Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day (IWD) merupakan momen penting yang diperingati setiap tanggal 8 Maret.  Dari laman UN Women, Tema IWD tahun ini adalah Give to Gain dengan fokus meningkatkan kesadaran tentang kesetaraan gender. 

Hari Perempuan Internasional diperingati untuk mendorong individu terutama perempuan untuk lebih menyumbangkan waktu, sumber daya yang ada, advokasi, dan memberikan bimbingan untuk menciptakan dunia yang lebih inklusif. Peringatan ini juga sekaligus menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk mencapai kesetaraan gender masih membutuhkan komitmen dan tindakan dari semua pihak.

Berkaitan dengan Hari Perempuan Internasional, Kabari memiliki kesempatan berbincang santai dengan topik menarik bersama Nukila Evanty. Nukila, perempuan tangguh asal Bagansiapi-api Riau ini memiliki jejak panjang sebagai aktivis sekaligus budayawan. Dalam beberapa tahun terakhir, Nukila melakukan advokasi intens terhadap suku laut, suku yang eksistensi makin sedikit. Lalu apa alasan Nukila melakukan advokasi terhadap suku laut ini?

“Saya mengadvokasi suku laut berasal dari kecintaan terhadap laut dan saya lahir di pesisir pulau, menikmati laut sewaktu kecil, menikmati kampung nelayan yang dahulu adalah penghasil ikan terbesar di dunia setelah Bergen di Norwegia,” ujar Nukila, Ketua Inisiasi Masyarakat Adat (IMA). “Saya menemukan banyak sekali ketidakadilan saat mengadvokasi suku laut,” sambungnya.

Saat ini suku laut tersebar di beberapa daerah. Ada di Pulau Rempang-Galang,  Bintan, Lingga, Karimun, Natuna dan Anambas. “Situasi mereka saat ini sangat sulit karena mereka ini adalah masyarakat adat. Dalam arti orang – orang yang beribu – ribu tahun lalu adalah penghuni lautan, tapi dengan banyaknya industri ekstraktif, proyek pengerukan pasir, dan proyek pembangunan sehingga menggerus mereka dan tempat tinggalnya. Makin susah mereka mencari ikan, sehingga berdampak pada penghasilan ekonomi keluarga. Ini membuat angka kemiskinan meningkat,” jelas Direktur Eksekutif Women Working Group (WWG).

Saat melakukan advokasi, Nukila menghadapi berbagai tantangan. “Tantangan paling utama adalah personal security. Sebagai perempuan yang mengadvokasi, saya dibuntuti bahkan dikorek data personalku dengan tujuan agar saya mundur dan diam. Tantangan lain, kita berhadapan dengan pebisnis besar, termasuk oknum penegak hukum yang merasa terganggu karena dia mendapatkan keuntungan dari bisnis ekstraktif ini,” tukas International Board of Directors CBD (Convention of Biodiversity) Women Caucus.

Saat melakukan advokasi, tidak semua masyarakat menyambut para aktivitis dengan baik. “Karena dalam masyarakat adat juga terbagi, ada yang pro dan kontra pembangunan. Bagi masyarakat yang pro, proyek dianggap akan menciptakan lapangan kerja, tersedianya infrastruktur seperti jalan dan layanan buat masyarakat tersedia, misalnya listrik.

Nah, kalau masyarakat yang kontra karena kekhawatiran merusak lingkungan termasuk air bersih dan merusak budaya atau tradisi yang dipertahankan dari leluhur. Hal lain yang saya temui adalah tidak adanya dukungan dari stakeholder seperti Kepala Desa, Bupati, atau Gubernur, termasuk para pebisnis atau pihak perusahaan. Padahal komunikasi itu perlu sehingga pihak pemerintah bisa mendengarkan aspirasi serta kebutuhan masyarakat adat,” jelasnya.

Keberadaan suku laut harus dijaga. Karena mereka adalah penjaga laut sejak ribuan tahun lalu. Indonesia 71 persen dikelilingi laut dan 29 persen darat. Karena itu, perlakuan terhadap keberadaan mereka sangat penting. Suku laut adalah penjaga keberagaman ekosistem di laut, mulai dari jenis-jenis ikan di laut termasuk terumbu karang, lamun, rumput laut hingga mangrove. Suku laut bersahabat dengan alam. Karena mereka tahu bahwa laut adalah identitas budaya, rumah, spiritual dan sumber makanan.

Tak hanya melakukan advokasi bagi suku laut, dalam 20 tahun terakhir, Nukila juga fokus pada pemberdayaan perempuan. Lalu sebagai aktivitis perempuan, apa makna Hari Perempuan International bagi Nukila?

“Perayaan Hari Perempuan Internasional itu penting, karena perempuan merupakan separuh dari populasi dunia, mereka punya kebutuhan, dan kurangnya akses partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan. Dalam konteks suku laut, perempuan mengumpulkan ikan yang ditangkap oleh suami atau ayah mereka, mereka mengolah ikan tersebut untuk makanan bagi keluarga tetapi perempuan juga sebagai penjaga laut dan pengetahuan leluhur. Suku laut punya kemampuan mengamati dan menafsirkan angin, gelombang, pergerakan burung, perilaku matahari dan bintang di laut untuk keselamatan dan tujuan lainnya. Penting bagi generasi sekarang, bahwa kita tidak hanya hidup di daratan tetapi harus tahu kehidupan di laut,” tegasnya.

Dalam konteks partisipasi perempuan, Nukila selalu mengajak agar sesama perempuan saling mendukung. Di dunia yang terlalu patriarki, banyak misoginis atau pembenci perempuan, maka penting agar perempuan memiliki solidaritas bagi kaumnya.

“Isu pendidikan yang belum merata, kerja perempuan yang tidak dihargai, risiko keselamatan perempuan akibat cuaca ekstrem dan bencana, hilangnya mata pencaharian karena erosi pantai, terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan dan air bersih, serta kurangnya ruang aman bagi perempuan. Saat seorang perempuan telah menduduki jabatan yang tinggi dan memiliki privilege besar maka dia harus mengingat perempuan lain dan secara aktif mengangkat, membimbing dan mendukung perempuan, sehingga memperkuat seluruh komunitas. Kita harus punya empati terhadap perempuan lain, karena masih banyak perempuan yang dimiskinkan secara struktur, padahal mereka punya hak yang sama dengan kita. Perempuan bahagia maka masyarakat dunia juga menjadi bahagia,” ungkapnya.

Nukila pun berharap melalui Hari Perempuan Internasional ini menjadi momentum bagi setiap perempuan untuk berani bersuara agar semakin sedikit kaum marjinal perempuan. “Karena perempuan selalu memikirkan generasi selanjutnya, yaitu anak-anaknya. Mari bersuara untuk perubahan kehidupan perempuan,” pungkasnya.

Simak Liputan Kabari dibawah ini