Nama Sarah Natasya Hutauruk  mungkin belum setenar musisi populer di Indonesia, tetapi kiprah dan perjalanannya membuktikan musik bisa membuka jalan ke panggung dunia.

Perempuan asal Indonesia ini bukan hanya seorang pianis dan pendidik musik, tetapi juga terlibat langsung dalam film hollywood, termasuk sebagai  pengisi soundtrack film “Monkey Man” garapan aktor sekaligus sutradara Dev Patel.

Sejak tiga tahun terakhir ini, Sarah sudah menetap di kawasan Timur Tengah, tepatnya Abu Dhabi dan Dubai. Di sana ia berkiprah sebagai Instruktur Musik Senior di salah satu Akademi Musik terbesar disana. Sebelum pindah ke Timur Tengah, Sarah sudah lebih  dulu berkarir di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) selama selupuh tahun, bahkan sempat menjabat sebagai Wakil Kepala Program Sarjana Musik.

“Di Dubai dan Abu Dhabi, dunia seni masih berkembang, sementara fokus mereka lebih banyak di bisnis, startup, dan teknologi. Jadi ketika ada tawaran mengajar di bidang musik disini, saya merasa ini kesempatan untuk memperkenalkan musik Indonesia sekaligus berkontribusi di dunia pendidikan,” jelas Sarah.

Cinta pada Piano Sejak Kecil

Perjalanan musik Sarah dimulai sejak usia dini. Orang tuanya memperkenalkannya pada piano. Dari sekadar coba-coba, bakatnya terlihat menonjol sehingga terus berlanjut ke les privat hingga akhirnya ia memilih menempuh jalur pendidikan tinggi di bidang musik.

Sarah menempuh studi S1 dan S2 di IKJ, serta mendapat kesempatan belajar piano klasik lebih dalam di bawah bimbingan seorang pianis Indonesia lulusan Manhattan School of Music. Sang mentor ini pula yang memberinya pendalaman mengenai classical piano performance.

Selain piano klasik, Sarah juga memiliki minat besar pada musik orkestra. Ia pernah menjadi arranger sekaligus conductor dalam pertunjukan orkestra, termasuk saat tampil di upacara Pra-Penutupan Asian Games 2018.

Selain mengajar dan tampil, Sarah juga merambah dunia akademik dengan menulis buku. Berdasarkan riset tesis S2-nya, ia menerbitkan buku berjudul Simfoni Kata, yang menggabungkan literasi dan musik dalam konteks seni urban. Buku ini membahas musikalisasi puisi sebagai jembatan antara tradisi dan kehidupan modern.

“Saya ingin masyarakat lebih dekat dengan seni urban, supaya ada kesadaran bahwa seni bukanlah hal eksklusif, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari. Musikalisasi puisi misalnya, sebenarnya punya akar di tradisi Nusantara seperti Mocopat di Jawa Tengah. Sayangnya, generasi muda banyak yang belum mengenalnya,” jelas mantan Brand Ambassador untuk Roland Piano Indonesia ini.

Buku ini pertama kali terbit dalam bahasa Indonesia, namun Sarah tengah menyiapkan terjemahannya dalam bahasa Arab dan Inggris agar dapat menjangkau lebih banyak pembaca di luar negeri.

Meski dikenal sebagai pianis klasik, Sarah juga punya sisi lain yang tak kalah menarik. Ia pernah menjadi bagian dari band progresif bernama Trodon  (2018–2020), yang bahkan masuk nominasi AMI Awards 2019 untuk kategori musik progresif terbaik untuk lagu berjudul Dragon Sheperd Aphorila.  Bagi Sarah, musik progresif menjadi wadah untuk menunjukkan musik klasik bisa dikemas dengan energi modern yang lebih kompleks.

Kiprah di Dunia Film Original Soundtrack Monkey Man

Nah, salah satu momen tak terlupakan dalam karir Sarah saat dirinya keterlibatannya dalam film “Monkey Man”(2024) karya Dev Patel.

Awalnya, ia dihubungi casting director melalui Instagram, sebuah kejutan yang sama sekali tidak ia sangka. Dari sana, ia diminta mengirimkan CV dan video performa piano. Tak lama kemudian, ia menerima kabar langsung  Dev Patel memilihnya tanpa melalui proses audisi panjang.

“Aku sempat tanya, kenapa memilih aku padahal banyak pianis yang lebih terkenal? Dev Patel jawab, karena ada ‘authenticity’ dalam permainan pianoku. Keaslian itulah yang membuatnya cocok dengan karakter film,” tutur Sarah.

Dalam film tersebut, Sarah bukan hanya menciptakan dua komposisi original soundtrack, tetapi juga tampil sekilas sebagai pianis dalam salah satu adegan.

Proses kreatifnya berlangsung intens dimana ia harus menyesuaikan musik dengan skenario dan nuansa emosional tiap adegan. Bahkan, ia tinggal di Batam selama untuk mendampingi proses syuting sekaligus menyesuaikan komposisi musik dengan arahan Dev Patel.

Bagi Sarah, pengalaman ini menjadi salah satu pencapaian penting. “Rasanya luar biasa. Sebagai musisi perempuan dari Indonesia, bisa terlibat dalam film Hollywood adalah sesuatu yang langka. Yang paling membahagiakan, mereka menerima aku apa adanya, tanpa harus berpura-pura jadi orang lain.”

S3 dan Dream Theater

Karena itu, salah satu impiannya adalah berkolaborasi dengan band progresif dunia seperti Dream Theater, terutama dengan keyboardist Jordan Rudess, yang juga berangkat dari musik klasik. “Aku ingin menunjukkan musik klasik bukan cuma untuk tidur atau santai, tapi bisa dikemas jadi sesuatu yang powerful, intens, dan modern,” ungkapnya.

Kini, selain terus aktif mengajar dan berkarya, Sarah juga tengah mempersiapkan langkah besar berikutnya: melanjutkan studi S3. Ia berharap bisa memperdalam riset tentang musik, seni urban, dan pengembangan pendidikan musik global.

Bagi Sarah, musik bukan sekadar profesi, tetapi jalan hidup yang membawanya pada banyak pengalaman tak terduga: dari kelas piano, panggung musik, hingga layar lebar Hollywood. “Yang paling penting adalah tetap autentik. Karena pada akhirnya, dunia menghargai keaslian kita,” pungkasnya.


Artikel ini juga dapat dibaca di Majalah Digital Kabari Edisi 217