Jika Anda membuka lemari es hampir, kemungkinan besar Anda akan menemukan satu kotak telur. Telur bukan hanya makanan klasik untuk sarapan telur juga digunakan dalam berbagai hidangan makan siang dan makan malam yang gurih, serta menjadi bahan penting dalam banyak jenis kue dan makanan panggang.
Karena telur begitu umum digunakan dalam memasak, banyak orang kemungkinan memakannya setiap hari dalam satu bentuk atau lainnya. Namun, apakah hal ini buruk, mengingat berbagai penelitian dan pemberitaan yang beragam mengenai telur dan kandungan nutrisinya? Di sini kita akan membahas apa saja yang ditawarkan telur secara nutrisi, serta pandangan para ahli mengenai apa yang terjadi ketika Anda memakannya setiap hari.
Nutrisi Telur
Ketika berbicara tentang kepadatan nutrisi, sulit mengalahkan apa yang ditawarkan telur.
“Telur disebut sebagai ‘sumber nutrisi lengkap’ bukan tanpa alasan! Telur menyediakan protein dan lemak, serta merupakan sumber berbagai mikronutrien seperti kolin, selenium, kalsium, zat besi, zinc, vitamin D, vitamin B12, folat, biotin, vitamin B6, serta asam lemak omega-3 dan omega-6,” ujar Courtney Pelitera, MS, RD, CNSC, ahli gizi terdaftar dari Live it Up. Selain itu, telur dapat meningkatkan kadar kolin, lutein, dan zeaxanthin dalam tubuh Anda.
Nutrisi-nutrisi tersebut memberikan dampak positif bagi kesehatan dalam berbagai cara. “Protein berkualitas tinggi pada telur membantu mempertahankan massa otot dan membuat Anda merasa kenyang lebih lama, kolin mendukung kesehatan otak, vitamin D membantu kekebalan tubuh dan kesehatan tulang, serta antioksidan seperti lutein dan zeaxanthin melindungi kesehatan mata, memori, dan fungsi saraf,” jelas Ali McGowan, MS, RD, LDN, ahli gizi dan pendiri Sprout Out Loud. Nutrisi lainnya dalam telur juga mendukung kesehatan jantung, metabolisme, sistem imun, otak, tulang, dan sel.
Namun, selama bertahun-tahun, telur sering menjadi bahan kontroversi. “Telur mendapat kritik karena mengandung sekitar 5 gram lemak per butir telur besar, termasuk 1,5 gram lemak jenuh. Telur juga tinggi kolesterol makanan, yaitu sekitar 200 mg per butir, dan inilah yang memicu banyak perdebatan,” jelas Pelitera.
Meskipun begitu, McGowan menyebutkan bahwa penelitian terbaru menunjukkan bahwa bagi sebagian besar orang, lemak jenuh bukan kolesterol makanan yang lebih berperan dalam meningkatkan kadar LDL (low-density lipoprotein atau ‘kolesterol jahat’), dan telur hanya mengandung sedikit lemak jenuh.
“Dulu disarankan untuk membatasi kolesterol makanan hingga 300 mg per hari. Namun setelah penelitian lebih mendalam, American Heart Association (AHA) kini mengakui bahwa kolesterol yang dikonsumsi berbeda dari kolesterol darah, dan keduanya tidak selalu saling memengaruhi,” tambah Pelitera.
Walaupun AHA menegaskan bahwa ini bukan berarti kita boleh mengonsumsi kolesterol tanpa batas—mereka tetap merekomendasikan agar asupan kolesterol makanan dijaga serendah mungkin—kolesterol makanan kini tidak lagi dianggap sebahaya dulu. Selain itu, kolesterol juga memiliki fungsi penting di tubuh.
“Walaupun sering dianggap buruk, tubuh kita membutuhkan kolesterol untuk membuat hormon dan membantu proses pencernaan,” kata Lindsey Joe, RDN, ahli gizi dan pencipta The Meal Planning Method.
Kesimpulannya, kunci dari konsumsi telur adalah moderasi yang tetap dapat dicapai meski Anda memakannya setiap hari.
Apa yang Terjadi Jika Anda Makan Telur Setiap Hari?
Dengan pemahaman ini, para ahli gizi berikut menjelaskan apa yang bisa Anda harapkan jika makan telur setiap hari.
“Bagi banyak orang dewasa sehat, makan satu butir telur per hari dianggap aman dan tidak secara signifikan meningkatkan kolesterol. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa konsumsi telur dalam jumlah moderat dapat mendukung kesehatan otot dan membuat Anda merasa kenyang lebih lama berkat protein berkualitas tinggi dalam telur,” kata McGowan.
Penelitian terbaru juga menemukan mengonsumsi dua butir telur per hari, dalam pola makan rendah lemak jenuh, dapat membantu menurunkan kadar kolesterol LDL. Namun, sebaiknya tetap berkonsultasi dengan dokter sebelum meningkatkan konsumsi telur secara signifikan terutama bagi mereka yang berisiko penyakit jantung. Mengonsumsi putih telur sebagai pengganti atau tambahan dari telur utuh dapat menjadi solusi bagi mereka yang perlu membatasi lemak jenuh dan kolesterol makanan.
Selain itu, Anda dapat memperoleh berbagai manfaat kesehatan dari nutrisi yang ada dalam telur termasuk peningkatan kesehatan metabolik, tulang, imun, sel, dan otak.
Sumber Foto: Pixabay / Pexels.com
Baca Juga:
- Artscience Museum Dan Oceanx Mengajak Pengunjung Menjelajahi Dunia Bawah Laut Luar Biasa Yang Jarang Terlihat Oleh Manusia
- La Maison De L’Indonésie Perkuat Diplomasi Ekonomi ASEAN Lewat Kunjungan ke Rungis Market Paris
- Akselerasi Digitalisasi UMKM Banjarmasin Lewat Program Kota Masa Depan
- Grab Luncurkan Corporate Dine Out, Urusan Jamuan Makan Kantor Kini Bebas Reimburse!
- 17 Tahun Kemudian, Slank Kembali Mengoyang Panggung Java Jazz

