Perancang busana asal Aceh, Syukriah Rusydi, memandang kecerdasan buatan (AI) sebagai alat bantu yang bermanfaat dalam dunia mode. Menurutnya, AI bisa menjadi sarana luar biasa untuk riset dan eksplorasi ide, namun tetap tidak bisa menggantikan sentuhan manusia.

“Fashion tetap butuh sentuhan manusia, nilai budaya, cerita, dan pengalaman hidup desainer yang nggak bisa digantikan sama AI. Jadi AI hanya sebagai alat bantu untuk mengembangkan kreativitas, bukan pengganti,” ujar Syukriah.

Ia menambahkan, sebelum adanya teknologi AI, proses eksplorasi ide bisa memakan waktu lebih lama. Kini, dengan adanya tools digital, proses riset menjadi lebih cepat. Meski begitu, Syukriah menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangannya sebagai desainer. “Rancangan utama tetap lahir dari tangan dan imajinasi saya sendiri,” tuturnya.

Syukriah Rusydi bersama sang suami, Ata Amarullah, mendirikan label mode Reborn29 pada tahun 2011. Sejak berdiri, brand ini konsisten mengangkat nilai budaya Aceh dalam desainnya. Pada Maret lalu, Reborn29 berkesempatan tampil di runway Moscow Fashion Week dengan konsep sustainable fashion yang memadukan tradisi dan inovasi.

Atas dedikasinya dalam mengangkat wastra Nusantara, khususnya tenun Aceh, ke panggung internasional, Syukriah Rusydi tahun ini dianugerahi penghargaan sebagai Perancang Busana Islami Fashionable Go International dari Pemerintah Kota Banda Aceh.

Sumber Foto: Istimewa

Baca Juga: