Windy Setiadi, itulah nama perempuan kelahiran 13 Januari 1985 ini.
Cewek multi-talenta ini sudah berkiprah di bidang musik sejak kecil.
Minatnya terhadap musik tumbuh ketika mengikuti sekolah musik di
Yayasan Pendidikan Musik saat ia kelas 2 SD. Setelah lulus SMA,
barulah Windy memutuskan untuk menekuni bidang ini dan meneruskan
pendidikan ke Berklee College of Music, Boston. Awalnya Windy mengambil
jurusan Music Education, kemudian pindah jurusan ke Music Production
and Engineering pada tahun 2006. Setahun kemudian Windy lulus dari
Berklee.

Terjun kedalam dunia musik secara total merupakan
cita-citanya. Tidak hanya piano, Windy juga menguasai alat musik biola
dan gitar. Kemudian ia juga tertarik pada musik gamelan. Sewaktu baru
datang ke Boston, kebetulan PERMIAS (Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat) sedang mengadakan acara Indonesian Night.
Saat itu ia menyaksikan Gamelan Galak Tika dan menyadari bahwa
apresiasi masyarakat di luar negeri terhadap Indonesia sangat besar.
“Sejak itu gue bertekad untuk jadi satu dari sekian banyak orang
Indonesia yang sukses mempopulerkan seni tradisi di luar negeri”, papar
Windy.

Setelah menyaksikan penampilan Gamelan Galak Tika,
Windy memutuskan untuk bergabung di Gamelan Galak Tika dan melakukan
serangkaian acara, salah satunya tur ke Bali. “Lumayan, gue
satu-satunya orang Indonesia yang pulang kampung gratis hehehehe”.
Dalam grup gamelan tersebut, Windy adalah satu-satunya orang Indonesia
ditengah kumpulan pemain gamelan bule.

Sehari-hari Windy
bekerja di World Music Institute, sebuah organisasi nirlaba yang
mengundang musisi mancanegara untuk manggung di New York. Ia juga suka
mengeksplorasi sesuatu yang baru, something challenging. Windy mengaku jiwa petualang sudah ada dalam dirinya sejak kecil.

Ketika
ditanya tentang harapannya, Windy berharap suatu saat bisa membantu
karir para musisi-musisi tradisi, karena sejauh ini banyak musisi yang
punya dedikasi tinggi, tetapi hidupnya masih sangat sederhana. Selain
itu Windy ingin jadi promotor sukses seperti Adrie Subono, tetapi
fokusnya lebih kepada world music, bukan commercial music.

Menurut
Windy, musik merupakan hasrat berkesenian dirinya yang sudah mendarah
daging. Pengalaman paling berkesan baginya adalah ketika masih kuliah
di Berklee, saat itu wanita yang pernah menjadi model ini sering
kolaborasi dengan musisi-musisi dari berbagai penjuru dunia. Ia juga
mendapatkan bermacam-macam project, seperti memproduksi Colombian Big Band, Australian Didgeridoo dan Gamelan Galak Tika, dimana ia ikut bermain.

Sejak
tinggal di Amerika, Windy mengaku banyak bertemu dan berkenalan dengan
ahli-ahli musik tradisi. Setiap itu pula Windy kerap merasa tertantang
untuk mengahasilkan karya yang lebih baik dari mereka. Kalau ditanyakan
mau kolaborasi dengan siapa, dia menjawab “Banyak!”.

Sekarang Windy sudah pindah ke New York dan bergabung dengan grup gamelan Dharma Swara.
Ketika diminta 5 kata untuk mendeskripsikan dirinya, ia menjawab passion, ambition, motivation, enthusiasm dan impatient. Lho, impatient? “Iya. Impatient sudah trademark gue lah”, katanya kepada Kabari. Salut untuk Windy atas dedikasinya di bidang musik. You Go Girl! (Chika)

Untuk Share Artikel ini, Silakan Klik www.KabariNews.com/?31481

Mohon Beri Nilai dan Komentar di bawah Artikel ini

______________________________________________________

Supported by :

MedicIns

Lebih dari 10 Program Asuransi Kesehatan

Klik www.TryApril.com           Email : Info@ThinkApril.com

Telp. 1-800 281 6175