Jalan kaki selama ini dikenal sebagai olahraga sederhana yang mudah dilakukan siapa saja. Selain membantu membakar kalori, kebiasaan berjalan kaki setiap hari ternyata juga dapat memengaruhi nafsu makan. Menariknya, efek tersebut tidak sama pada setiap orang. Ada yang merasa lebih lapar setelah berjalan kaki, namun ada pula yang justru kehilangan keinginan untuk makan.
Menurut dokter osteopati sekaligus pakar kesehatan dari Aura Recovery Center, Dr. Shernell Surratt-Gary, hubungan antara jalan kaki dan rasa lapar jauh lebih kompleks daripada anggapan bahwa olahraga selalu meningkatkan nafsu makan. Ia menjelaskan bahwa berjalan kaki secara rutin membantu tubuh menyesuaikan sinyal lapar dengan kebutuhan energi yang sebenarnya. Dengan kata lain, seseorang menjadi lebih mudah mengenali kapan tubuh benar-benar membutuhkan makanan dan kapan rasa lapar hanya dipicu oleh kebiasaan atau faktor emosional.
Pendapat serupa disampaikan ahli gastroenterologi dan geriatri Dr. Edmundo Rodriguez-Frias. Ia mengatakan aktivitas berjalan kaki membantu otak merespons sinyal dari saluran pencernaan dengan lebih baik. Dampaknya, seseorang lebih mudah menyadari rasa kenyang sehingga tidak makan secara berlebihan akibat stres, bosan, atau sekadar kebiasaan.
Para ahli menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang menentukan bagaimana nafsu makan bereaksi setelah berjalan kaki. Salah satunya adalah kebiasaan emotional eating. Bagi orang yang sering ngemil karena stres atau bosan, berjalan kaki dapat menjadi pelampiasan yang lebih sehat sehingga keinginan untuk mengonsumsi camilan ikut berkurang.
Selain itu, hormon juga berperan. Jalan kaki dengan intensitas sedang diketahui dapat menekan produksi hormon ghrelin, yaitu hormon yang memicu rasa lapar, dalam waktu singkat setelah berolahraga. Akibatnya, sebagian orang mungkin tidak langsung merasa lapar usai berjalan, meski rasa lapar akan kembali beberapa saat kemudian.
Durasi dan intensitas aktivitas juga memengaruhi hasilnya. Jalan kaki santai selama 10 hingga 30 menit umumnya tidak membuat seseorang makan lebih banyak. Sebaliknya, aktivitas yang lebih berat seperti mendaki selama beberapa jam dapat meningkatkan rasa lapar karena tubuh membutuhkan lebih banyak energi untuk pemulihan.
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah kondisi tubuh, seperti kualitas tidur, tingkat kebugaran, hidrasi, pola makan, hingga apakah seseorang berjalan kaki sebelum atau sesudah makan. Karena itu, respons setiap individu bisa berbeda-beda.
Di luar pengaruhnya terhadap nafsu makan, jalan kaki setiap hari juga memberikan berbagai manfaat kesehatan. Aktivitas sederhana ini membantu melancarkan pencernaan, meningkatkan sensitivitas insulin, menjaga kesehatan jantung, menurunkan tekanan darah, memperbaiki kualitas tidur, meningkatkan kesehatan mental, mengurangi risiko diabetes tipe 2, hingga menurunkan kemungkinan terkena berbagai penyakit kronis.
Para ahli menegaskan bahwa manfaat tersebut bisa diperoleh tanpa harus berjalan dalam waktu lama. Bahkan berjalan kaki selama 10 hingga 30 menit setiap hari sudah cukup memberikan dampak positif bagi kesehatan. Yang terpenting adalah mengurangi waktu duduk terlalu lama dan menjadikan aktivitas fisik sebagai bagian dari rutinitas harian.
Sumber Foto: Haibo Ni / Pexels.com
Baca Juga:
- Survei Ungkap Kota-Kota dengan Layanan Paling Ramah untuk Wisatawan
- Bukan Cuma Bakar Kalori, Jalan Kaki Harian Bisa Bikin Nafsu Makan Lebih Terkontrol
- Konser “UNGU-Waktu Yang Dinanti: Final Chapter”, Hadirkan Lesti Kejora
- Direktur FBI Kash Patel Serahkan Kembali Artefak Budaya kepada Presiden Prabowo
- Film “Harusnya. Horror” Akhirnya Rilis Poster Final dan Perkenalkan Lagu Ndarboy Genk dan Mahalini

