Grup tari ini umurnya bukan seumur jagung. Didirikan di tahun 2002, anggotanya kala itu bisa dihitung dengan jari. Kini, anggotanya terus tumbuh. Pentasnya berkembang di banyak tempat di Inggris. Lila Bhawa konsisten terus menari membawa Indonesia dalam setiap gerakannya.

25 Mei 2022 lalu di City University, Lila Bhawa kembali unjuk gigi. Momen yang ditunggu. Maklum akibat pandemi Corona, aktivitas pentas menjadi terganggu. Pertunjukannya ini pun menjadi semacam obat pelepas rindu. Lila Bhawa berbagi pentas dengan Grup Gamelan Bali Lila Cita dibawah pimpinan Andy Channing di City University. Acara yang diselenggarakan oleh Music Department di City University ini digelar dalam rangka mempromosikan musik Indonesia di negara tersebut.

Lila Bhawa bisa dibilan grup tari Indonesia terkemuka di London. Didirikan oleh Ni Made Pujawati pada tahun 2002. Lila Bhawa tampil secara teratur di London di The SouthBank Centre, LSO St. Luke’s, City University, SOAS serta festival dan tempat di seluruh Inggris dan luar negeri. Repertoar yang dibawakan cukup beragam mencakup tarian Jawa dan Bali klasik dan kontemporer serta tarian dari Sunda, Betawi, Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan.

Nah, KABARI beberapa waktu lalu berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan Ni Made Pujawati, Artistic Director of Lila Bhawa dan menanyakan sepak terjang grup tarinya di Inggris. Berikut adalah ini petikannya.

Bisa ceritakan latar belakang berdirinya Lila Bhawa?

Awalnya saya ke Inggris di tahun 2000 untuk belajar Bahasa Inggris. Saya menggunakan kesempatan itu untuk mencari peluang untuk pentas dan mengajar Tari Bali. Latar belakang saya adalah tamatann KOKAR/SMK dan STSI/ISI jurusan Tari Bali. Dari tahun 2000 saya diperbolehkan untuk membuat kelas tari di School of Oriental and African Studies.

Dari kelas itu saya kemudian berhasil mengumpulkan beberapa penari bagus yang kemudian bisa diajak pentas di Inggris. Tanggal 4 Desember 2002 kami diundang oleh Universitas Roehampton untuk mementaskan tari-tarian Bali. Mereka meminta kami untuk membuat nama untuk dipromosikan. Dari rembug penari, yang waktu itu kami terdiri dari 5 orang penari, akhirnya kami sepakat untuk menamakan sanggar Lila Bhawa.

Bagaimana dengan anggota-anggota dari Lila Bhawa?

Anggota kami campuran, ada orang Indonesia, ada anak-anak dari perkawinan campuran (Orang tua Indonesia dan Eropa) Ada juga orang Eropa, Amerika. Kalau orang tua campuran, mereka ingin mengenal lebih jauh tentang kebudayaan orang tuanya. Kalau orang-orang Indonesia yang berada disini, mereka rindu dengan Indonesia dan ingin ikutan terlibat kalau ada acara-acara tentang Indonesia. Apakah itu makanan, tari-tarian, batik dan lain sebagainya.

Soal latihannya seperti apa?

Saya seorang guru tari Bali sebelum datang ke Inggris. Awalnya Lila Bhawa hanya belajar tari-tarian Bali. Lila Bhawa menjadi berkembang dan banyak peminatnya. Sekarang kami mempunyai tiga guru. Andrea Rutkowski, dia tamatan ISI Surakarta. Dia mengajar tari-tarian dari Surakarta dan tari-tarian dari Sumatra. Dewi Ariati keturunan seniman di Bilitar. Dia mengajar tari-tarian dari Sunda, Betawi, Sulawesi dan Kalimantan. Beliau belajar dari guru-guru ternama seperti Didik Nini Thowok, Ibu Irawati Durban Arjo, Ilham Aruna.

Untuk pentas membawakan tarian tradisional dari daerah mana saja?

Tari-tarian yang sudah pernah kita pentaskan adalah tarian Bali, Surakarta, Yogyakarta, Kalimantan, Sumatra, Sunda, Betawi. Kalau berbicara pentas kita dari tahun 2002 sampai saat ini saya pikir yang sering dipentaskan adalah Tari-tarian Bali dan Surakarta. Alasannya karena di Inggris banyak ada Gamelan Bali dan Jawa. Kalau tari-tarian yang lainnya mulai popular dari tahun 2012. Karena guru Widya Rachmawati dari Jakarta mulai memperkenalkan kita dengan tari-tarian dari Betawi dan Sunda. Tapi sayangnya beliau sudah pindah ke Singapura.

Selama ini Lila Bhawa sudah pernah tampil dimana saja?

Kebanyakan Lila Bhawa pentas di sekitar Inggris, apakah diundang orang grup Gamelan, Kedutaan Besar Indonesia, untuk festival-festival atau acara pribadi seperti kawinan. Pernah juga pentas di Jerman, Itali. Sukanya adalah penonton sangat mengapresiasi pentas-pentas kita. Kita banyak menginspirasi penonton untuk bergabung dengan Lila Bhawa. Dukanya adalah hampir semua penari mempunyai pekerjaan masing-masing jadi kalau kita butuh penari di hari kerja atau ada acara mendadak kadang-kadang kita tidak bisa mendapatkan penari. Jadi itu membuat saya sedih karena kehilangan kesempatan.

Cara menjaga eksistensi dari Lila Bhawa?

Kita punya Website, Instagram dan facebook. Web: https://www.lilabhawa.orgIG: https://www.instagram.com/lilabhawauk/?hl=en, FB: https://www.facebook.com/LilaBhawa, Kontak kita juga ada di Kedutaan Besar RI.

Rencana ke depan dari Lila Bhawa?

Semoga Lila Bhawa tetap jaya dan tetap bisa menginspirasi anak muda dan penonton untuk lebih mengenal Indonesia.