Dalam rangka menyambut peringatan 500 Tahun Kota Jakarta, seniman Indonesia Sasya Tranggono menggelar pameran tunggal bertajuk “Menuju Jakarta 500 Tahun di Mata Sasya Tranggono” di Laflo Menteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Pameran ini menampilkan rangkaian karya-karya abstrak terbaru yang merefleksikan perjalanan Jakarta sebagai kota yang terus berkembang, namun tetap berakar pada sejarah, budaya, dan memori kolektif masyarakatnya.
Berbeda dengan karya-karya sebelumnya yang dikenal melalui eksplorasi tema kupu-kupu, bunga, dan wayang, dalam pameran kali ini Sasya Tranggono menghadirkan interpretasi visual yang lebih kontemporer mengenai Jakarta melalui pendekatan abstrak yang kaya warna, emosi, dan simbolisme.
Dalam temu media, Sasya Tranggono menjelaskan bahwa karya-karya dalam pameran ini merupakan refleksi atas perjalanan panjang Jakarta yang selama hampir lima abad telah menjadi ruang pertemuan berbagai budaya, gagasan, dan harapan.
“Jakarta tidak hanya dibangun oleh beton dan jalan raya. Jakarta dibangun oleh kenangan, budaya, dan karya-karya yang menjaga jiwanya tetap hidup,” jelas Sasya yang lahir di Jakarta, 25 Desember 1963 ini.

Bagi Sasya, pameran tunggalnya untuk menyambut Hari Ulang Tahun Jakarta ke – 500 ini memiliki makna tersendiri baginya. “Jakarta telah menjadi bagian dari kisah terbesar dalam hidup saya. Dari Jakarta, perjalanan karya saya bermula dan bertumbuh hingga berbagai kota di dunia. Melalui pameran ini, saya mempersembahkan sebuah surat cinta untuk Jakarta sebagai ungkapan syukur atas perjalanan yang telah Tuhan berikan dan sebagai penghormatan menuju 500 tahun Jakarta. Sebuah kota yang bukan hanya dibangun oleh gedung dan jalanan, tetapi oleh jutaan kisah manusia di dalamnya,” jelasnya.
Sasya berharap melalui karya-karya yang hadir dalam pameran ini dapat mengajak kita untuk melihat Jakarta dengan cara yang lebih hening, lebih dekat, dan lebih mendalam. “Bukan hanya sebagai sebuah kota, tetapi sebagai ruang kehidupan yang menyimpan begitu banyak cerita, harapan, dan keindahan,” tukasnya.
Jika biasanya mempersiapkan pameran tunggal membutuhkan waktu 1-2 tahun, kali ini hal berbeda dialami Sasya. Untuk 12 lukisan yang dihasilkannya, ia hanya membutuhkan waktu 2, 5 bulan. Sebelum mulai melukis, Sasya melakukan napas tilas dengan mengunjungi Kota Tua Jakarta. Dari sinilah, langkah awal dimulai. “Saya engineering, lama tinggal di Belanda. Di sinilah, saya mencari benang merah untuk lukisan ini, akhirnya saya memilih gedung sebagai landasan dalam membuat lukisan tentang Jakarta,” ungkap Sasya yang menyelesaikan studi jurusan Teknik Industri & Operational Research di Smith College di Syracuse University, Syracuse, New York, Amerika Serikat dan Rotterdam School of Management di Erasmus Universiteit, Belanda.

Dari 12 lukisan itu, ada lukisan tentang Gelora Bung Karno (GBK), GPIB Immanuel, Masjid Istiqlal, Katedral Jakarta, Istana Negara, Tugu Selamat Datang Jakarta hingga Generasi Bintang. Lukisan terakhir yang disebut ini, jika terjual akan didonasikan untuk membantu anak-anak di Nusa Tenggara Timur. “Karena itu, dari semua lukisan ini, Generasi Bintang memiliki arti khusus. Karena satu lukisan ini, 100% saya mau persembahkan untuk Tuhan, untuk memberkati anak-anak. Karena bagi saya, kita harus melahirkan the new generation, yang takut Tuhan, cinta bangsa dan hormat terhadap orang tua,” tegasnya
Sebagai seniman yang telah berkarya selama lebih dari tiga dekade, Sasya mengaku tantangan terbesar adalah waktu. “Karena saya harus mempersembahkan yang terbaik. Boleh minimalis tapi harus tetap modern dan kontemporer,” tukasnya.
Sementara itu, Laflo sebagai Lokasi pameran yang dipilih Sasya juga memiliki cerita tersendiri. Bagi Alwi Sjaaf selaku Owner dari PT Imago Mulia Persada/LAFLO, mengaku mengenal Sasya sebagai pribadi terbuka dengan detail karya yang Istimewa. “Saya suka dengan pemikiran-pemikiran beliau yang berkaitan dengan budaya Indonesia. Bu Sasya mampu membuat karya yang kontemporer, mengikuti perkembangan zaman. Saya menyebut roh kekinian,” tukas Alwi. “Karena setiap zaman itu punya roh zaman sendiri,” sambungnya.
DNA karya Sasya identik dengan wayang, bunga dan kupu-kupu. Namun, di tangan Sasya, menurut Alwi, mampu membuat wayang yang dikenal ratusan tahun lalu, memiliki rasa era hari ini, abad 21
Meski Alwi lahir di Medan, tapi sejak kecil hingga hari ini telah tinggal di Jakarta. Karena itu, Alwi ingin berkontribusi untuk Jakarta. “Mari kita berjuang agar Jakarta damai dan membawa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, “ ucapnya.
Bagi Sasya, momentum ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan seni dan budaya yang mengiringi perjalanan Jakarta menuju usia 500 tahun pada tahun 2027. Melalui seni rupa, masyarakat diajak untuk melihat Jakarta bukan hanya sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, tetapi juga sebagai ruang peradaban yang dibangun oleh kenangan, kreativitas, dan identitas budaya yang terus hidup.

Selain menghadirkan karya-karya terbaru Sasya Tranggono, pameran ini juga menjadi wadah dialog antara seniman, budayawan, kolektor, akademisi, media, dan masyarakat mengenai masa depan Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar kuat pada warisan budayanya.
Sementara itu, bagi Kurator Jim Supangat, Sasya Tranggono bukanlah pelukis akademis yang belajar di perguruan tinggi seni rupa. Ia pelukis yang mengembangkan ungkapannya melalui pengalaman personal dan menggunakan refleksi perjalanan hidupnya untuk mencari nilai-nilai spiritual. “Karena itu, cukup mengejutkan, dari perjalanan artistik yang esoteris ini Sasya Tranggono bisa sampai pada kesadaran tentang penggunaan warna, ruang, garis, bidang, yang paralel dengan teori seni rupa yang umumnya dipersoalkan hanya di lingkungan akademi seni rupa. Sasya mulai dari drawing dan lukisan. Namun ia tidak terperangkap pada bahasa ungkapan dua dimensional. Proses melukisnya tidak berbeda dengan melukis still life. Di sini Sasya seperti menjelajahi mesin waktu dan kembali ke lukisan still life yang pernah populer jauh di masa lalu. Konsep berkarya itu unik, tidak pernah dicoba seniman lain. Pada perkembangan ini Sasya menjelajahi formal sensual properties dengan caranya sendiri. Ia tidak dipengaruhi teori-teori seni rupa yang membeda-bedakan seni rupa, high art – low art, fine art – design. Teori esensi dipersoalkan hanya di lingkungan fine art,” kata Jim
Lanjut Jim, seperti terjadi pada perkembangan esensialisme, Sasya tertarik pada bentuk-bentuk geometrik, yang dipicu perhatiannya muncul belakangan pada perkembangan arsitektur kota metropolitan Jakarta, yang ditandai patung-patung monumental di berbagai sudut kota.
Bentuk-bentuk geometrik ini muncul pada lukisan-lukisan, Patung Selamat Datang (2026), Patung Dirgantara (2026), Gelora Bung Karno (2026), dan Stasiun Kota Jakarta (2026). “Pada lukisan Stasiun Kota Jakarta, bentuk geometrik tidak lagi menjadi representasi kenyataan. Lukisan ini nyaris abstrak. Pada sejarah seni rupa modern bertumpu hanya pada kajian kenyataan di dunia Barat abstrakisme dan formalisme menggeser representasi realitas, narasi, dan, konteks yang sebelumnya selalu hadir pada karya seni rupa. Para teoretisi esensialis percaya bahwa percaturan bentuk-bentuk sensual secara langsung membangkitkan pengalaman estetik tanpa bantuan narasi, atau renungan nilai-nilai. Selain itu konteks (bersifat lokal) tidak relevan dipersoalkan karena sensasi estetik yang didapat dari pencerapan bentuk-bentuk sensual, seperti ilmu pengetahuan berkaitan dengan kebenaran universal. Keyakinan itu ternyata tidak sesungguhnya bisa ditegakkan. Banyak seniman tidak bisa diarahkan teori ini. Sejumlah pelukis abstrak terkemuka menyangkal kemurnian esensialisme itu.
Melalui perkembangan idiosinkratik personal, khas, dan berbeda dari kebiasaan umum Sasya Tranggono mengukuhkan penyangkalan itu. Tanda-tanda formalisme pada lukisannya tidak membuat ia meninggalkan narasi dan representasi. Sejak awal ia mempersoalkan religiositas pada karya-karyanya dan bingkai ini bertahan sampai sekarang. Lukisan-lukisannya seperti menegaskan bahwa formal sensual properties adalah persoalan bahasa dan idiom ungkapan yang tidak bisa menjadi esensi. Seperti halnya kebenaran internal ilmu pengetahuan tidak otomatis merupakan kebenaran eksternal. “Melalui sejumlah lukisan pada pameran ini Sasya mencoba merekam tanda-tanda Jakarta yang agresif. Untuk pertama kali ia menampilkan ungkapan yang mempersoalkan konteks,” kata Jim.
Sri Kusumawati, Kepala Unit Pengelolaan Museum Seni Provinsi DKI Jakarta, dalam pembukaan pameran ini menyatakan bahwa Jakarta tengah mempersiapkan diri menyambut usia 5 abad pada tahun 2027. “500 tahun bukanlah sekadar angka, melainkan perjalanan panjang sebuah kota yang tumbuh dari pelabuhan kecil menjadi pusat peradaban, perdagangan, budaya, dan keberagaman yang dikenal dunia,” kata Sri.
Melalui karya-karya abstrak yang ditampilkan Sasya Tranggono, mengajak kita melihat Jakarta bukan hanya sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai ruang gagasan, ruang kenangan, dan ruang harapan. “Seni memberikan kebebasan bagi setiap orang untuk menafsirkan perjalanan kota ini dari sudut pandang yang berbeda-beda. Namun tetap dalam semangat yang sama, mencintai Jakarta dan membayangkan masa depannya,” tukas Sri.

Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta meyakini bahwa seni dan budaya memiliki peran strategis dalam membangun identitas kota global yang tetap berakar kuat pada sejarah dan nilai-nilai lokal. Oleh karena itu, dukungan terhadap kegiatan seni seperti ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk menjaga memori kolektif masyarakat sekaligus mendorong lahirnya kreativitas yang akan menjadi kekuatan Jakarta di masa depan.
“Saya berharap pameran ini dapat menjadi ruang dialog yang mempertemukan seniman, masyarakat, generasi muda, dan berbagai pemangku kepentingan untuk bersama-sama merefleksikan perjalanan Jakarta serta merancang harapan menuju masa depan yang lebih inklusif, kreatif, dan berkelanjutan. Semoga pameran ini memberikan inspirasi bagi kita kita semua dalam menyongsong Jakarta 500 tahun,” terang Sri.
Mengakhiri temu media kali ini, Leonardo A. Putong selaku Ketua Panitia Penyelenggara Pameran Tunggal Sasya Tranggono di LAFLO Menteng mengatakan bahwa pameran ini menjadi langkah awal rangkaian kegiatan seni dan budaya menuju 500 tahun Jakarta pada 22 Juni 2027.
“Kegiatan ini mencerminkan kolaborasi antara seniman, pelaku budaya, dan industri kreatif dalam membangun Jakarta sebagai kota global yang berbudaya. Seni dan budaya berperan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif,” pungkasnya.
Pameran ini diharapkan menjadi salah satu kontribusi penting dunia seni rupa dalam menyambut Jakarta 500 Tahun sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai salah satu pusat seni dan budaya terdepan di Asia Tenggara.
Sumber Foto: Istimewa
Baca Juga:
- Dieng Culture Festival 2026 Spirit of Harmony: Merawat Harmoni Alam, Budaya, dan Kehidupan
- Lenong Kampung Te-Ko, Ajak Generasi Muda Mengenal Budaya Betawi
- Pameran Tunggal Sasya Tranggono, Lihat Jakarta dengan Interpretasi Visual Kontemporer
- SPRITE Nipis Mint Siap Sikat Gerahnya Indonesia
- Video: Mengandalkan Cita Rasa Berbeda, Bakso Dapur Uwah Optimistis Berkembang di Tengah Persaingan Kuliner

