Rambut adalah mahkota dari setiap wanita. Aura kecantikan wanita dapat terpancar berawal dari salah satu bagian tubuhnya ini. Maka tak heran banyak yang beri perhatian lebih kepada rambutnya. Bahkan terkadang tak peduli berapa banyak uang yang dihabiskan untuk merawatnya.

Ya!, bicara soal perawatan rambut, di Jakarta ada satu salon yang begitu konsisten merawat rambut wanita, termasuk didalamnya soal pewarnaan rambut atau hair coloring.  Lebih dari 30 tahun berkecimpung dalam bisnis salon kecantikan ini, Kia Wael tentu paham benar soal seluk beluk pewarnaan rambut.

Kia, yang memiliki Kia Salon yang berada di Kemang, Jakarta Selatan, ini pun menjelaskan secara gamblang soal pewarnaan rambut wanita.

Kia mengatakan ketika kita bicara soal pewarnaan rambut itu selalu berhubungan dengan waktu, anatomi, dan analisa sebelum mengerjakan pewarnaan.

Pertama, yang harus diketahui apakah pelanggan ada alergi atau tidak. Jadi sebelum melakukan pewarnaan rambut, kita harus tahu dulu apakah pelanggan itu punya alergi terhadap bahan kosmetik atau tidak.

Kedua, harus tahu produk kosmetik itu baik atau tidak karena banyak  produk kecantikan yang kita tidak tahu berapa besar kandungan zat kimia yang ada di dalamnya Jadi kalau asal pakai akan sangat bahaya untuk rambut.

Pewarnaan yang memuaskan pelanggan akan memberikan nilai lebih karena mereka akan berkunjung lagi dan tidak kecewa terhadap perawatan yang kita lakukan.

Dan pewarnaan rambut itu tergantung dari warnanya itu sendiri, apakah warna hitam hijau, putih dan warna lainnya. Semua warna memiliki unsur yang berbeda masing-masingnya.

Ada warna tertentu yang mengikat rambut sangat dalam di kutikula rambut contohnya warna hitam.

“Ada warna yang menempel di setengah, di dalam atau di luar saja, warna merah jika dimasukan di rambut hanya diluar saja. Kena air beberapa kali akan hilang, Sementara ada warna yang agak awet seperti warna ash,” tutur Kia.

Tergantung dari warna apa, pantulan, dan apa yang sudah di dalam kepala kita. Orang yang baru pertama kali melakukan pewarnaan, sebagai colorist seperti Kia harus mendesain kemauan dari pelanggan,  mau di level apa karena pada waktu memutuskan mengeluarkan pigmennya dari batang rambutnya, Kia pasti menaruh levelnya dimana, contohnya warna hitam atau zero, dirinya pasti bleaching zero-nya sampai di level 8, dan tidak langsung di 10. Alasannya karena Kia memikirkan  feature rambut kedepannya.

Kia pun mengatakan sah-sahnya saja rambut dilakukan pewarnaan terus selagi oksidannya yang digunakan 3 persen sampai turun 0 persen.

“Jadi mau rubah warna rambut apapun sah-sahnya, tetapi kita harus ingat kita harus sayang apa yang sudah ada, rambut berwarna, panjang dan menawan tentunya  juga harus sehat. Dan pewarnaan rambut dapat dilakukan sekali datang. Namun sebelum melakukannya, kita harus tahu pigmennya masih bagus atau tidak bagus jadi jangan melakukan pewarnaan rambut,” tuturnya.

Semua warna, sambung Kia, ada pengertiannya seperti contoh warna blonde ash. Blonde ash adalah warna klasik. Dan kalau tiba-tiba dimasukan warna merah, biru, menurut Kia masih klasik. Namun jika dimasukan satu warna biru, jadinya blonde merah dan biru image-nya jadi rocker.

“Untuk sementara ini, banyak orang Indonesia lebih suka memilih warna yang awet seperti warna ash dan warna cooper. Tapi masih awet warna ash, sementara ash dan grey masih ash lebih awet,” kata Kia.”Nah, setelah rambut di-coloring, kita harus memperhatikan benar cara cuci rambut, berapa hari sekali dilakukan dan sampo apa yang digunakan.”

Kia menyarankan gunakanlah sampo color dan jangan menggunakan sampo sembarangan karena sampo sembarang bisa mengunci dan memudarkan pewarnaan rambut yang telah kita lakukan.