Ramadan dan Lebaran selalu menjadi peluang yang menjanjikan bagi setiap pelaku usaha. Salma Cookies pun meraih peruntungan di Hari Raya ini.

Diceritakan Meni Hapsari, selaku Owner Salma Cookies, biasanya satu bulan sebelum bulan Ramadhan, ia mulai mengunggah promosi ke media sosial terkait jenis dan harga kue yang akan dijual. ”Tahun ini di awal Februari kita sudah mulai promosi, kita sudah mulai posting iklan, dan juga menyebarkan daftar harga dan jenis kuenya. Kita open pre order kue kering di pertengahan Februari dan biasanya kita sudah tutup di bulan Maret, sekitar tanggal 10-an. Kita  sudah tutup pre order,  karena biasanya mendekati Hari Raya masih banyak pesanan – pesanan yang mendadak, jadi takutnya kita tidak ke kejar jadi kita tutup lebih awal,” cerita Meni kepada Kabari.

Untuk tahun ini, Salma Cookies menawarkan 13 macam kue kering, mulai dari kastengel, putri salju, nastar, cokelat kacang, finger chocolate, finger original, hazelnut cheese dan masih banyak lagi. ”Yang paling best seller selalu nastar, yang kedua itu ada hazelnut cheese, dan yang ketiga kastengel. Nastar buatan kita, pendapat orang-orang yang pesan karena nastar kita itu masih rasa klasik, kayak jaman dulu. Kalau kastengel, karena teksturnya yang crunchy, dan kejunya berasa banget. Terus yang hazelnut cheese itu, karena ada paduan cokelat hazelnut, sama rasa keju yang manis gurih. Jadi banyak sekali peminatnya,” tuturnya.

Harga aneka kue kering buatan Meni, antara 110k sampai 175k. Contohnya kastengel  harga Rp 170k, lalu ada palm sugar cheese 155k, kemudian best sellernya anak-anak, chocolate finger 140k, dan nastar klasik dengan isian nanas yang melimpah harga 165k.

Diakui Meni, menjelang Idul Fitri memang permintaan kue kering meningkat pesat. ”Kalau untuk Lebaran ini memang peningkatannya bagus, maksudnya sangat beda dengan hari – hari biasa,” kata Meni.

Saat permintaan meningkat seperti ini, biasanya Meni dibantu dua orang karyawan. ”Alhamdulillah bisa ke kejar untuk meyelesaikan pesanan-pesanan para konsumen ini,” tukas Meni.

Untuk momen Lebaran seperti ini, apakah ada teknik marketing khusus yang dilakukan Meni? ”Untuk pemasaran di musim Lebaran ini, saya lebih aktif di beberapa media sosial seperti Instagram, Facebook,  dan WhatsApp. Setiap hari saya rutin sekali untuk posting, untuk promosi. Kebetulan kemarin saya sempat ikutan bazzar, Alhamdulillah responnya juga bagus. Ada konsumen baru pertama kali nyobain almond cookies pada saat mereka beli di pameran, Alhamdulillahnya mereka langsung order lagi untuk Lebaran nanti,” kata Meni bersyukur.

Tahun ini, meski pesanan meningkat, Meni mengakui harga bahan baku meningkat pesat dibanding tahun lalu. ”Bukan hanya saya saja tetapi beberapa teman-teman juga yang produksi kue kering mengeluh karena naiknya jauh banget dibandingkan tahun lalu. Karena itu, saya harus memikirkan cara agar harga kue tidak terlalu mahal tapi tetap dengan kualitas yang seperti biasanya saya buat,” terang Meni.

Selain kue kering, Meni juga menerima pesanan kue basah, hanya 3 jenis saja, yakni marmer cake, prol tape dan brownies panggang. ”Untuk saat ini, 3 jenis ini yang paling banyak dipesan,” kata Meni.

Selain kue kering dan kue basah, Meni juga menyediakan hampers. ”Awalnya kita menjual per toples tapi makin ke sini, banyak yang mencari dalam kemasan hampers. Jadi kita mencoba menyediakan hampers. Misalnya hampers isinya 3 toples masing-masing 350 gr, harga 295k,  ada juga kemasan 2 toples, masing-masing 500 gram. Isinya terserah permintaan konsumen, misalnya ada yang minta kastengen sama nastar, oke kita buatin. Jadi  hitungannya kita jual sesuai harga per toples, hanya mereka nambah untuk biaya box sama kartu aja,” kata Meni.

Meni bersyukur usahanya sudah halal MUI. ”Alhamdulillah kita sekarang sudah halal MUI jadi InsyaAllah kue-kue kita aman untuk di konsumsi,” pungkas Meni.

Artikel ini juga dapat dibaca di Majalah Digital Kabari Edisi 212

Simak wawancara wawnacara Kabari bersama Meni Hapsari dibawah ini.