasi bukan suatu hal yang mutlak dan baku, karena proses ini akan selalu berubah dalam waktu ke depan dan selalu beradaptasi. Ini merupakan pengalaman publik manusia dalam berdemokrasi. Indonesia dalam usianya yang masih muda pasti ada banyak kekurangan yang akan bisa dibenarkan.

Tentang pendapat negara luar, blok negara mapan Barat tentang demokrasi dan toleransi Indonesia yang dianggap ” gagal / mati ” karena pasca pemilihan Ahok dan juga hasil pengadilan, Bapak Shamsi Ali berpendapat bahwa penilaian ini bisa dibilang terlalu naif dan kurang komprehensif, karena pertama tama penilaian ini hanya berdasarkan dari tolok ukur dari pengamat luar tersebut (yang mungkin ada juga kepentingan tertentu) dan juga mengukur toleransi Indonesia hanya dari hasil pemilihan umum di satu kota, di Jakarta. Masih ada berbagai daerah di Indonesia yang masih menunjukkan kuatnya toleransi beragama.