Jangkar kekuatan ekonomi Indonesia, di antaranya Jakarta dan Surabaya. Karenanya, untuk menguatkan perekonomian nasional, sangatlah tepat menghubungkan kedua tulang punggung perekonomian itu dengan membangun jalur ganda lintas Utara Jawa. Kepada kabari, Wakil Menteri Perhubungan RI, Dr.Ir. Bambang Susantono, memaparkan ulasannya selaku ketua tim percepatan pembangunan jalur ganda KA lintas utara Jawa, Jakarta-Surabaya.

Sungguhkah jalur ganda atau double track kereta api (KA) jadi dibangun? Demikian komentar masyarakat setengah tak percaya tatkala mengikuti teleconference antara Wakil Presiden RI Boediono, yang kala itu didampingi Menteri Perhubungan EE Mangindaan, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Kepala Badan Pertanahan Nasional Joyowinoto, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono dan para pejabat eselon satu dari beberapa kementerian. Dialog dengan Kepala Daerah Wilayah Cirebon, Semarang dan Surabaya untuk membahas proyek pembangunan jalur ganda KA.

“Pembangunan jalur ganda Jakarta-Surabaya sepanjang 727 kilometer melintasi kawasan utara Jawa itu benar tengah giat kami kejar pengerjaannya. Ditargetkan, akhir 2013 rampung seluruhnya,” ujar Wamenhub Bambang Susantono.

Dia mengatakan selanjutnya, “Jangan melakukan hanya pada konsepsi, melainkan harus berbuat sesuatu. Sekaranglah waktunya untuk membuktikan konsep transportasi, kalau disusun bisa sampai ke bulan saking banyaknya itu, bisa benar-benar terimplementasi di lapangan. Kebetulan saya ditunjuk menjadi Wakil Menteri Perhubungan, maka saya ingin wujudkan itu dalam sisa kabinet ini. Salah satunya, membangun jalur ganda lintas utara Jakarta-Surabaya.”

Jalur Ganda Lintas Utara

Yang dimaksud jalur ganda adalah menempatkan konstruksi rel KA yang dibangun berjajar pada satu bidang tanah. Ini memungkinkan KA melintas secara berlawanan pada satu waktu yang sama, tetapi melalui perlintasan rel KA berbeda.

“Dari zaman penjajahan Belanda dulu memang tidak dibangun apa-apa di situ. Kemudian timbul keinginan dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden untuk membangun infrastruktur transportasi yang akan menjadi kebanggaan kita semua,” tambah Wamenhub penuh semangat.

“Dan yang sangat membanggakan adalah pembangunan jalur ganda lintas utara Jawa dari Jakarta ke Surabaya ini dilakukan oleh putra-putri kita semua. Mulai dari sisi perencanaan, inovasi, Sumber Daya Manusia (SDM), konstruksi dan beberapa teknologi baru. Misalnya, untuk mengatasi kondisi tanah di Semarang yang sering tergenang air pasang (robb) diterapkan teknologi cerucuk bambu yang merupakan inovasi dan paten karya putra bangsa, Prof Dr. Ir R Roeseno.”

Pendanaan proyek sekitar Rp.10 trilliun ditanggung secara mandiri, dianggarkan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) selama 3 tahun, dari anggaran 2011, 2012 dan 2013. Semua itu dianggarkan untuk pembebasan lahan, pembangunan badan jalan KA dan pemasangan rel, pembangunan jembatan, persinyalan dan telekomunikasi. Sama sekali tidak memakai dana investasi asing, kata Susantono, dan menambahkan, bahwa keseluruhan proyek ini hanya relnya saja yang masih impor. Kalau tidak, jalur ganda lintas Utara Jawa Jakarta-Surabaya ini 100% merupakan karya anak bangsa.

Membuka Peluang Bisnis

Ditargetkan, jalur ganda lintas utara Jawa ini dapat dioperasikan pada 2014. Bila sudah beroperasi, akan banyak manfaat yang bisa dipetik. Sebut saja semakin efektifnya waktu tempuh untuk pengangkutan penumpang dan barang. KA sebagai transportasi sejuta umat ini menjadi lebih cepat. Jika semula dibutuhkan 11 jam untuk satu kali jalan, kelak bisa berkurang menjadi 8,5 jam.

Selain itu dengan pengalihan angkutan penumpang dan barang dari jalan darat ke KA, pasti akan mengurangi kemacetan lalu lintas yang biasa memadati jalur pantai utara (Pantura), terutama ketika mayoritas masyarakat mudik saat Iedul Fitri.

