Protein merupakan nutrisi penting bagi tubuh, tidak hanya berperan dalam membangun dan menjaga massa otot, tetapi juga membantu mengatur nafsu makan, menyeimbangkan kadar gula darah, hingga mendukung kesehatan secara keseluruhan.
Sumber protein banyak ditemukan dalam makanan hewani seperti ayam, salmon, telur, hingga yogurt. Namun, bagaimana dengan mereka yang menjalani pola makan berbasis nabati?
Tofu dan tempeh menjadi dua pilihan populer sebagai sumber protein nabati. Keduanya sama-sama berbahan dasar kedelai, namun melalui proses pengolahan yang berbeda sehingga menghasilkan kandungan gizi, tekstur, dan rasa yang tidak sama.
Tofu, atau dikenal juga sebagai tahu, dibuat dari susu kedelai yang digumpalkan dan dipadatkan menjadi blok. Rasanya cenderung netral sehingga mudah menyerap bumbu dan saus, menjadikannya bahan masakan yang serbaguna.
Berdasarkan data USDA, 100 gram tahu padat mengandung sekitar 144 kalori, 17,3 gram protein, 2,78 gram karbohidrat, 2,3 gram serat, 8,72 gram lemak, serta mineral penting seperti kalsium 683 miligram dan zat besi 2,66 miligram. Tofu juga dikenal baik untuk menurunkan kadar kolesterol dan berpotensi mengurangi risiko kanker payudara.
Sementara itu, tempeh dibuat dari fermentasi biji kedelai utuh sehingga lebih padat teksturnya dan memiliki cita rasa khas yang sedikit kacang dan gurih.
Tempeh juga unggul dari sisi gizi. Dalam 100 gram tempeh, terdapat 192 kalori, 20,3 gram protein, 7,64 gram karbohidrat, 7,1 gram serat, serta 10,8 gram lemak. Kandungan serat yang tinggi membuat tempeh lebih mengenyangkan, sementara proses fermentasinya menambahkan manfaat probiotik yang baik untuk kesehatan pencernaan.
Jika dibandingkan, tempeh memiliki kandungan protein dan serat lebih tinggi, sementara tofu lebih unggul dalam mineral seperti kalsium dan selenium. Dari segi rasa, tofu lebih netral sehingga lebih mudah diterima berbagai lidah, sedangkan tempeh menawarkan rasa yang lebih kuat dan tekstur padat.
Kesimpulannya, baik tofu maupun tempeh sama-sama bermanfaat sebagai sumber protein nabati. Mengombinasikan keduanya dalam pola makan bisa menjadi pilihan terbaik agar tubuh mendapatkan asupan nutrisi yang lebih beragam.
Sumber Foto: Polina Tankilevitch / Pexels.com
Baca Juga:
- Alumni LR Internship 2021, Sarni Artha Terus Berkembang di Industri Fashion Nasional
- Sambut AirAsia HYROX Jakarta, PUMA Ajak Sporty People Menantang Batas
- Industri Film Butuh Ekosistem, Amar Bank dan JAFF Market Satukan Tujuh Pemangku Kepentingan lewat Kemitraan Strategis
- Label Fashion Indonesia Fuguku Dipakai Shirley Manson Saat Tampil Bersama Garbage
- Ingin Mulai Investasi Kripto? Upbit Indonesia Bagikan 5 Langkah untuk Pemula

