Indonesia mencatat sekitar 1,4 juta pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) dengan tingkat mortalitas 8,1%, menjadi salah satu yang tertinggi secara global. Namun di balik angka tersebut, masih banyak pasien yang terlambat terdiagnosis, bahkan baru mendapat kepastian diagnosis ketika sudah mengalami kerusakan organ.

Dalam momentum Hari Lupus Sedunia, AstraZeneca Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk mengubah realita ini melalui inisiatif edukasi bertemakan From Burden to Living Well, guna meningkatkan pemahaman akan SLE, mendorong percepatan deteksi dini, dan penguatan akses terhadap penanganan SLE yang lebih tepat bagi masyarakat Indonesia.

“Di AstraZeneca Indonesia, kami senantiasa berkomitmen untuk memajukan layanan bagi pasien dengan penyakit kronis dan kompleks melalui inovasi, riset, dan kolaborasi. Untuk SLE, peningkatan kesadaran masyarakat merupakan langkah penting agar masyarakat dapat mengenali gejala lebih awal dan pasien dapat memperoleh penanganan yang tepat. Melalui kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan, kami berharap dapat mendukung pemahaman penyakit yang lebih baik, diagnosis yang lebih dini, serta penanganan yang lebih tepat, sehingga semakin banyak penyandang SLE di Indonesia dapat mencapai kualitas hidup yang lebih baik,” ungkap Esra Erkomay, Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia.

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai organ tubuh, termasuk kulit, sendi, ginjal, hingga sistem saraf pusat. Penyakit ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh kehilangan kemampuan untuk membedakan jaringan sehat, sehingga menyerang organ tubuh sendiri dan memicu peradangan kronis. Kondisi ini membuat SLE memiliki manifestasi klinis yang sangat beragam dan sering kali menyerupai penyakit lain.

Secara global, SLE masih menjadi tantangan kesehatan dengan beban penyakit yang tinggi, namun belum teridentifikasi secara optimal di berbagai negara akibat keterbatasan data epidemiologi. Data epidemiologi global SLE, tahun 1992 hingga 2022 yang dikumpulkan dari studi 30 tahun terakhir menunjukkan insidensi SLE diperkirakan mencapai 5,14 (1,4-15,3) per 100.000 orang-tahun, dengan sekitar 400.000 kasus baru terdiagnosis setiap tahunnya. Insidensi di Indonesia diperkirakan mencapai 7,4 (1,11-29,7) per 100.000 orang per tahun. Di samping itu, Indonesia juga menempati peringkat keempat secara global dalam jumlah perempuan usia produktif (15-45 tahun) dengan SLE, menjadikan penyakit SLE bukan hanya persoalan medis, tetapi juga isu sosial dan ekonomi karena dapat memengaruhi kualitas hidup, produktivitas, serta peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat.

“SLE sering disebut sebagai penyakit seribu wajah karena gejalanya sangat beragam dan tidak spesifik. Pasien dapat mengalami kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, hingga keterlibatan organ seperti ginjal dan sistem saraf. Gejala tersebut dapat muncul secara bertahap maupun tiba-tiba, sehingga sering kali membuat proses diagnosis menjadi lebih panjang,” ujar dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR.

Secara klinis, SLE dipicu oleh aktivitas sistem imun yang berlebihan. Salah satu mekanisme penting yang berperan dalam proses inflamasi pada SLE adalah jalur Interferon Tipe I yang dapat membuat tubuh berada secara terus menerus dalam kondisi menyerang dirinya sendiri. Jika tidak terdeteksi dan ditangani secara tepat, peradangan kronis ini dapat menyebabkan kerusakan organ yang bersifat permanen.

“Perjalanan penyakit SLE bersifat fluktuatif, dengan periode flare dan terkontrol. Karena itu, pasien membutuhkan pemantauan serta penanganan jangka panjang. Tantangan yang sering kami temui di praktik klinis adalah keterlambatan diagnosis akibat gejala yang menyerupai penyakit lain. Pada banyak kasus, pasien baru terdiagnosis ketika sudah terjadi kerusakan organ, sehingga kondisinya menjadi lebih kompleks,” tambah dr. Sandra.

