Film Pelangi di Mars tidak hanya hadir sebagai tontonan fiksi ilmiah anak, tetapi juga menandai upaya serius membangun kekuatan intellectual property (IP) lokal yang berakar pada budaya Indonesia. Di tengah dominasi konten global, film ini mencoba menawarkan identitas berbeda: perpaduan teknologi masa depan dengan nilai-nilai lokal yang dekat dengan keseharian anak-anak Indonesia.

Sutradara Upie Guava menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar eksperimen visual, melainkan langkah strategis untuk menciptakan karya yang bisa membentuk karakter generasi muda.

“Dulu setiap hari saya pengin cepat pulang sekolah, naik sepeda, berkelana, dan berpikir suatu saat bisa menaklukkan dunia,” ujar Upie, dalam keterangan tertulis yang diterima Independent Observer.

Berbeda dari banyak film animasi lain, Pelangi di Mars justru menonjolkan unsur lokal sebagai kekuatan utama. Salah satu contohnya adalah karakter robot Batik, yang tidak hanya menjadi elemen visual unik, tetapi juga simbol identitas budaya yang dibawa ke masa depan.

Produser Dendi Reynando melihat langkah ini sebagai bagian dari visi besar membangun ekosistem kreatif nasional yang berkelanjutan. Ia menilai negara besar selalu memiliki karya yang membentuk imajinasi kolektif masyarakatnya.

“Orang-orang besar itu biasanya sejak kecil sudah berpikir mereka mampu melakukan sesuatu yang besar. Literasi itu yang membentuk,” katanya.

Melalui pendekatan ini, Pelangi di Mars mencoba mengisi celah yang selama ini belum banyak digarap: menghadirkan cerita futuristik yang tetap terasa “Indonesia”.

Proses produksi yang memakan waktu hingga 5,5 tahun menunjukkan bahwa film ini bukan proyek instan. Dari riset teknologi sejak 2020 hingga pembangunan pipeline produksi, tim kreatif berupaya mengejar standar global.

“Kita ini termasuk early adopters. Kita mulai hampir bersamaan dengan perkembangan teknologi di Hollywood. Harapannya, kita bisa tumbuh pintar bersama,” jelasnya.

Langkah ini menempatkan Pelangi di Mars bukan hanya sebagai produk hiburan, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang dalam pengembangan teknologi animasi dalam negeri.

Cerita tentang Pelangi anak Indonesia yang lahir di Mars ini dirancang untuk membuka cakrawala berpikir anak-anak. Dengan latar masa depan dan kolaborasi lintas negara melalui karakter robot, film ini mengajak penonton melihat kemungkinan yang lebih luas.

“Film sci-fi itu sebenarnya tentang kemungkinan. Dulu video call atau robot terasa seperti khayalan, sekarang jadi nyata. Anak-anak yang terinspirasi itulah yang mungkin akan menciptakan masa depan,” ujarnya.

Di balik visual dan aksi, film ini membawa misi sosial yakni menghidupkan kembali kebiasaan menonton bersama keluarga sekaligus membuka ruang diskusi tentang cita-cita anak.

“Ini bukan cuma soal nonton di bioskop, tapi dampak setelahnya. Kalau anak-anak mulai percaya mereka bisa sejauh itu, di situlah mimpi besar dimulai,” kata Dendi.

Sumber Foto: Istimewa

Baca Juga: