Desainer mode asal Indonesia, Ali Charisma, mempersembahkan koleksi terbarunya bertajuk “Re-thinking Luxury” pada ajang Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MOTIONFEST)yang digelar di JIEXPO Convention Centre & Theatre pada pukul 19.00 WIB.

“Re-thinking Luxury” merupakan pernyataan kuat tentang bagaimana makna kemewahan perlu didefinisikan ulang di era modern — bahwa keanggunan sejati tidak lagi diukur dari kemewahan berlebih, tetapi dari keseimbangan, tanggung jawab, dan tujuan. Koleksi ini menantang persepsi tradisional tentang kemewahan dengan menggabungkan unsur yang saling bertolak belakang: glamor dengan kesederhanaan, yang berharga dengan yang tak berharga, serta yang mahal dengan yang biasa.

Ali Charisma menegaskan bahwa fashion seharusnya tidak pernah merugikan — tidak terhadap manusia, tidak terhadap bumi, dan tidak terhadap tujuan hidup kita. Melalui koleksi ini, ia mengajak publik untuk meninjau kembali hubungan mereka dengan fashion dan menjalani gaya hidup yang lebih sadar serta berkelanjutan.

Terinspirasi dari bentuk dan filosofi abadi kimono Jepang, koleksi ini menampilkan dialog antara warisan budaya dan kepekaan modern. Kain batik Indonesia yang ditafsir ulang secara kontemporer menjadi elemen utama yang menjembatani tradisi masa lalu dengan realitas masa kini.

Siluet yang ditampilkan didominasi oleh bentuk H-line dan A-line, yang melambangkan struktur, harmoni, dan keseimbangan. Koleksi ini menggunakan perpaduan bahan katun, sutra, viscose, dan polyester — merepresentasikan titik temu antara alam dan teknologi, sebagai metafora bahwa mode dapat menemukan keseimbangan antara kemewahan dan tanggung jawab.

Lebih dari sekadar keindahan visual, “Re-thinking Luxury” menjadi pengingat bahwa industri mode perlu merefleksikan dampak limbah yang dihasilkannya, dan berupaya menuju sistem yang lebih seimbang — yang menghormati People, Planet, dan Profit. Melalui karya ini, Ali Charisma terus melanjutkan misinya dalam mengampanyekan slow fashion, etical craftsmanship, serta sustainability sebagai gaya hidup, bukan sekadar label pemasaran.

Sumber Foto: Istimewa

Baca Juga: