IPSPI dan ICE Institute Universitas Terbuka Tandatangani Perjanjian Kerja Sama untuk Pendidikan Daring Pekerja Sosial Independen Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) resmi menjalin kerja sama dengan Indonesia Cyber Education Institute (ICE Institute) yang dikelola oleh Universitas Terbuka.

Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama berlangsung di Kantor ICE Institute, Tangerang Selatan, dan mencakup penyediaan materi kuliah pakar serta program micro-credential melalui platform pembelajaran daring ICE Institute.

Kerja sama ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kapasitas pekerja sosial di Indonesia melalui pendidikan jarak jauh, sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2019 tentang Pekerjaan Sosial.

Berdasarkan perjanjian, IPSPI menyediakan konten materi ahli, sedangkan ICE Institute mengelola sistem pembelajaran (learning management system), menyediakan akses ke lokapasar digital, serta menerbitkan sertifikat.

#Program Pra-Sertifikasi sebagai Pilot Project.

Program perdana yang diluncurkan adalah “Pra-Sertifikasi Kompetensi Profesi Pekerja Sosial: 6 Hari Kuasai 6 Fungsi Utama Pekerja Sosial” — sebuah program konsolidasi profesional (refresher) yang dirancang bagi lulusan baru maupun praktisi senior yang berencana mengikuti uji sertifikasi kompetensi profesi pekerja sosial.

Kurikulum program ini mengacu pada Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Pekerjaan Sosial yang mencakup 24 unit kompetensi, disampaikan dalam enam hari pelatihan daring sinkronus (8 jam per hari).

Program Pra-Sertifikasi ini berstatus proyek percontohan (pilot project). Apabila berhasil mencapai indikator keberhasilan berikut, kedua pihak akan memperluas kerja sama ke skema-skema pendidikan lainnya:

  • Tingkat penyelesaian peserta minimal 80%
  • Rata-rata nilai post-test di atas 75
  • Tingkat kepuasan peserta minimal 4,2 dari skala 5

Jika indikator tersebut terpenuhi, skema lanjutan yang akan dikembangkan meliputi:

  • Kuliah Pengenalan (induction courses) bagi anggota baru IPSPI dan anggota lembaga otonom bidang peminatan
  • Pembelajaran Sepanjang Hayat (Continuing Professional Development – CPD)
  • Program micro-credential lanjutan untuk spesialisasi tertentu (pekerjaan sosial anak, disabilitas, lansia, dan lain-lain)
  • Sertifikasi kompetensi berbasis Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL)

Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., Rektor Universitas Terbuka mengatakan, “Kerja sama ini adalah langkah strategis dalam transformasi digital UT menuju perguruan tinggi terbuka dan jarak jauh kelas dunia. ICE Institute, sebagai lokapasar pembelajaran daring unggulan kami, menyediakan platform yang ideal untuk memperluas akses pendidikan profesional bagi pekerja sosial di seluruh Indonesia.”

Sementara itu, Dr. Puji Pujiono, MSW, RSW., Ketua Umum IPSPI, “Ribuan sarjana pekerjaan sosial dan praktisi senior masih memerlukan penyegaran (refresher) agar siap mengikuti uji kompetensi. Melalui pilot project ini, kami ingin membuktikan bahwa model 6 hari daring efektif untuk mengonsolidasikan 24 unit kompetensi. Keberhasilannya akan membuka jalan bagi beragam skema pembelajaran jangka panjang.”

Akan halnya dengan Rahayu Dwi Riyanti, M.A., Direktur ICE Institute yang mengatakan, “Platform kami telah terbukti mampu menampung lebih dari 16.000 mata kuliah dan melayani konsorsium 14 perguruan tinggi. Dengan dukungan sistem penyimpanan digital berbasis blockchain dan jaringan internasional, kami siap mendukung pilot project ini sekaligus mengembangkan program CPD dan micro-credential lainnya apabila pilot terbukti berhasil.”

 “Program ini melengkapi upaya APKPSI dalam menyelaraskan kurikulum inti. Dengan adanya pilot project berbasis SKKNI, lulusan perguruan tinggi dapat menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan unit kompetensi yang diujikan dalam sertifikasi profesi.”

“Kementerian mendukung penuh upaya peningkatan kapasitas pekerja sosial melalui berbagai moda, termasuk pendidikan daring. Pilot project ini selaras dengan tugas kami sebagai pembina jabatan fungsional pekerja sosial. Kami akan memantau hasilnya untuk selanjutnya direplikasi dalam kebijakan pelatihan teknis di daerah, ” kata Afrizon Tanjung, A.KS., M.Si., Kepala Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Profesi, Kementerian Sosial RI.

Suara dari Lapangan

 “Selama ini, mengikuti pelatihan di Jakarta memakan waktu dan biaya yang besar. Dengan program daring ini, saya bisa belajar dari para ahli tanpa harus meninggalkan anak-anak binaan saya. Saya berharap pilot project ini sukses sehingga tersedia kelas-kelas lanjutan, ” tutur Siti Fatimah, Pekerja Sosial Anak, Cirebon, Jawa Barat.

 “Pulau-pulau di Maluku mempersulit mobilitas. Pelatihan tatap muka seringkali hanya diikuti oleh segelintir orang. Pendidikan jarak jauh adalah solusi nyata untuk memprofesionalkan pekerja sosial di kawasan timur Indonesia. Saya optimis pilot project ini akan berhasil dan diikuti oleh skema lain seperti CPD berkala.” kata Meiske Juneed Lauterboom, Pekerja Sosial, Maluku.

“Sebagai pendidik di wilayah yang menghadapi tantangan akses internet dan infrastruktur, saya melihat pilot project ini dapat memanfaatkan konteks kawasan Indonesia timur sebagai bahan kajian untuk mengembangkan skema hybrid pada fase berikutnya. Ini penting agar pilot project benar-benar inklusif, tidak hanya bagi mereka yang memiliki akses internet cepat.” tutur Raymundus Neno, S.ST., MPS.Sp, Dosen Akademi Pekerjaan Sosial (APS) Kupang, Nusa Tenggara Timur.

“Untuk Pekerja Sosial ASN yang sibuk seperti saya, pembelajaran daring dan terbuka berpotensi sangat menolong. Dengan ini kami tidak perlu meninggalkan pekerjaan dengan Klien untuk mendapatkan akses pada penguatan kapasitas yang berkualitas dan otoritatif,” terang Rusmawati Nainggolan , Pekerja Sosial ASN di Medan, Sumatera Utara (USU).

Tindak Lanjut Pilot Project

Pendaftaran angkatan pertama program Pra-Sertifikasi akan dibuka sebelum akhir tahun 2026, dengan pelaksanaan angkatan perdana direncanakan pada periode Februari–Mei 2027. Evaluasi menyeluruh terhadap pilot project akan dilakukan pada Juni 2027. Apabila seluruh indikator keberhasilan terpenuhi, skema-skema lanjutan seperti Induction courses bagi anggota baru IPSPI, CPD berkala, micro-credential spesialisasi dan Rekognisi Pembelajaran Lampau.

Sumber Foto: Istimewa

Baca Juga: