Menjalani hidup yang panjang dan sehat adalah tujuan banyak orang, tetapi gen yang baik hanyalah sebagian dari faktor penentunya. Kebiasaan sehari-hari yang kita lakukan memiliki peran besar dalam proses penuaan.
Membiarkan kekhawatiran menumpuk atau melewatkan waktu untuk menyendiri mungkin terlihat sepele, namun perlahan dapat menggerogoti kesehatan dan usia panjang. Berikut beberapa kebiasaan umum yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan Anda, beserta cara sederhana untuk menggantinya dengan rutinitas yang mendukung hidup lebih kuat dan lebih lama.
Berbicara Negatif pada Diri Sendiri
Pola bicara negatif terhadap diri sendiri dapat berdampak buruk pada suasana hati, sering kali memperkuat keyakinan inti yang tidak sehat atau pola pikir mendasar yang memengaruhi perasaan dan perilaku sehari-hari.
“Seiring waktu, berbicara negatif pada diri sendiri, dengan dampaknya terhadap suasana hati yang cemas atau depresi, dapat meningkatkan risiko perilaku penanganan yang tidak sehat, seperti konsumsi alkohol berlebihan, kurang olahraga atau pola makan bergizi, serta gangguan kecemasan dan depresi,” ujar Dr. Ashwini Nadkarni, MD, profesor asisten psikiatri di Harvard Medical School.
Alih-alih terjebak dalam kritik diri yang keras, ia menyarankan pendekatan berbeda. “Seseorang bisa mengakui apa yang tidak berjalan baik, lalu menerapkan belas kasih pada diri sendiri, yang dapat meningkatkan motivasi untuk terlibat dalam pemecahan masalah.”
Menggulir Media Sosial untuk Memperbaiki Suasana Hati
Doom-scrolling atau menggulir berita negatif tanpa henti dapat menurunkan suasana hati, meningkatkan stres, dan mengurangi kepuasan hidup dalam jangka panjang.
“Selain kecemasan dan depresi, doom-scrolling dapat memperburuk kondisi kesehatan mental yang sudah ada seperti PTSD atau menyebabkan masalah tidur dan kognisi,” kata Ashwini.
Daripada secara otomatis meraih ponsel untuk menggulir layar, ia menyarankan mencoba hal lain. “Berjalanlah ke luar rumah. Atau, alih-alih membuka media sosial atau peramban, pertimbangkan untuk menekan tombol ‘putar’ pada daftar putar musik yang menenangkan.”
Terus-Menerus Khawatir
Baik soal pekerjaan, sekolah, maupun hubungan, kekhawatiran yang menetap dan tidak terkendali dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik.
“Misalnya, sakit kepala, gangguan tidur, dan gangguan pencernaan seperti sindrom iritasi usus besar sering dikaitkan dengan kekhawatiran berlebihan,” ujar Ashwini.
Alih-alih terjebak dalam lingkaran pikiran yang menjatuhkan, cobalah mengalihkan fokus pada pikiran yang mendorong tindakan dan tanyakan pada diri sendiri bagian mana dari kekhawatiran yang sebenarnya bisa Anda kendalikan.
“Kemudian, lanjutkan dengan tindakan yang mencerminkan kendali tersebut,” kata Ashwini. “Ide lain adalah melakukan aktivitas fisik. Mengalihkan perhatian pada olahraga adalah cara sederhana untuk mengurangi stres.”
Kurang Bersosialisasi
Tidak cukup menghabiskan waktu dengan orang lain dapat memicu kesepian, yaitu perasaan terputus yang berkaitan dengan ketidakpuasan terhadap kualitas hubungan. Selain kaitannya dengan depresi dan demensia, kesepian juga berhubungan dengan masalah kesehatan serius seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, bahkan kematian dini, menurut Ashwini.
“Individu yang merasa kesulitan bersosialisasi dapat memperoleh manfaat dengan melibatkan diri dalam lebih banyak situasi sosial, meski tidak selalu menuntut percakapan langsung. Misalnya, mengikuti kelas baru bersama orang lain atau bergabung dalam kegiatan relawan komunitas,” ujarnya.
Cara Menghentikan Kebiasaan Buruk
Kebiasaan menjadi otomatis seiring waktu refleks dan sering kali tidak disadari sehingga sulit dikenali saat mulai berdampak negatif pada kehidupan sehari-hari. Dari sudut pandang kesehatan mental, Ashwini mengatakan tanda kunci suatu kebiasaan berbahaya adalah ketika kebiasaan tersebut mengganggu kemampuan seseorang mengelola tanggung jawab pribadi, berkinerja di tempat kerja, atau menjaga hubungan sosial
Untuk mulai melepaskan kebiasaan yang merugikan namun sudah akrab, ia merekomendasikan untuk melacaknya. “Artinya melakukan pemantauan diri terhadap pemicu kebiasaan dan bagaimana kebiasaan tersebut memengaruhi suasana hati serta pikiran. Terakhir, membingkai ulang pikiran negatif untuk mengganti kebiasaan itu dengan strategi yang lebih positif adalah hal yang krusial.”
Sumber Foto: Keenan Constance / Pexel.com
Baca Juga:
- Artscience Museum Dan Oceanx Mengajak Pengunjung Menjelajahi Dunia Bawah Laut Luar Biasa Yang Jarang Terlihat Oleh Manusia
- La Maison De L’Indonésie Perkuat Diplomasi Ekonomi ASEAN Lewat Kunjungan ke Rungis Market Paris
- Akselerasi Digitalisasi UMKM Banjarmasin Lewat Program Kota Masa Depan
- Grab Luncurkan Corporate Dine Out, Urusan Jamuan Makan Kantor Kini Bebas Reimburse!
- 17 Tahun Kemudian, Slank Kembali Mengoyang Panggung Java Jazz

