Di jantung Menteng, berdiri megah sebuah bangunan warisan sejarah yang sejak awal abad ke-20 menjadi pusat seni dan budaya: Tugu Kunstkring Paleis.
Dahulu dikenal sebagai rumah bagi para seniman dan bangsawan Batavia, gedung heritage bergaya kolonial Belanda ini juga pernah menjadi Gedung Imigrasi Jakarta Pusat — saksi perjalanan panjang kota ini dari masa ke masa.
Kini, di bawah naungan Tugu Hotels & Restaurants, Kunstkring kembali menghidupkan seninya — tidak hanya lewat ruang dan cerita, tetapi juga lewat cita rasa.
Menjadi rumah bagi ragam kuliner Nusantara dan Western yang memikat, kini hadir pula sentuhan baru dari Jepang: Satsuma Gyu
Seni Menikmati Shabu yang Sesungguhnya
Mengusung konsep “The Art of Shabu, Perfected,” Satsuma Gyu menghadirkan pengalaman bersantap shabu yang penuh keanggunan dan keseimbangan rasa.

Menu andalannya menampilkan A5 “4% Miracle” Japanese Wagyu — daging istimewa dari Prefektur Kagoshima, Jepang, yang dikenal sebagai salah satu penghasil wagyu terbaik di dunia — serta Australian High-Grade Beef, keduanya dipasok secara eksklusif oleh Alpha Agro Indonesia, penyedia daging premium terpercaya di Indonesia.
The Satsuma Four Percent Miracle
Terinspirasi dari daerah Satsuma di Kagoshima, setiap potongan wagyu yang dihadirkan melalui proses panjang dan penuh dedikasi. Dari setiap seratus ekor sapi yang dibesarkan dengan perawatan khusus, hanya empat yang mencapai tingkat marbling tertinggi — A5 Grade, sebuah keajaiban langka yang dikenal sebagai The Satsuma Four Percent Miracle.
Marbling halus dan merata inilah yang menciptakan tekstur daging yang lembut, juicy, serta rasa umami yang kaya dan elegan.
Lebih dari sekadar daging premium, Satsuma Gyu mencerminkan filosofi Jepang tentang kesempurnaan, keseimbangan, dan penghormatan terhadap alam — di mana setiap sajian tidak hanya menghadirkan cita rasa, tetapi juga seni dan ketenangan.

Perpaduan Tiga Warisan: Jepang, Belanda, dan Indonesia
Kehadiran Satsuma Gyu di Tugu Kunstkring Paleis membawa semangat tersebut ke dalam konteks budaya Indonesia dan sejarah kolonial Belanda — memadukan tiga warisan: kehalusan tradisi Jepang, kemegahan arsitektur Belanda, dan kekayaan rasa Nusantara dalam satu pengalaman kuliner yang harmonis.
Terletak di dalam bangunan bersejarah yang dahulu menjadi tempat pertemuan para seniman dan tokoh internasional, Satsuma Gyu kini menjadi simbol perpaduan antara warisan, keindahan, dan kesempurnaan rasa — menghadirkan pengalaman bersantap yang tidak hanya mewah, tetapi juga penuh makna dan cerita.
Sebagai perayaan pembukaan, Satsuma Gyu menawarkan opening promo — Diskon 20% untuk seluruh menu selama bulan November 2025.
Artikel ini juga dapat dibaca di Majalah Digital Kabari Edisi 221
Baca Juga:
- Label Fashion Indonesia Fuguku Dipakai Shirley Manson Saat Tampil Bersama Garbage
- 5 Cara Efektif Meningkatkan Keamanan Siber di Era Digital
- Ingin Mulai Investasi Kripto? Upbit Indonesia Bagikan 5 Langkah untuk Pemula
- Rahasia Perawatan Ayu Dewi, dari Body Rejuvenation hingga Redensity 1
- Tak Hanya Jago Catwalk, Hillary Marineth Segera Luncurkan Single Baru Berjudul Doa

