Sudah waktunya tidur, tetapi pikiran Anda terus tertuju pada camilan di dapur seperti keripik dan kue. Tidak ada yang salah dengan menikmati makanan ringan manis atau asin, namun makan sebelum tidur bisa memicu refluks asam lambung atau membuat perut tidak nyaman.
Selain itu, rasa lapar atau keinginan makan di malam hari bisa menjadi tanda bahwa Anda belum mencukupi kebutuhan energi dengan baik di siang hari.
Berikut penjelasan dari para ahli gizi mengenai kebiasaan yang dapat menyebabkan Anda tergoda untuk membuka lemari dapur sebelum tidur.
- Anda tidak makan makanan yang benar-benar diinginkan
Menurut ahli gizi Alex Caspero, R.D., banyak orang sulit membedakan antara rasa lapar dan keinginan makan (craving), padahal keduanya berbeda. “Anda bisa saja merasa kenyang tetapi tetap menginginkan makanan tertentu,” jelasnya. Misalnya, Anda makan ayam dan brokoli, padahal yang benar-benar diinginkan adalah burger.
“Rasa lapar bisa diatasi dengan makanan apa pun, tetapi keinginan makan biasanya hanya terpuaskan oleh jenis makanan tertentu,” katanya. Craving sering muncul jika Anda terlalu membatasi makanan yang disukai, seperti kue atau permen. Menurut Caspero, yang terpenting adalah pola makan secara keseluruhan, bukan satu kali camilan atau satu porsi makanan.
Ahli gizi Kaytee Hadley menambahkan bahwa menikmati porsi wajar dari makanan yang diinginkan, baik saat atau setelah makan utama, penting untuk menjaga hubungan sehat dengan makanan. “Memberi diri Anda kesempatan menikmati makanan kesukaan di siang hari dapat mencegah siklus ekstrem antara menahan diri dan makan berlebihan,” ujarnya.
- Anda sering melewatkan waktu makan
Melewatkan sarapan atau bekerja tanpa makan siang bisa berdampak di malam hari. “Tubuh kita pintar. Jika Anda tidak makan cukup di siang hari, rasa lapar akan muncul di malam hari karena tubuh membutuhkan energi,” kata Hadley, pendiri Holistic Health and Wellness.
Ahli gizi fungsional Samantha Peterson menambahkan, kebiasaan melewatkan makan dapat menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan hormon stres. “Saat itu terjadi, kendali diri biasanya melemah dan otak akan mencari sumber energi cepat, seperti karbohidrat atau makanan manis,” jelasnya. Ia menyarankan makan secara teratur setiap 3–4 jam untuk menjaga energi tetap stabil dan mencegah rasa lapar berlebih di malam hari.
- Anda kurang mengonsumsi makanan bertepung (karbohidrat kompleks)
Tren diet tinggi protein dan rendah karbohidrat membuat banyak orang menghindari makanan bertepung seperti kentang atau nasi, padahal makanan ini membantu memberikan rasa kenyang dan mengurangi keinginan makan berlebih. “Karbohidrat kompleks seperti oats, nasi, quinoa, dan kentang mengandung serat dan dicerna lebih lambat, membantu menjaga kestabilan gula darah serta meningkatkan rasa kenyang,” jelas Hadley.
Caspero menambahkan, “Kita terlalu terobsesi pada protein, padahal seharusnya lebih fokus pada serat. Hanya satu dari sepuluh orang Amerika yang cukup asupan serat, padahal serat sangat penting untuk mengontrol rasa lapar.”
- Makanan Anda tidak cukup bergizi seimbang
Meskipun Anda sudah makan cukup banyak, tetap bisa merasa lapar atau menginginkan camilan malam jika komposisi makanannya tidak seimbang. Peterson menyarankan untuk menerapkan “trifecta keseimbangan gula darah”: protein + serat + lemak sehat. “Protein menstabilkan hormon lapar, serat memperlambat pencernaan, dan lemak sehat membuat Anda kenyang lebih lama,” jelasnya. Kombinasi ini membantu menyediakan energi stabil sepanjang hari dan mengurangi keinginan makan di malam hari.
Peterson juga memberikan panduan sederhana: isi piring dengan porsi protein sebesar telapak tangan, karbohidrat seukuran kepalan tangan, sayur atau buah berwarna untuk serat, serta satu hingga dua porsi kecil lemak sehat untuk rasa dan kepuasan.
- Anda menekan emosi
Terkadang, keinginan makan bukan berasal dari rasa lapar, melainkan dari emosi. “Sering kali kita keliru mengartikan kebutuhan emosional seperti kenyamanan, kehangatan, atau ketenangan sebagai rasa lapar,” kata Peterson. Ia menyarankan untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: “Apa yang sebenarnya saya butuhkan saat ini?” Bisa jadi jawabannya adalah makanan, tapi bisa juga istirahat, relaksasi, atau interaksi sosial.
Sumber Foto: Ketut Subiyanto / PExels.com
Baca Juga:
- Artscience Museum Dan Oceanx Mengajak Pengunjung Menjelajahi Dunia Bawah Laut Luar Biasa Yang Jarang Terlihat Oleh Manusia
- La Maison De L’Indonésie Perkuat Diplomasi Ekonomi ASEAN Lewat Kunjungan ke Rungis Market Paris
- Akselerasi Digitalisasi UMKM Banjarmasin Lewat Program Kota Masa Depan
- Grab Luncurkan Corporate Dine Out, Urusan Jamuan Makan Kantor Kini Bebas Reimburse!
- 17 Tahun Kemudian, Slank Kembali Mengoyang Panggung Java Jazz

