Dirjen Perkeretaapian Kemhub, Hermanto Dwiatmoko.

Dirjen Perkeretaapian Hermanto Dwiatmoko.

Hingga saat ini di Indonesia, moda transportasi kereta api dikelola oleh operator tunggal (single operator), yaitu PT Kereta Api Indonesia (KAI). Namun, dengan amanah Undang-undang No 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, kelak kita memiliki multioperator yang memungkinkan masyarakat dapat menikmati pelayanan transportasi kereta api yang lebih baik lagi. Berikut hasil wawancara Kabarinews.com langsung dari Semarang, Jawa Tengah.

Undang-undang No 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian menyatakan pentingnya moda kereta api dalam menunjang, mendorong, dan menggerakkan pembangunan nasional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tidak hanya di Indonesia, di belahan dunia lain kereta api berkontribusi sangat besar, karena memiliki berbagai keunggulan yang tidak dipunyai moda-moda yang ada. Sebut saja, kereta api mampu mengangkut penumpang dalam jumlah banyak sekaligus, hemat energi, ramah lingkungan, efisien dan efektif serta pasti sampai di tujuan.

Senafas dengan amanah undang-undang tersebut, pemerintah Indonesia pun giat melakukan program-program untuk pengembangan perkeretaapian di Tanah Air. Yang sudah dilakukan, di antaranya, membangun jalur ganda di lintas utara Jawa untuk menghubungkan dua kota, Jakarta dan Surabaya, yang diketahui sebagai tulang punggung utama perekonomian Indonesia. Selain itu Ditjen Perkeretaapian Kemenhub RI juga mencanangkan program pembangunan perkeretaapian di luar Jawa dan Sumatera.

“Kami programkan pada 2015 pembangunan perkeretaapian dari Makassar sampai Pare-Pare sepanjang 154 kilometer. Dimulai dari tengah dulu, yaitu di Kabupaten Barru untuk menghubungkan dua pabrik semen di sana–Tonasa dan Bosowa ke Pelabuhan. Dengan potensi produksi 21 juta ton per tahun, maka ribuan truk yang semula lalu lalang di jalan membawanya bisa beralih ke kereta api dan kerusakan jalan maupun kecelakaan bisa dihindari. Selain itu, kereta api ini akan menjadi bagian dari Trans Sulawesi,” ujar Dirjen Hermanto kepada kabarinews.com.

KA TransMakassar

Sulawesi Selatan di bawah pimpinan Gubernur Syahrul Yasin Limpo menyambut dengan sangat bersemangat dan berminat pada pembangunan kereta api yang berada di sabuk tengah khatulistiwa dalam blue print pengembangan transportasi di Indonesia. Sesuai memorandum of understanding Kementerian Perhubungan dan Pemda Sulawesi Selatan, pemerintah setempat membiayai tanah yang akan dibangun, sekitar 40 kilometer panjang 150 kilometer. Sekarang sudah ada 35 kilometer dibebaskan dan siap dikembangkan. Namun, menunggu hasil studi Amdal.

Pada 2015 diprogramkan pembangunan bisa dimulai dalam 3 tahun. Yang dibangun bukan hanya track, melainkan juga berbagai sarananya. Sebab, ini merupakan line baru, jadi belum ada badan usaha penyelenggara sarana. Berbeda dari kereta api api di Jawa dan Sumatera yang kecepatannya 110 kilometer, di sini ditingkatkan menjadi kecepatan maksimum sampai 160-170 km/jam. Ini sebuah uji coba pembangunan track baru dan di lokasi baru.”

DINANTI HADIRNYA MULTIOPERATOR KERETA API

Di Sulawesi ini juga kelak dibuat badan penyelenggara sarana dan prasarana sendiri. Tidak seperti di Jawa, perkeretaapian masih ditangani secara single operator, sehingga secara psikologis sulit bagi perusahaan lain untuk masuk. Sebagai contoh, pernah ada perusahaan swasta yang berminat menjadi operator di Jabodetabek antara Bumi Serpong Damai-Tanah Abang, tetapi mereka diberi slot yang sepi sehingga mereka akhirnya mundur teratur.

Nanti di Sulawesi, peran operator ini dilelang secara adil dan transparan, sehingga izin trayek yang baik diberikan kepada mereka yang dapat membayar tinggi kepada Negara. Kelak dana yang masuk itu akan dialokasikan untuk pengembangan dan peningkatan dunia perkeretaapian juga akhirnya.

Direktur Arif H dan Kasatker Hendy S mendampingi.

Direktur Arif H dan Kasatker Hendy S mendampingi.

Pada kesempatan wawancara, Dirjen Hermanto Dwiatmoko didampingi oleh Direktur Prasarana Perkeretaapian, Arief Heriyanto, serta Hendy Siswanto, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jawa Tengah yang juga Kepala Satuan Kerja (Kasatker) pembangunan Jalur Ganda kereta api Semarang-Bojonegoro. Dijelaskan kembali oleh Dirjen tentang pentingnya kehadiran operator-operator swasta lainnya di perkeretaapian, sehingga akan tumbuh kompetisi yang sehat dalam memberikan pelayanan maksimal dan terbaik bagi masyarakat.

“Operasional kereta api konvensional bisa dilakukan oleh siapa saja. Berbeda dari kereta api monorel yang mau tidak mau jadi satu antara sarana prasarana. Dengan dibangunnya kereta api baru, tidak hanya di Sulawesi Selatan, melainkan juga di Batam, Bali atau Kalimantan akan membuka peluang bagi swasta untuk berinvestasi di bidang perkeretaapian sebagai operator,” papar Dirjen Hermanto Dwiatmoko tentang kiprah dan posisi pemerintah sebagai regulator dalam menerapkan UU No 23 Tahun 2007 untuk memajukan pelayanan kereta api secara merata di Tanah Air.

Selain itu, untuk menyongsong kehadiran multioperator kereta api, pemerintah telah menyiapkan sekolah di Madiun yang akan melahirkan SDM andal untuk mengisi lapangan kerja di perusahaan-perusahaan operator kereta api. Ringkas kata, masih banyak program-program yang akan dilakukan pemerintah untuk mengembangkan dan meningkatkan dunia perkeretaapian, yang bertujuan terciptanya keterhubungan antarwilayah, sekaligus memajukan perekonomian di Tanah Air. (Buyung Zulfiar)

Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?62710

Untuk melihat artikel Jakarta lainnya, Klik di sini

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

_____________________________________________________

Supported by :

Asuransi Mobil