Akhir 2010 , Ferry Chandra  teringat ibu mertua menghibahkan beberapa set angklung untuk dibawa ke Adelaide. Angklung? apa gerangan Ferry  dihadiahkan alat musik ini itu untuk dibawa?

Ya, Angklung  tidak bisa dilepaskan dari kehidupan Ferry dan Istrinya, Yenny. Maklum saja, Ferry yang  dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta semenjak tahun 1988 sudah mulai aktif bermain angklung beserta sang istri.

Mereka bersama Ibu mertua, istri dan kakak ipar bermain angklung untuk menghibur para lansia di Jakarta. Tahun 1999, Ferry dan istri beserta kedua anaknya pindah ke negara bagian selatan Australia dan tinggal di kota Adelaide.

Kebiasaan menghibur para orang tua terbawa Ferry ke negeri Kanguru. Awalnya dengan alat seadanya, dia  bersama grupnya  angklung yang telah berdiri bulan Maret tahun 2011 wara wiri ber-angklung ria menghibur orang Indonesia di South Australia.

“Pada mulanya kami hanya ingin menghibur para Lansia Indonesia di Adelaide dengan angklung dimana kami sudah biasa menghibur para lansia (di Yayasan Tua Sama Tua di Jakarta). Jadi sebagian angklung- angklung tersebut (milik ibu mertua saya) dihibahkan ke saya untuk dipergunakan dalam hal menghibur Lansia di Adelaide,” tuturnya.

Sekarang Saung Adelindo Angklung  besutannya sudah mulai dikenal bukan saja di Adelaide tetapi di seluruh bagian Australia bahkan sudah berkunjung ke Auckland (New Zealand) di acara Wonderful Indonesia dan juga di Hawaii (AS).

Angklung dipilih Ferry, ada alasannya.  Kebetulan di Adelaide, alat musik traditional lainnya sudah ada komunitasnya seperti Gamelan Jawa, Gamelan Sunda, grup Kendang dan lain sebagainya.

Mempersatukan dengan Harmoni

Nah, misi Ferry beserta Saung Adelindo Angklung, pertama ingin mempersatukan semua lapisan yang ada di Australia dengan bermain bersama dalam harmoni.

“Tidak ada kekesalan maupun hati yang jahat, semua bermain dengan tersenyum dan hati lapang dan mereka bisa menerima perbedaan, bahkan mereka merasa berbeda itu suatu anugerah yang sangat indah,” tuturnya.

Dan kedua, Saung Adelindo Angklung ingin menyatakan kepada Australia bahwa Indonesia adalah suatu tempat yang baik dan nyaman. Jangan hanya hal-hal kecil dibesar-besarkan sehingga bisa memperuncing di kedua negara tersebut yang sebenarnya mereka saling tergantung satu sama lainnya,” tuturnya.

Ferry bercerita Saung Adelindo Angklung terbuka untuk semua orang di Australia. Saungnya telah diresmikan oleh Konsulat Jendral Republik Indonesia di Sydney. Jadi setiap orang boleh datang dan belajar angklung. Pemainnya ada yang dari Australia, Malaysia, dan lain sebagainya.

Namun sebagian besar yang menjadi pemain inti adalah orang-orang dari Indonesia yang menetap di Adelaide.  Latar belakang anggotanya sangat beragam ada dari kalangan anak-anak dimana Saungnya memulainya dari usia sangat dini yaitu 3 tahun dan yang tertua sudah berumur 78 tahun. Ada yang profesi sebagai guru, profesional dan lainnya.

“Pada awalnya kami belajar angklung secara otodidak dan tidak pernah ada pendidikan angklung sebelumnya. Namun setelah kami bermain lebih serius, kami pun belajar ke Saung Udjo dan kami menjadi distributor angklung Saung Udjo,” kata Ferry.

Pentas di Setiap Acara Besar

Saung Adelindo Angklung sudah pentas di setiap acara besar di Adelaide seperti Indofest, OZAsia dan sebagainya. Mereka pun pernah bermain bersama dengan menggunakan angklung dengan jumlah angklung sebanyak 6041 (atas perhitungan dari Guiness World Record) pada tahun 2014.

Selain pentas Adelindo Angklung juga mengajar dan mengajak perform sekolah-sekolah di acara Wonderful Indonesia yang diadakan di Australia. Dalam satu tahun biasanya Adelindo Angklung  dapat pentas sekitar 70 kali per tahun.

Sebagai sebuah kelompok musik, banyak sekali suka duka yang mereka alami. Ferry bercerita sukanya senang sekali kalau pada saat bermain mereka bisa menangis mendengar suara angklung yang sangat merdu. Bahkan di antara orang Indonesia sekalipun ada yang menyatakan kalau mereka juga baru pertama kali bermain angklung bersama-sama.

“Ini adalah suatu kesenangan luar biasa dimana kami bisa share melalui angklung. Dukanya, di sini tidak ada pembantu yang bisa disuruh membantu mengangkat dan menurunkan angklung set kami yang cukup besar,” tutur Ferry.

Akan halnya dengan Lagu yang Adelindo Angklung bawakan cukup banyak ragamnya, secara garis besarnya angklung zaman sekarang bisa memainkan lagu-lagu dengan irama Jazz, Clasic, Pop Barat/Indonesia, Dangdut, Keroncong, jadi semua irama bisa dimainkan.

Dengan banyaknya pentas yang Adelindo Angklung lakukan sampai 70 kali pertahun, bisa dibayangkan antusias warga Australia terhadap angklung tentunya. Contohnya saja saat Acara Singapore Independence mereka minta dimainkan dengan angklung. Acara Malaysia, Africa, Italy, dan lainnya mereka juga selalu minta Adelindo Angklung main di acara mereka. Belum lagi di Nursing home dan juga di retirement village.

“Dan harapan kami kedepannya adalah agar pemerintah Indonesia dan Australia bisa menggunakan Adelindo sebagai sarana untuk menjalin hubungan di antara kedua negara tersebut menjadi lebih baik lagi,” pungkasnya.