Program Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang tengah dipercepat pemerintah melalui Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) mencatat lonjakan minat yang signifikan pada proses seleksi terbaru.

Pada gelombang kedua Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) yang diumumkan 21 Mei 2026, jumlah peserta yang lolos mencapai 85 entitas. Angka ini melonjak lebih dari 254 persen dibanding gelombang pertama yang diikuti oleh 24 peserta.

Lonjakan tersebut menjadi sinyal bahwa persoalan sampah Indonesia tidak lagi dipandang semata sebagai masalah lingkungan, tetapi juga sebagai sektor infrastruktur yang memiliki potensi investasi besar dalam beberapa tahun ke depan.

Di tengah kondisi tempat pemrosesan akhir (TPA) yang semakin penuh di berbagai daerah, program WtE ini mulai diposisikan sebagai salah satu solusi jangka panjang untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus menghasilkan energi listrik.

Menariknya, minat terhadap proyek WtE tidak hanya datang dari perusahaan dalam negeri. Peserta DPT gelombang kedua ini berasal dari berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Prancis, India, Singapura, Tiongkok, hingga sejumlah pemain regional lainnya. Artinya, isu pengelolaan sampah di Indonesia kini masuk dalam perhatian pelaku industri energi dan lingkungan global.

Arena Kompetisi Global

Berbeda dengan pendekatan konvensional yang hanya memindahkan sampah ke TPA, teknologi WtE ini dirancang untuk mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan listrik dari hasil pengolahannya. Praktisi dan pemerhati energi Feiral Rizky Batubara menilai pendekatan terhadap proyek ini perlu ditempatkan dalam konteks penyelesaian darurat sampah nasional.

“Waste-to-Energy harus dipahami sebagai langkah awal yang pragmatis untuk mengembalikan kendali atas persoalan sampah nasional,” ujarnya.

Feiral menilai fungsi utama WtE seharusnya dilihat sebagai instrumen penyelamatan lingkungan, sementara listrik yang dihasilkan merupakan manfaat tambahan dari proses tersebut. Keberhasilan proyek WtE akan sangat ditentukan oleh transparansi tata kelola, kepastian regulasi, dan keberlanjutan pembiayaan hijau. “Proyek seperti Waste-to-Energy ini membutuhkan kombinasi teknologi, pembiayaan, dan tata kelola yang benar-benar matang,” ujarnya.

Semakin Beragam

Meningkatnya jumlah peserta dalam DPT gelombang kedua juga menunjukkan bahwa proyek PSEL Indonesia kini dipandang sebagai pasar yang semakin serius.

Jika pada tahap awal peserta masih terbatas, kini semakin banyak perusahaan dengan pengalaman internasional yang ikut dalam kompetisi. Di antaranya berasal dari negara yang memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan sampah berbasis energi, termasuk Jepang dan Korea Selatan yang dikenal mengembangkan teknologi insinerasi modern dengan standar emisi ketat. Masuknya perusahaan dari Eropa dan Tiongkok juga menambah keragaman kapabilitas dan pengalaman teknologi, khususnya dalam pengelolaan lingkungan dan efisiensi energi perkotaan.

Keragaman peserta tersebut dinilai penting karena karakter sampah Indonesia tergolong kompleks. Tingginya kandungan organik dan rendahnya pemilahan dari sumber membuat teknologi pengolahan harus benar-benar disesuaikan dengan kondisi lokal. Dalam konteks itu, proses seleksi menjadi lebih relevan jika bertumpu pada pengalaman teknis dan rekam jejak pengelolaan sampah, bukan semata asal negara perusahaan.

CEO Denera sekaligus Director Investment DIM, Fadli Rahman, mengatakan peningkatan jumlah peserta lokal maupun mancanegara mencerminkan besarnya potensi bisnis program WtE ini. Menurut Fadli, kehadiran peserta dari dalam maupun luar negeri menunjukkan bahwa program ini memiliki daya tarik investasi yang kuat jika dijalankan dengan tata kelola yang kredibel.

“Untuk itu kami terus berkomitmen untuk memastikan bahwa seluruh proses seleksi mitra WtE ini dilakukan secara transparan dan kompetitif,” katanya.

Meski jumlah peserta melonjak tajam, proses proyek WtE ini masih berada pada tahap awal. DPT merupakan proses prakualifikasi yang berarti perusahaan-perusahaan tersebut masih akan melewati sejumlah proses sampai mendapatkan proyek. Tahap berikutnya akan mencakup evaluasi teknis, kesiapan pembiayaan, kesesuaian teknologi, hingga kemampuan operasional di lapangan.

Sumber Foto: Istimewa

Baca Juga: