Hendy SiswantoEsok pagi, 26 Maret 2014 dunia perkeretaapian di Tanah Air mencatat 1 lagi peristiwa bersejarah, yakni diresmikannya penggunaan jalur ganda kereta api lintas Utara Jawa dari Semarang hingga Bojonegoro.

Wakil Menteri Perhubungan RI, Bapak Bambang Susantono, meresmikan pelaksanaan switch over antara Stasiun Wadu-Stasiun Tobo pada 26 Maret 2014. Peristiwa ini menandai selesai tuntasnya pembangunan jalur ganda terpanjang di jalur utara Jawa, yakni Semarang –Bojonegoro.

Bersama sebagian kontraktor Semarang-Brojonegoro.Alhamdulillah,  berkat dukungan berbagai pihak dan kawan-kawan semua, kontrak kerja yang di tetapkan 18 bulan, efektif dapat diselesaikan dalam 16 bulan. Bagi saya, hal ini patut diapresiasi, setidaknya oleh istri dan anak-anak saya. He he he,” ucap Hendy Setiawan, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di lingkungan pengembangan perkeretaapian di Jawa Tengah, dan juga Kepala Satuan Kerja dalam pembangunan jalur ganda lintas Utara Jawa dari Semarang sampai Bojonegoro.

Pada peresemian ini dilakukan tahap akhir yakni switch over jalur Wadu-Tobo sepanjang 19,50 meter. Switch over adalah memindahkan operasional kereta api dari jalur rel eksisting yang single ke rel baru yang ganda. Ini dilakukan dalam waktu yang telah ditentukan, yaitu selama window time ketika jeda sampai kereta berikutnya masuk, sekitar 2 jam. Tidak boleh meleset agar tak menghambat perjalanan kereta api. Untuk itu dibutuhkan perencanaan dan tata kerja yang matang dan kesiapan SDM melibatkan ribuan orang.

Bersama tim Polda Jawa Tengah.“Menurut saya, ini pekerjaan spektakuler, sebab normalnya pembangunan serupa ini memakan waktu 3-4 tahun. Namun saya bersyukur sekali berkat dukungan Pimpinan, komitmen dari semua pihak, kawan-kawan anak negeri para kontraktor dan pihak-pihak terkait lainnya, utamanya Polda Jawa Tengah sehingga pembangunan ini berhasil dirampungkan total efekti dalam 16 bulan,” tambah Hendy, yang telah sedikitnya 19 tahun makan asam garam di bidang pembangunan jalan kereta api di Indonesia.

2 TITIK KENDALA YANG KRUSIAL

Bicara tentang pembangunan jalur ganda kereta api Semarang-Bojonegoro, Hendy berbagi pengalamanan. Terdapat dua kendala besar, sekaligus menjadi tantangan yakni pertama di kawasan Stasiun Semarang Tawang. Sejak 1970 rob telah membuat daerah ini selalu tergenang air hingga terbentuk danau di kiri-kanan jalan kereta api api eksisting. Permukaan tanah di situ pun turun 10 cm setiap tahunnya.

“Solusi untuk daerah ini sesungguhnya membuat jembatan rel kereta api atau elevating track. Namun, bila ini diterapkan sekarang, dana yang dicanangkan untuk pembangunan jalur ganda bisa tersedot semua untuk daerah ini saja. Padahal masih ratusan kilometer jalur ganda yang harus dibangun,” papar Hendy.

Alhamdulillah, teknologi tinggi Cerucuk Matras Bambu, karya anak bangsa bernama Prof Ir Masyur Irsyam, MSE, PhD mampu menjawab permasalahan ini. Cerucuk bambu berupa tiga batang bambu diikat jadi satu ditanam berjarak 1 meter, lalu dipadu matras bambu dengan komposisi anyaman variatif tergantung kondisi tanah. Setelah itu ditimbuni tanah, dan tanah inilah mengisi sela-sela matras yang kemudian menjadi lem terkuat di dunia. Dari hasil pengujian, tanah hanya turun 1 cm, setelah itu tanah menjejak secara mantap.”

Sebagian pekerja.Kendala krusial kedua adalah pembebasan tanah yang sangat sulit di Bengawan Solo, padahal yang diterapkan adalah penggantian untung. Dalam arti, tanah diganti berdasarkan penilaian tim appraisal independen dengan harga yang sangat baik. Namun beberapa warga di kawasan Bengawasn Solo masih meminta lebih, tetapi berkat bantuan semua pihak, pada 4 Maret satu per satu tanah bisa dibebaskan. Lalu dalam speed tinggi dilakukan pembangun, hingga akhirnya dalam 21 hari jalur ganda yang menjadi titik akhir pembangunan jalur ganda Semarang-Bojonegoro berhasil diselesaikan dengan selamat.

“Alhamdulillah, mulai 26 Maret 2014 ini lalu lintas kereta api di Bengawan Solo bisa memakai ruas jalan baru dan kereta api dapat melaju dengan kecepatan normal. Insya Allah, pembangunan jalur ganda Semarang-Bojonegoro ini dapat memberi manfaat kepada masyarakat luas, sesuai yang diharapkan dalam pembangunan nasional seperti tertuang dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI),” tutup Hendy Siswanto, penuh harap. (Buyung Zulfiar)

Untuk share artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?62622

Untuk melihat artikel Utama lainnya, Klik di sini

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

_______________________________________________________________

Supported by :

intero