Lima pelukis (perupa) berkolaborasi dalam pameran bersama seni lukis bertajuk “Ritmis Hayati” yang diselenggarakan pada 30 Mei – 29 Juni 2026 di T-Space Bintaro, Tangerang Selatan. Pameran ini menghadirkan 31 karya Agoes Noor, Gogor Purwoko, Ireng Halimun, Nurdin Yusup, dan Yogi Wistyo.

Koordinator pameran Ireng Halimun mengatakan, di tengah kebangkitan seni lukis (seni rupa) di Indonesia pasca-Pandemi Covid 19, para pelukis (perupa) bersemangat menggelar beberapa kegiatan pameran. Ada yang bergerak untuk menjaga aktualisasi diri dan ada pula yang baru menapaki untuk pencarian jati diri.

“Ada yang memulai dengan sikap afeksi (kecintaan) atau sekadar pada proses penciptaan karya seni lukis (seni rupa) dan ada pula yang berorientasi pada sikap professional dalam memproduksi karya sebagai sesuatu yang akan menghasilkan cuan,” tutur Ireng.

Menurut Ireng, semua itu tetap bernilai positif dalam memajukan seni-budaya di Indonesia sesuai dengan Undang Undang Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan. Begitu pula dengan lima pelukis ini menggelar pameran bertujuan agar tetap menjaga keberadaan (eksistensi) diri dan berupaya menaikkan nilai jual karya yang diciptakan.

Kelima pelukis ini tetap menjaga idealisme, semangat berjuang, dan memperhatikan segi komersialisme sebagai konsekuensi dari profesi yang digeluti. Seburuk apapun kondisinya, kegiatan seni-budaya harus tetap bergerak dan kelima pelukis ini satu di antara yang terus menjadi penggeraknya.

Kuratorial Pameran Frigidanto Agung mengungkapkan, melihat lukisan member kesan bahwa bentuk-bentuk yang dilukiskan memunyai maksud, warna yang mengisi bentuk memberi arah dan tujuan, sedangkan garis memperlihatkan batasan.

Sesuatu yang dikuasai dalam kehidupan ini, baik itu keterampilan, keilmuan, maupun pengalaman, member pengertian mendasar serta member tanda hayati, bagaimana manusia mencari kehidupannya. Hal-hal itulah yang sebenarnya diperjuangkan untuk menilik kedalaman jiwa, sehingga terasa mental bekerja dalam ruang yang manusia rekam dalam jejak hidupnya.

Jejak hidup sebagai tanda hayati yang dapat dipelajari. Memungkinkan manusia berpikir dengan luas mendapatkan penekanan yang representatif atas aktivitas hidupnya. Kelak di kemudian hari akan menjadi nilai, serta dapat dijadikan landasan untuk hidup dan menjadi dasar pemikiran dalam mengolah gagasan. Orientasi pemikiran menjadi tanda bahwa perbedaan antara manusia satu dan yang lainnya. Kekuatan verbal mendorong aktivitas lebih sehingga membuat representasi kerja berkembang.

Perkembangan itulah yang dapat dijadikan dasar untuk penilaian bersama menjadi pencapaian yang dilandasi rona hayati dengan bentuk prestasi. Demikian juga dengan seni, pengembaraan seniman atas dasar pemikiran terhadap karyanya member peluang untuk dilihat kekuatan estetikanya setelah berusaha menampilkan lukisannya. Pameran dengan judul “Ritmis Hayati”, mencoba menampilkan tatanan estetika yang telah mereka lakukan setiap waktu dengan kajian mendasar atas keyakinan tata nilai estetis yang dikembangkan oleh masing-masing seniman selama ini.

Kelima pelukis telah memunyai estetika dengan kekuatan masing-masing dalam reka visualnya. Mencoba pengalaman baru dengan menyatukan ruang nyata, baik ruang nyata berpameran atau ruang nyata menampilkan gagasan, mereka menampilkan gaya lukisan yang telah mereka yakini untuk membuat framing atas gagasan dalam pameran ini.

“Kekuatan estetika mereka tidak disangkal lagi, karena pengalaman yang telah mereka lakukan selama karier berkesenian mereka,” ungkap Agung.

Peresmi pameran, Thony Saut Situmorang menambahkan, seni mengambil peran dengan mengingatkan bahwa kehidupan bukan sekadar angka karbon, grafik suhu, atau laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). “Seni mengembalikan kita pada rasa, kesadaran, dan kemanusiaan,” tegas Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi 2015 – 2019 dan pegiat seni tersebut.

Melalui karya-karya ini, kata Saut, pengunjung diajak melihat bahwa ritme kehidupan tidak boleh dibiarkan pecah. Harmoni hayati harus dijaga, bukan hanya dihitung. Indonesia adalah hilir dari ribuan sungai kebudayaan dari Sabang sampai Merauke. Kekayaan ini bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi masa depan bangsa.

Business Development T-Space Bintaro, Jessica Qezyvin, bersyukur bias menyediakan ruang pameran yang direspons positif oleh para seniman dengan antusias. T-Space diresmikan oleh dr Tompi, musisi sekaligus dokter bedah plastik, pada akhir 2023.

T-Space berdiri karena keinginan dr Tompi memunyai satu tempat di mana setiap orang yang akan mencari pelayanan apapun semua tersedia. Itulah mengapa T-Space meleburkan semua, termasuk diadakannya ruang pameran.

Sumber Foto: Istimewa

Baca Juga: