Ada sejumlah wilayah di dunia di mana penduduknya memiliki tingkat penyakit yang lebih rendah, terutama penyakit kronis seperti tekanan darah tinggi dan diabetes. Tempat-tempat ini dikenal dengan sebutan “blue zones”.

“Sebagian besar penelitian yang dipublikasikan sejauh ini bersifat deskriptif, mengamati bahwa persentase penduduk di komunitas tersebut hidup jauh lebih lama dan sering kali terhindar dari penyakit yang berkaitan dengan usia,” jelas Dr. Deborah Kado, MS, salah satu direktur Stanford Longevity Center.

Kebiasaan dan gaya hidup masyarakat di “blue zones” berkontribusi besar terhadap panjang umur dan kesehatan mereka. Tak bisa dipungkiri, kita semua bisa belajar banyak dari pola hidup mereka. Untuk memahami lebih dalam tentang “blue zones” dan rahasia para penghuninya, para ahli panjang umur pun membagikan penjelasannya.

Apa Itu “Blue Zones” dan Bagaimana Ditemukan?

Istilah “blue zone” muncul dari para ilmuwan yang menandai wilayah berpenduduk panjang umur di peta menggunakan pena berwarna biru. Dalam penelitian yang dipimpin Dan Buettner dan Sam Skemp (bersama para demografer dan ahli epidemiologi) yang diterbitkan di American Journal of Lifestyle Medicine pada tahun 2016, Buettner dan timnya mengidentifikasi perilaku apa saja yang berkontribusi terhadap umur panjang dan kualitas hidup masyarakat di wilayah-wilayah tersebut. Mereka mengumpulkan data demografis, mewawancarai penduduk, dan mempersempit fokus penelitian pada beberapa wilayah spesifik di dunia.

Secara singkat, para peneliti membandingkan pola makan, kebiasaan hidup, lingkungan, serta hubungan sosial. Hasilnya bukan hanya menginspirasi, tapi juga memotivasi untuk lebih peduli pada kesehatan diri sendiri. “Saya sering menasihati pasien bahwa tiga kebiasaan hidup paling penting adalah memiliki tujuan hidup, pola makan kaya buah dan sayuran segar setiap hari, serta tetap aktif bergerak, sambil menjaga postur tubuh dan keseimbangan,” kata Dr. Kado.

Wilayah yang termasuk “blue zones” adalah Okinawa (Jepang), Sardinia (Italia), Nicoya (Kosta Rika), Ikaria (Yunani), dan Loma Linda (California, AS). Namun sebelum terburu-buru ingin pindah ke sana, ketahuilah bahwa kebiasaan mereka bisa diterapkan di mana pun Anda tinggal.

Gaya Hidup yang Biasa Dilakukan Penduduk “Blue Zones”

Penduduk di wilayah ini umumnya mengonsumsi makanan nabati utuh, seperti sayuran hijau, kacang-kacangan, kedelai, dan lentil. Mereka juga menerapkan pengendalian porsi makan, jarang makan daging.

Aktivitas fisik menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, seperti berkebun, membersihkan rumah, atau memperbaiki barang di rumah. Mereka juga tidur cukup dan sesekali tidur siang untuk mengurangi stres.

Untuk mengelola stres, penduduk “blue zones” rutin beristirahat sejenak di tengah hari, berkumpul dengan teman untuk berbincang dan berbagi cerita, serta menjalin hubungan sosial yang erat dalam komunitasnya. Mereka juga menaruh perhatian besar terhadap keluarga, merawat orang tua, dan menjaga spiritualitas serta rasa tujuan hidup.

 Kebiasaan Sehari-hari yang Bisa Ditiru dari Penduduk “Blue Zones”

  1. Lebih Banyak Berjalan Kaki

 Penduduk “blue zones” terbiasa berjalan kaki setiap hari. “Berjalan adalah olahraga terbaik,” ujar pelatih pribadi Marjorie Jaffe. Cobalah berjalan untuk berbelanja, bertemu teman, atau sambil berbicara di telepon. Mulailah dari lima menit sehari dan tingkatkan durasinya perlahan.

  1. Rutin Mengurangi Stres

Stres tidak bisa dihindari, tapi bisa dikendalikan. “Anda adalah penjaga gerbang bagi stres Anda sendiri,” kata Jaffe. Jika sumber stres sulit diubah, setidaknya komitmen untuk menenangkan diri secara teratur. Bisa dengan menulis jurnal, bermeditasi, atau berbicara dengan teman dan keluarga.

  1. Memprioritaskan Waktu Makan

 Penduduk “blue zones” menjaga pola makan tiga kali sehari dengan makanan bergizi. Misalnya, salad dengan ayam atau salmon, chili kacang hitam, spageti labu, atau sayuran akar panggang dengan tahu.

Sumber Foto: Daniel Reche / Pexels.com

Baca Juga: