Jogjarockarta 2025 resmi menjadi edisi terakhir festival rock terbesar di Yogyakarta, ditutup dengan penampilan Anthrax dan penuh momen emosional. Festival ini berlangsung pada 6–7 Desember 2025 di Stadion Kridosono, menghadirkan musisi nasional dan internasional, serta menyuarakan solidaritas sosial.
Jogjarockarta 2025 menjadi edisi pamungkas setelah delapan tahun eksis sejak 2017. Penyelenggara Rajawali Indonesia menyampaikan bahwa festival ini harus berhenti “dengan penuh kehormatan” karena faktor waktu dan dinamika industri.
Stadion Kridosono Yogyakarta kembali menjadi saksi dentuman musik cadas. Ribuan penonton dari berbagai daerah memadati venue, menciptakan atmosfer pesta rock yang intens sejak siang hingga malam.
Hari pertama menampilkan Jamrud, Ugly Kid Joe, dan Kaisar, yang berhasil memanaskan panggung. Kehadiran band lintas generasi ini mempertemukan pecinta musik rock dari berbagai usia.
Hari kedua ditutup oleh Anthrax, band thrash metal asal New York. Penampilan mereka menjadi klimaks festival, dengan energi besar yang mengguncang stadion.
Anthrax juga melelang gitar milik Scott Ian untuk membantu korban bencana di Aceh dan Sumatra. Aksi ini menegaskan bahwa Jogjarockarta bukan sekadar hiburan, tetapi juga mimbar solidaritas kemanusiaan.
Band Marjinal dan komunitas punk turut menyuarakan kritik sosial di atas panggung. Distorsi gitar dan teriakan vokal menjadi amplifikasi isu-isu kemanusiaan yang relevan dengan kondisi Indonesia.
Sejak 2017, Jogjarockarta telah menghadirkan nama besar seperti Helloween, Scorpions, hingga Dream Theater. Tahun 2025 menjadi puncak sekaligus perpisahan, meninggalkan kenangan mendalam bagi penggemar.
Penonton tidak hanya datang dari Yogyakarta, tetapi juga dari berbagai kota di Indonesia bahkan mancanegara. Hal ini menunjukkan reputasi Jogjarockarta sebagai festival rock bertaraf internasional.
Festival ini memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat budaya musik keras di Indonesia. Kehadirannya selama delapan tahun menjadi bukti bahwa musik rock tetap memiliki basis penggemar yang solid.
Meski berakhir, Jogjarockarta meninggalkan warisan penting: musik rock sebagai ruang ekspresi, solidaritas, dan perlawanan. Para penggemar akan terus merindukan dentuman cadas yang pernah mengguncang Kota Gudeg.
Jogjarockarta 2025 bukan hanya festival musik, melainkan sebuah perayaan terakhir yang menegaskan arti rock sebagai energi, solidaritas, dan kenangan kolektif.
Sumber Foto: Istimewa
Baca Juga:
- BCA Syariah Bedah Makna “Sahabat” Bersama Ivan Gunawan, Fico Loygara, dan Ustaz Halim Ambiya
- Bawa Summer Horns, Dave Koz Kembali ke Panggung Java Jazz
- “Tribute to Erros Djarot” – Musisi Lintas Generasi Rayakan Karya-Karya Sang Maestro di Java Jazz Festival 2026
- 25 Tahun Janji Suci Yovie & Nuno
- Jon Batiste Tampil Berkilau di Java Jazz Festival 2026