Keterlambatan diagnosis dan penanganan SLE dapat memberikan dampak dan berpengaruh terhadap pasien. Data menunjukkan sekitar 82% pasien mengalami penurunan produktivitas akibat kelelahan; 43,9% mengalami ketidakhadiran di sekolah atau pekerjaan; 32,5% terpaksa berhenti bekerja sepenuhnya; dan sekitar 50% menghadapi dampak psikologis yang signifikan akibat perjalanan penyakit yang panjang.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa beban SLE tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga mempengaruhi kondisi psikologis, aktivitas harian, serta kemampuan pasien untuk tetap produktif. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran publik terhadap gejala SLE menjadi langkah penting agar pasien dapat mencari pertolongan medis lebih cepat dan memperoleh penanganan yang sesuai sejak dini.

Seiring berkembangnya pemahaman terhadap mekanisme penyakit, pendekatan penanganan SLE juga terus mengalami kemajuan. Saat ini, penanganan SLE tidak hanya berfokus pada mengatasi flare, tetapi juga diarahkan untuk mencapai remisi sebagai target utama. Dalam jangka panjang, pendekatan ini bertujuan menjaga aktivitas penyakit tetap rendah secara konsisten, mencegah kerusakan organ, serta meminimalkan penggunaan Glukokortikoid jangka panjang yang berisiko menimbulkan efek samping. The European Alliance of Associations for Rheumatology (EULAR) juga merekomendasikan hal serupa dengan menekankan pentingnya remisi, pembatasan kerusakan organ, pencegahan flare, serta pengurangan penggunaan Glukokortikoid dalam penanganan SLE.

Salah satu inovasi terbaru adalah Anifrolumab, terapi biologis pertama di Indonesia yang diindikasikan untuk SLE, yang bekerja dengan menargetkan jalur Interferon Tipe I. Anifrolumab bekerja dengan menghambat sinyal melalui reseptor Interferon Tipe I, jalur yang diketahui berperan dalam patogenesis SLE. Pendekatan ini menjadi bagian dari perkembangan terapi yang lebih terarah untuk membantu pasien dengan SLE aktif pada kategori sedang hingga berat, sesuai evaluasi dan pengawasan dokter.

“Pendekatan penanganan SLE kini telah berkembang menuju terapi yang lebih terarah dan berbasis bukti. Pemahaman yang lebih mendalam terhadap mekanisme penyakit, termasuk peran Interferon Tipe I, membuka peluang untuk menghadirkan opsi terapi yang dapat membantu mengontrol aktivitas penyakit secara cepat dan konsisten, mencapai remisi, serta perlindungan dari kerusakan organ dalam jangka panjang,” ujar dr. Feddy, Medical Director AstraZeneca Indonesia.

Inovasi terapi perlu berjalan beriringan dengan edukasi, diagnosis yang lebih cepat, serta penerapan praktik klinis berbasis bukti. Hal ini penting agar pasien dapat memperoleh terapi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya, serta mendapatkan pendampingan yang berkelanjutan dalam perjalanan penyakit yang bersifat kronis.

Sandra juga menambahkan, “Meski SLE merupakan penyakit kronis, pasien tetap memiliki harapan untuk menjalani hidup berkualitas baik. Kuncinya adalah kontrol rutin, pemantauan dokter secara berkala, serta kepatuhan dalam menjalani terapi optimal. Dengan terapi yang optimal dan berkelanjutan, maka pasien berpeluang mencapai remisi yang lebih dini dan berkelanjutan, serta terlindungi dari risiko kerusakan organ jangka panjang.”

“Melalui semangat ‘From Burden to Living Well’, kami ingin menekankan bahwa masa depan penanganan SLE perlu diarahkan pada upaya membantu pasien menjalani hidup dengan lebih baik. Bagi AstraZeneca, inovasi terapi, peningkatan kesadaran, serta kolaborasi pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam memperkuat penanganan SLE di Indonesia,” ungkap dr. Feddy.

Sebagai bentuk dukungan, AstraZeneca terus berkomitmen memperkuat perannya melalui kolaborasi strategis lintas pemangku kepentingan, pengembangan terapi berbasis sains, dukungan terhadap inisiatif berbasis bukti seperti studi real-world evidence (RWE), serta program edukasi kesehatan yang telah menjangkau lebih dari 87.000 generasi muda di Indonesia.

“Kami percaya bahwa peningkatan kesadaran terhadap SLE perlu terus diperkuat agar masyarakat dapat mengenali gejala lebih awal dan pasien dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat. Melalui kolaborasi berkelanjutan, kami berharap semakin banyak pasien SLE di Indonesia dapat bergerak dari beban penyakit menuju kualitas hidup yang lebih baik,” tutup Esra Erkomay, Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia.

Sunber Foto: Istimewa

Baca Juga: