Pengamat musik Harry Koko Santoso menilai prestasi musik Tanah Air di kancah internasional masih belum mengalami perkembangan signifikan. Ia menyebut valuasi musisi Indonesia di pasar global masih “jalan di tempat”, meskipun Indonesia memiliki sejarah panjang dalam industri musik sejak era Koes Plus hingga God Bless.

Menurut Harry, hingga saat ini belum ada musisi Indonesia yang mendapatkan bayaran konser mencapai USD 100 ribu atau sekitar Rp1,5 miliar ketika tampil di luar negeri. Hal tersebut, menurutnya, menunjukkan nilai komersial musisi Indonesia di pasar internasional masih tergolong rendah.

“Kalau kita jujur melihat kondisi industri musik Indonesia, dari sisi valuasi internasional kita masih jalan di tempat. Sampai hari ini tidak ada musisi Indonesia yang dibayar USD 100.000 saat tampil di luar negeri,” ujar Harry Koko Santoso dalam diskusi industri musik bertajuk “Beda Masa Satu Rasa” di CC Cafe at Nancy’s Place, Kamis (5/3/2026).

Ia juga menyoroti ketimpangan arus industri musik antara Indonesia dan luar negeri. Berdasarkan data industri, lebih dari 2.000 artis asing tercatat tampil di Indonesia sejak 2023 hingga menjelang 2026. Konser-konser tersebut disebut menghasilkan transaksi hingga jutaan dolar Amerika Serikat yang pada akhirnya mengalir keluar dari Indonesia.

Sementara itu, musisi Indonesia yang tampil di luar negeri dinilai belum mampu menciptakan dampak ekonomi yang setara. Harry menilai sebagian besar konser musisi Tanah Air di luar negeri masih menyasar komunitas diaspora atau pekerja migran Indonesia, bukan pasar komersial internasional yang lebih luas.

“Pasarnya masih komunitas kita sendiri. Belum benar-benar menembus pasar komersial internasional,” katanya.

Harry juga menyoroti peran perusahaan-perusahaan besar di Indonesia, termasuk korporasi yang tercatat di bursa saham. Ia menilai banyak perusahaan dengan keuntungan triliunan rupiah setiap tahun justru lebih memilih menjadi sponsor konser artis luar negeri dibanding mendukung musisi lokal.

Menurutnya, dukungan terhadap musisi Indonesia seharusnya dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk memperkuat ekosistem industri musik nasional.

“Mendukung musisi lokal itu bukan sedekah. Itu investasi. Kalau industrinya besar, semua pihak juga akan menikmati manfaatnya,” ujar Harry.

Ia berharap ke depan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan sektor swasta dapat mendorong musisi Indonesia untuk memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar internasional sekaligus memperbesar kontribusi ekonomi dari sektor musik nasional.

Sumber Foto: Istimewa

Baca Juga: