IWITA berkolaborasi dengan penulis sekaligus praktisi yoga, Ima Soetoto, menggelar acara “Resolusi dan Refleksi Akhir Tahun: Bedah Diri, Bedah Buku Menikmati Hidup Tanpa Sayap” di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat, (5/12/2025).

Acara yang dikemas secara santai, interaktif, dan reflektif ini diikuti oleh para perempuan dari berbagai latar belakang.

Founder Indonesia Women Information Technology Awareness (IWITA), Martha Simanjuntak, menjelaskan kegiatan ini sejalan dengan misi IWITA sebagai Organisasi Perempuan Indonesia Tanggap Teknologi Informasi yang berupaya mencerdaskan perempuan melalui berbagai kegiatan edukatif.

“Kita tidak bisa kreatif jika sedang stres atau mental kita tidak sehat. Karena itu kami berkolaborasi, apalagi Ima juga merupakan praktisi yoga dan peduli pada isu kesehatan mental,” ujarnya.

Martha juga mengapresiasi buku keempat karya Ima Soetoto tersebut. Menurutnya, gaya bahasa yang ringan membuat buku itu mudah dipahami dan dapat menjadi inspirasi bagi banyak perempuan.

Sementara itu, Ima Soetoto menyampaikan isu kesehatan mental kini semakin relevan dibahas.

“Dulu, orang tua kita menganggap pembicaraan soal mental health itu tabu. Banyak luka yang sebenarnya muncul dari inner child, tetapi tidak disadari,” katanya.

Ia menambahkan pascapandemi, kesadaran publik terhadap kesehatan mental meningkat pesat dan membuat banyak orang berani berbicara tentang kondisi emosional mereka.

Ima menjelaskan tulisannya bukan sekadar teori, melainkan hasil perjalanan hidup yang ia alami.

Ima menambahkan pentingnya ketenangan dalam menghadapi persoalan.

“Kita tidak pernah tahu kapan masalah selesai. Karena itu, kita harus bisa berdamai dengan diri sendiri. Self-healing tidak menjamin sembuh sepenuhnya, tetapi kita harus lebih berdamai dengan diri sendiri,” jelasnya.

Selain membahas pentingnya menjaga kesehatan mental dan fisik secara seimbang, Ima juga menekankan manfaat meditasi sebagai bentuk jeda bagi tubuh dan pikiran.

Menurutnya, meditasi membantu seseorang menghentikan hiruk-pikuk pikiran sehingga lebih mudah menemukan solusi.

Ima turut membahas konsep self-border atau batasan diri, yaitu garis tak terlihat yang kita tetapkan untuk melindungi ruang pribadi, emosi, waktu, dan energi.

Batasan diri dianggap penting untuk mencegah kelelahan emosional dan fisik, serta menjaga kenyamanan dalam berinteraksi dengan orang lain.

Acara diisi dengan sesi berbagi pengalaman dari para peserta, yang semakin memperkaya diskusi mengenai pentingnya kesehatan mental bagi perempuan di era modern.

Sumber Foto: istimewa

Baca Juga: