Berawal dari kegemarannya mengamati tren kuliner, Jane Lim melihat peluang unik yang belum banyak digarap di Jakarta: mochi dengan isian es krim.

 “Saya pikir mochi itu sudah cukup familiar di Indonesia, dari yang tradisional berisi kacang sampai yang mulai berkembang dengan isian buah-buahan ala Korea. Tapi waktu itu saya belum melihat yang berupa mochi ice cream, dari situ kita coba bikin Mochi Ice Cream,” ujar Jane mengenang awal mula lahirnya Mochilatto.

 Ia pun tak sekadar mengikuti tren, melainkan memilih menggarap semuanya secara mandiri—mulai dari adonan mochi hingga es krim dengan bahan premium tanpa pemanis buatan maupun essence.

“Rasa strawberry, duren, mangga itu benar-benar dari buah asli yang kita olah sendiri. Cokelatnya pun pakai cokelat premium. Itu yang membedakan Mochilatto dengan yang ada di pasaran,” tegasnya.

Soal varian, Jane menyebut selera konsumen cukup beragam meski ada tiga rasa yang kerap jadi favorit.

 “Secara overall, yang paling sering dicari itu Dark Chocolate, Matcha, dan Cheese cake Tapi di setiap tempat bisa beda-beda. Jadi hampir semua rasa punya peminatnya sendiri,” katanya.

Di balik antusiasme pasar, tantangan tetap hadir terutama pada sumber daya manusia. “Karena ini brand baru dan saya mulai dari bazaar, tantangan paling kerasa itu SDM. Mencari tim yang bisa dipercaya dan punya loyalitas untuk sama-sama membesarkan Mochilatto,” ungkap Jane.

Sejak awal, Mochilatto mengandalkan strategi “jemput bola” dengan berkeliling dari satu bazaar ke bazaar lain, bahkan dari gedung perkantoran ke gedung perkantoran.

Simak liputan Kabari dibawah ini