“Jakarta dan Surabaya menjadi jangkar kekuatan finansial Indonesia. Dengan terhubungnya Jakarta-Surabaya, maka secara otomatis menyatukan tulang punggung ekonomi Indonesia. Diketahui, Surabaya merupakan pusat distribusi untuk wilayah Timur indonesia, seperti Sulawesi, Papua, Maluku, sedangkan Jakarta disamping melayani nasional, juga memasok ke arah Indonesia Barat,” papar Bambang lagi.

Menurut Wamenhub, tak kalah menariknya adalah, ini akan membuka jalur logistik baru. Tidak berhenti di situ. Sepanjang jalur ganda ini membuka peluang berdirinya kawasan industri baru, perdagangan baru, logistik baru, atau perusahaan-perusahaan yang terkait dengan usaha kecil menengah (UKM) serta tujuan wisata baru, seperti berwisata batik dan kuliner di Pekalongan. Jadi, destinasi wisata tidak hanya Cirebon, melainkan di daerah-daerah sepanjang Pantura juga. Dari sisi teori tata ruang, dengan ketersambungan atau konektivitas ini, utara Jawa menjadi koridor. Tidak terlihat desa lagi di sana, melainkan telah berubah menjadi kota yang bisa disebut desa kota.

Bagi pelaku usaha, ini akan memberi keuntungan yang nyata. Bagaimana tidak? Kapasitas angkut barang berkali lipat banyaknya dari moda seperti bus dan trailer. Dari literatur didapat perhitungan matematis, bila 1 rangkaian KA terdiri dari 20 gerbong, katakan per gerbong mampu mengangkut barang seberat 32 ton, berarti total berat barang yang dibawa sebanyak 640 ton. Bila diperbandingkan, lebih jauh lagi, itu setara dengan daya angkut 320 mobil boks, 107 truk ringan 2 axle, 46 truk besar 2 axle, 32 truk besar 3 axle dan 20 trailer.

Berarti lebih banyak barang yang terangkut dalam satu kali jalan, sehingga perusahaan bisa memangkas frekuensi pengangkutan, sekaligus biaya transportasi yang harus dikeluarkan. Lebih hemat dibandingkan mereka memakai jalan darat. Ditambah waktu tempuh menjadi lebih cepat, lebih aman, selamat dan kecil risiko dari kecelakaan. Maka perusahaanlah yang akan dimudahkan dan diuntungkan. Dan mereka bisa dapat lebih cepat bergerak dalam mengelola pendistribusian.

Melihat peluang-peluang yang didapat dari terbukanya akses jalur ganda lintas utara Jawa Jakarta-Surabaya ini, PT Kereta Api Indonesia (KAI) juga telah merespons dengan baik. Mereka telah memesan 100 lokomotif KA dari General Electric (GE), Amerika.

“Jadi, semuanya benar-benar bergerak, bertindak. Tidak No Action Talking Only, seloroh Bambang Susantono, tapi sungguh-sungguh.

Capai Sasaran Tepat Waktu

Jalur ganda lintas utara Jawa, masih terus dikerjakan secara terkoordinasi. Proyek besar yang melibatkan banyak pihak, dari Kementerian Perhubungan, Provinsi Jawa Tengah, TNI, Polri, hingga masyarakat setempat diharapkan dapat rampung segera. Tentu dampak positifnya akan kembali kepada semua pihak.

Yang tak kalah diperhatikan Bambang Susantono adalah bagaimana mewujudkan prasarana dan sarana transportasi yang humanis. Dengan kata lain, transportasi yang bisa diandalkan, nyaman, aman, selamat, dan dengan biaya terjangkau. “Belajar tak mengenal berhenti”. Karena itu dengan banyak melakukan perjalanan ke luar negeri, ia juga memanfaatkannya untuk studi banding.

“Saya pernah mencoba kereta api dengan kecepatan 431 km/jam yang disebut kereta magnet di Shanghai,Tiongkok. Kontrasnya, naik kereta yang ditarik keledai di kaki Gunung Kilimanjaro, Afrika. Dari semua itu, saya petik pembelajaran yang pada intinya saya berkesimpulan, transportasi dipengaruhi oleh kultur budaya suatu negara,” ujar Bambang Susantono.

Ditambahkannya, selain melakukan pembangunan prasarana, kualitas transportasi yang baik itu harus diiringi dengan pelayanan dan kemudahan bagi konsumen. Misalnya, pengadaan layanan call centre yang bisa terhubung ke seluruh jaringan stasiun kereta api di Indonesia. Semua pihak, dari pemerintah, swasta dan masyarakat punya peran yang sama dalam memperjuangkan transportasi seperti yang diharapkan. (1003)

Untuk share artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?50853

Untuk melihat artikel Utama lainnya, Klik di sini

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

_______________________________________________________________

Supported by :